Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyarankan kepada Dinas Pendidikan Sumatera Selatan meninjau ulang izin SMA Taruna Indonesia di Palembang yang menyelenggarakan Masa Orientasi Sekolah (MOS) mengakibatkan seorang siswa barunya meninggal dunia.

"Setelah melakukan peninjauan secara langsung di sekolah tempat korban MOS itu, perlu dilakukan peninjauan ulang izin operasional SMA Taruna Palembang yang akan berakhir pada Oktober 2019," ujar Retno seusai melakukan peninjauan ke sekolah tersebut di Palembang, Rabu.

Setelah melihat kondisi gedung dan lingkungan sekolah yang menerapkan disiplin semi militer itu, sekolah tersebut tidak layak untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan sistem asrama itu.

Dinas Pendidikan Sumsel perlu melakukan evaluasi sekolah tersebut sehingga jika tetap diperpanjang izinnya harus ada pembenahan dalam sistem kegiatan belajar mengajar serta pembinaan mental dan disiplin siswa.

Kasus meninggalnya seorang siswa di SMA Taruna Palembang Delwin Berli (14) dan baru diketahui ada satu lagi siswa atas nama WK (14) yang kondisinya koma sedang dirawat di rumah sakit sangat disesalkan.

Permasalahan ini perlu diselesaikan secara tuntas sehingga ke depan tidak terjadi lagi siswa baru menjadi korban kekerasan kakak kelas atau pembina saat mengikuti MOS.

Guna menyelesaikan permasalahan itu, pihaknya mengunjungi SMA Taruna Indonesia di Bumi Sriwijaya ini untuk mengumpulkan data kasus penyelenggaraan MOS yang mengakibatkan seorang siswa barunya meninggal dunia dan dalam kondisi koma, kata komisioner KPAI itu.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan Widodo menyatakan pihaknya menerima saran KPAI dan akan mempertimbangkan perpanjangan izin SMA Taruna tempat korban MOS itu.

Sementara untuk mencegah kasus tersebut terjadi lagi di daerah ini, pihaknya kembali mengingatkan kepala sekolah dan guru untuk melakukan pengawasan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) dan kegiatan siswa lainnya agar tidak terjadi tindak kekerasan yang dapat menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, kata Widodo.

Pewarta: Yudi Abdullah

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2019