Jakarta (ANTARA) - Di dunia profesional saat ini, persaingan di pasar kerja merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap tahunnya, puluhan ribu lulusan baru dari berbagai universitas di seluruh Indonesia memasuki pasar kerja, menciptakan kompetisi yang semakin ketat bagi setiap pencari kerja.
Perbedaan kecil dalam cara berkomunikasi, atau bahkan cara mereka menampilkan diri dapat menjadi faktor penentu dalam proses rekrutmen.
Apalagi, dunia kerja saat ini tidak hanya menuntut kompetensi akademik, tetapi juga personal branding dan professional presence.
Untuk menjawab tantangan tersebut, President University berkomitmen mempersiapkan mahasiswa secara menyeluruh, bukan hanya dengan memperkuat aspek akademis dan memberikan pengalaman praktis, tetapi juga dengan membekali mereka keterampilan non-akademis yang mendukung pengembangan diri.
Salah satunya dengan mengadakan kelas Fashion for Professionals.
Personal-Branding di Dunia Profesional
Bekerjasama dengan PT Mustika Ratu Tbk dan Yayasan Puteri Indonesia, kelas Fashion for Professionals tidak hanya akan mengajarkan cara berpakaian yang sesuai untuk keperluan profesional, namun juga bagaimana cara melakukan personal-branding dan menggunakannya untuk meningkatkan kesempatan mereka di masa depan.
Di era modern saat ini, personal-branding sudah menjadi suatu kebutuhan yang menentukan bagaimana seorang individu dipandang oleh dunia profesional.
Dengan personal-branding, seseorang dapat membangun citra diri yang positif, meningkatkan kepercayaan orang lain, dan menunjukkan kemampuan mereka ke masyarakat luas.
Bagi para pencari kerja, hal ini menjadi semakin krusial karena kompetisi yang dihadapi tidak hanya sebatas kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga bagaimana mereka mampu menunjukkan identitas unik yang membedakan diri mereka dari ribuan kandidat lainnya.
Dengan menerapkan cara berpenampilan yang baik di lingkungan profesional, hal ini dapat mendukung perkembangan karir para mahasiswa kedepannya.
Dalam proses rekrutmen, banyak perusahaan kini menaruh perhatian besar pada aspek personal-branding dan professional presence calon karyawan.
Perekrut tidak hanya melihat isi CV atau pengalaman kerja, tetapi juga bagaimana kandidat menampilkan dirinya. Mulai dari cara berpakaian, bahasa tubuh, gaya komunikasi, hingga konsistensi mereka dalam menggunakan platform profesional seperti LinkedIn.
Personal-branding yang kuat memberikan kesan profesional, percaya diri, dan kesiapan untuk menjadi representasi positif bagi perusahaan. Memciptakan professional presence yang kuat.
Bagi mahasiswa atau lulusan baru, hal ini sangat berharga karena mereka biasanya belum memiliki pengalaman panjang, sehingga personal-branding menjadi salah satu modal utama untuk memperkenalkan diri kepada dunia kerja dan memberikan kesan yang unik.
Dalam kelas yang diajarkannya, Salma Ranggita Cahyariyani—Puteri Indonesia Pariwisata 2025—menjelaskan bahwa dalam tujuh detik pertama bertemu, orang cenderung sudah membentuk persepsi yang sulit diubah.
Tujuh detik inilah yang menjadi kunci penting dalam suatu interview. Bagaimana seseorang berpenampilan dan membawa dirinya dapat menjadi kunci penentu apakah dia akan direkrut oleh suatu perusahaan.
“Penampilanmu dapat mempengaruhi pandangan orang lain terhadap kepercayaan diri dan profesionalisme seseorang. Oleh karena itu, penting untuk menjaga penampilanmu setiap waktu,” tegas Syafira Mardhiyah, Puteri Indonesia Kebudayaan 2025 pada Senin (15/9/2025).
Selain itu, personal-branding berperan penting dalam membangun kepercayaan, baik di lingkungan kerja maupun jejaring profesional. Individu yang mampu menunjukkan citra diri yang jelas akan lebih mudah dikenali dan diingat oleh orang lain, sehingga peluang untuk menjalin koneksi, mendapatkan rekomendasi, atau bahkan ditawarkan kesempatan kerja akan semakin besar.
Personal-Branding untuk Diri Sendiri
Meskipun personal-branding sering kali dikaitkan dengan professional presence, pada kenyataannya personal-branding mencakup lebih dari hanya membangun citra profesional.
