IPB-Ditantang-Bisa-Membuat-Laboratorium-Ekowisata-Bogor, 24/4 (ANTARA) - Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Event Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Achyaruddin menantang
Institut Pertanian Bogor mempunyai laboratorium ekowisata.
"Laboratorium Ekowisata itu bukan sekadar dapat meluluskan sarjana S2 dan S3 melainkan di dalamnya ada proses pembelajaran di mana masyarakat bisa melihat aplikasi teori dan praktiknya," katanya pada lokakarya bertema "Optimasi Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJL) di Fakultas Kehutanan IPB, Kampus Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa.
Dalam lokakarya yang dibuka Dekan Fahutan Prof Bambang Hero Saharjo itu, juga dihadirkan beberapa narasumber yakni Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Ditjen PHKA Kemenhut Bambang Supriyanto, Ketua Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APPI) David Makes, dan Adi Buana, yang mewakili Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto.
Kemudian, mantan Kasubid Taman Nasional Dephut 1986-1988 Adjat Sudradjat yang kini menjadi praktisi, serta Ketua Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan Fahutan IPB Dr Ir Ricky Avenzora, MSc.F.
Menurut Achyaruddin, jika IPB mempunyai laboratorium ekowisata, maka akan menjadi rujukan paripurna, yakni secara teori maupun praktik.
Ia mengemukakan bahwa dalam ekowisata itu terkandung dua hal, yakni alam dan budaya, sehingga dibutuhkan studi dan kajian, serta bagaimana aplikasinya di dalam upaya "menjual" potensi wisata Indonesia yang beragam dan kaya.
Dikemukakannya bahwa pada 2000-2010 rata-rata pertumbuhan kedatangan wisatawan mancanegara ke Indoneia sebesar 4,39 persen per tahun atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dunia sebesar 3,47
persen per tahun.
"Kondisi ini mengindikasikan kuatnya daya tahan pariwisata Indonesia," katanya dan menambahkan peluang peningkatan daya tarik pariwisata di Nusantara cukup besar.
"Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan sikap terhadap pengunjung asing dengan menerapkan sikap terbuka, ramah dan santun," tambahnya.
Hak kelola kawasan
Sementara itu, Adjat Sudrajat yang sempat memaparkan tentang Taman Nasional Grand Canyon di Amerika Serikat menyarankan IPB melalui Fahutan mempunyai hak mengelola sebuah kawasan konservasi.
"Hal itu bisa dilakukan melalui kerja sama dengan taman nasional terkenal yang ada di Indonesia," katanya.
Kerja sama itu, kata dia, bisa dilakukan pengelola atau pemegang hak usaha wisata alam.
"Kurikulum S2 dan S3 perbanyak di lapangan, setidaknya di taman nasional dan taman wisata alam (TWA), dan itu bisa dimulai dengan membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Kemhut atau pemegang izin
usaha usaha," katanya.
Adi Buana dari Perum Perhutani menjelaskan, pihaknya memiliki lebih dari 190 lokasi pariwisata alam yang tersebar di Pulau Jawa.
Bentuknya berupa rekreasi hutan, pantai, air terjun, telaga, kawah maupun gua.
"Lokasi itu tersebar dari hutan pantai hingga hutan pegunungan menyuguhkan pemandangan alam yang sangat menarik serta alami sehingga merupakan asset yang potensial bagi pengembangan usaha wisata alam,"
katanya.
Menurut Bambang Supriyanto, menurut riset LIPI dan BATAN, Indonesia akan mengalami krisis energi pada tahun 2020 sebesar 69 GW (gigawatt), dan yang bisa disediakan adalah hanya 29 GW.
"Namun kita sebenarnya punya sumber energi berlimpah di hutan dan kawasan konservasi, tinggal bagaimana memanfaatkannya," katanya.
Dikemukakannya bahwa ada dua sumber energi dimaksud, yakni panas bumi dam energi air, yang semuanya ada di kawasan hutan alam dan konservasi.
Ketua APPI David Makes mengatakan bahwa pemanfaatan dari wisata alam tidak harus mengandalkan kemewahan, terlebih Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang bisa menjadi daya tarik.
Hanya saja, kata dia, tantangan mengembangkan potensi wisata alam itu membutuhkan waktu yang sifatnya jangka panjang, dan juga butuh potensi sumber daya manusia yang kompeten.
Sementara itu, Ricky Avenzora menambahkan bahwa dengan paradigma baru dari kurikulum yang diperbarui di Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJL) di Fahuta IPB, pihaknya bisa melahirkan SDM yang kompeten dengan tuntutan pembangunan ekowisata.
"Dari sisi kompetensi dosen dan pengajar serta kurikulum yang diperbarui, kita siap dengan tantangan untuk mengisi SDM kompeten di bidang pembangunan ekowisata Indonesia," katanya.
Andy J
: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.