Depok (ANTARA) - Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) membahas penguatan standar fisika medis.
Dekan FMIPA UI Prof. Dede Djuhana di Depok, Rabu menegaskan perlunya standar kompetensi yang ketat di tengah lonjakan layanan radiologi diagnostik, kedokteran nuklir, dan radioterapi di Indonesia.
Ketiga berkolaborasi menggelar workshop dengan tema "International Workshop on Certification of Medical Physicists”.
Dede mengatakan kegiatan ini menandai langkah strategis untuk memperkuat sistem sertifikasi fisikawan medik di kawasan Asia dan Timur Tengah di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan berbasis teknologi radiasi.
“Perkembangan teknologi kesehatan menuntut fisikawan medik yang benar-benar terlatih dan tersertifikasi. Workshop ini menjadi momentum penting untuk memastikan kompetensi di Indonesia dan kawasan sejalan dengan standar internasional,” kata Prof. Dede.
Baca juga: UI paparkan model kolaborasi kelembagaan ekonomi transmigrasi Barelang
Baca juga: Rektor UI tekankan pentingnya kolaborasi Indonesia- dan China
Menurut dia Indonesia saat ini menghadapi kesenjangan antara pertumbuhan fasilitas kesehatan berbasis radiasi dan jumlah fisikawan medik bersertifikasi.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah untuk memperketat standar keselamatan pasien, sehingga skema sertifikasi menjadi kebutuhan mendesak.
Keterlibatan aktif FMIPA UI dalam forum berskala internasional itu menjadi bukti komitmen UI dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan berbasis radiasi di Indonesia.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula penyerahan sertifikat kompetensi kepada 18 lulusan residensi fisikawan medik spesialis radiologi diagnostik dan radioterapi, yang kini bertugas di berbagai rumah sakit nasional.
Baca juga: UI dan Komdigi jajaki kolaborasi pelatihan dan penelitian bidang AI
Agenda tersebut menjadi bukti konkret kontribusi FMIPA UI terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang fisika medis, sekaligus memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional dan meningkatkan keselamatan radiasi di fasilitas medis Indonesia.
Local Director acara tersebut, Prof. Supriyanto Ardjo Pawiro menyatakan bahwa forum itu membuka akses Indonesia terhadap praktik terbaik internasional sekaligus memperkuat posisi nasional dalam jejaring profesional fisika medis global.
“Pertemuan ini memberikan ruang dialog penting untuk menyamakan persepsi mengenai kompetensi profesional fisikawan medik. Indonesia dapat belajar sekaligus berkontribusi dalam penyusunan rekomendasi regional,” ungkap Prof. Supriyanto.