Karena inilah President University menghadirkan para Puteri Indonesia, tokoh-tokoh yang terbukti telah memiliki personal-branding yang kuat.
Untuk menjadi seorang Puteri Indonesia, penampilan yang baik tidaklah cukup. Para individu yang terpilih sebagai Puteri Indonesia tidak hanya memiliki personal-branding yang kuat, namun juga etiket yang baik dan pengetahuan yang mendalam.
Pada dasarnya, personal-branding bukanlah sesuatu yang dilakukan hanya untuk sementara. Untuk membangun personal-branding yang kuat, komitmen sangatlah diperlukan karena hal ini berhubungan erat dengan citra seorang individu.
Citra positif ini dapat terus diperkuat dengan kinerja sehari-hari seseorang, begitu juga sebaliknya. Penurunan kinerja dapat berdampak negatif ke citra positif yang sudah susah payah dibangun.
Untuk menjaga kestabilan kinerja, penting bagi seorang individu untuk menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan emosional mereka.
Untuk menjaga kesejahteraan fisik, mental, maupun emosional bukanlah sesuatu yang mudah, namun hal ini merupakan suatu hal yang sangat penting.
Melliza Xaviera Putri Yulian—Puteri Indonesia Lingkungan 2025—menekankan bahwa kesejahteraan bukanlah suatu hal yang dapat dikesampingkan.
“Ini adalah hal yang diperlukan jika menginginkan kinerja yang optimal,” tegasnya.
Maharani Divaningtyas—Putri Inovasi dan Teknologi Indonesia 2025 juga menyamoaikan bahwa berpenampilan baik bukan hanya sekadar dilakukan untuk personal-branding.
“Jika kalian menjaga diri dengan baik, hal ini adalah bentuk menghargai dirimu sendiri,” ungkapnya.
Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, menjaga penampilan dapat menjadi sumber kepuasan tersendiri. Berpenampilan baik tidaklah menjadi sebuah beban, justru karena dilakukan untuk diri sendiri, seseorang bisa melakukannya dengan lebih konsisten.
Lebih lanjut, Maharani menegaskan bahwa penampilan tidak hanya berguna sebagai sarana personal-branding, tetapi juga mampu meningkatkan rasa percaya diri, bahkan di luar lingkup profesional.
Pandangan ini diperkuat oleh Firsta Yufi Amarta Putri, Juara Puteri Indonesia 2025, yang menekankan pentingnya selalu menjaga penampilan, pasalnya kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengan rekan-rekan atau koneksi penting di luar pekerjaan.
“Dengan begitu kita juga akan selalu siap,” ujarnya.
Menurut Ferawati Natalita, S.H., LL.M.—dosen pengampu kelas Fashion for Professionals—merasakan bahwa perubahan para mahasiswa sangatlah terlihat.
“Jika sebelumnya mereka berpakaian santai, menggunakan sepatu kasual, dan tampil apa adanya, kini mereka jauh lebih rapi, bersih, memperhatikan grooming, hingga tampil lebih percaya diri,” ucapnya bangga.
Setelah mengikuti kelas Fashion for Professionals, Alexander Harry—mahasiswa dari program studi Hubungan Internasional Angkatan 2023—merasa bahwa kelas ini sangat berguna untuknya yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti program magang.
“Dari kelas Fashion for Professionals, saya memperlajari penntingnya berpenampilan yang baik. Seseorang bisa diperlakukan berbeda hanya karena cara berpakaian mereka,” ucapnya.
Alexander pun menceritakan bahwa ia sudah mulai menerapkan pelajaran yang ia dapatkan di kelas Fashion for Professionals di kehidupannya sehari-hari.
Pengetahuan mengenai fashion dan juga cara untuk melakukan personal branding memang sudah lama menjadi bagian dari kurikulum President University.
Dengan suksesnya inisiatif ini, pengetahuan mengenai fashion dan juga personal branding akan semakin diintegrasikan ke kurikulum yang ada.
Selain mempelajarinya di mata kuliah Fashion for Professionals, pelajaran ini akan dipelajari oleh para mahasiswa sejak di semester pertama di mata kuliah wajib universitas yaitu Economic Survival.
Hal ini akan memberikan waktu bagi para mahasiswa untuk memantapkan pengetahuan mereka mengenai cara berpakaian di dunia profesional dan juga personal-branding mereka.
