Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah , Abdul Mu’ti menegaskan guru serta penguatan keterampilan lunak non-teknis (soft skill) berperan penting dalam mendukung keberhasilan program Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan.
Menurut Mu’ti, keberhasilan revitalisasi SMK tidak hanya ditentukan oleh modernisasi sarana, tetapi terutama kualitas pendidik dan tenaga kependidikan.
“Peralatan canggih hanya akan menjadi pendukung jika guru tidak hadir sebagai pendidik yang profesional, kompeten, dan bermoral. Guru SMK harus menjadi fasilitator sekaligus pembimbing, bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga agen peradaban yang mentransfer nilai, akhlak, dan karakter,” kata Mu'ti di Jakarta, Selasa.
Ia menekankan soft skill, seperti etos kerja, kemandirian, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi di era digital juga penting. Ia mengingatkan agar SMK tidak hanya menghasilkan pencari kerja, namun juga pencipta lapangan kerja.
“Revitalisasi SMK adalah ikhtiar bersama untuk mengubah stigma negatif dan menjadikan SMK sebagai pusat lahirnya generasi mandiri, kreatif, dan berdaya saing global,” katanya.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Diksi PKLK) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin melaporkan perkembangan pelaksanaan program Revitalisasi SMK hingga tahap ke-8.
Menurut Tatang, sebanyak 1.257 SMK telah menerima bimbingan teknis (bimtek) revitalisasi dari target awal 767 sekolah yang menjangkau 34 provinsi.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina KabanEditor : Budi Setiawanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.