Libur sekolah selalu menghadirkan satu tantangan yang sama bagi banyak keluarga Indonesia. Orang tua ingin mengajak anak berlibur, tetapi sekaligus berharap perjalanan itu memberi pengalaman yang lebih bermakna daripada sekadar hiburan singkat.

Terlebih di tengah rutinitas anak yang semakin akrab dengan gawai, kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan alam dan hewan justru menjadi sesuatu yang mulai terasa langka.

Maka dari itu, munculnya tren wisata edukasi dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya memperlihatkan perubahan cara pandang masyarakat dalam memaknai liburan keluarga.

Tempat wisata tidak lagi hanya dinilai dari banyaknya wahana permainan atau kemewahan fasilitas, tetapi juga dari sejauh mana pengalaman yang diberikan mampu membangun rasa ingin tahu, kedekatan emosional, dan pembelajaran sederhana bagi anak-anak.

Fenomena itu terlihat di kawasan Puncak, Bogor, misalnya ketika ribuan wisatawan memadati Dairyland Farm Theme Park selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pertengahan Mei 2026.

Antusiasme pengunjung terlihat sejak hari pertama libur panjang ketika area wisata edukasi seluas sekitar 6,5 hektare tersebut dipenuhi keluarga yang datang untuk menikmati suasana alam sekaligus berinteraksi dengan berbagai satwa.

Lonjakan kunjungan itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang wisata keluarga berbasis edukasi semakin besar.

Apalagi, kawasan Puncak selama ini memang dikenal sebagai salah satu tujuan favorit warga Jabodetabek untuk mencari udara sejuk dan suasana yang lebih tenang dibanding hiruk-pikuk kota besar.

Namun menariknya, daya tarik wisata seperti ini ternyata bukan hanya soal udara dingin atau lokasi yang mudah dijangkau. Ada perubahan psikologis yang mulai terlihat dalam pola wisata keluarga Indonesia.

Anak-anak kini cenderung lebih tertarik pada pengalaman langsung yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan secara nyata.

Ketika seorang anak memegang hewan ternak secara langsung, memberi makan satwa, atau menyaksikan pertunjukan hewan dari jarak dekat, pengalaman itu sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat dibanding sekadar melihat gambar di layar telepon pintar.

Interaksi sederhana seperti itu dapat membantu anak memahami empati terhadap makhluk hidup, mengenal lingkungan, dan membangun keberanian sosial sejak dini.


Pengalaman berwisata

Business Unit Manager Dairyland Karina Rianti mengatakan momentum libur panjang dimanfaatkan pihak pengelola untuk menghadirkan fasilitas baru berupa The Farmer’s Animal Presentation Show.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pengalaman pengunjung menjelang musim libur sekolah yang diperkirakan berlangsung pada Juni mendatang.

Karina menjelaskan bahwa konsep utama yang dibangun adalah menciptakan tempat wisata yang menyenangkan bagi semua kalangan.

Menurut dia, pertunjukan satwa bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi agar anak-anak lebih mengenal berbagai jenis hewan secara langsung.

Konsep wisata semacam ini menjadi menarik karena memadukan hiburan dengan proses belajar yang berlangsung secara alami. Anak-anak tidak merasa sedang mengikuti pelajaran, tetapi tetap memperoleh pengetahuan baru melalui pengalaman yang mereka alami sendiri.

Di era modern saat ini, model pembelajaran berbasis pengalaman memang semakin penting.

Banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa anak lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka terlibat langsung secara emosional maupun fisik dalam aktivitas tersebut.

Oleh karena itu, wisata edukasi perlahan berkembang menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran informal di luar ruang kelas.

Saat ini banyak pengelola wisata edukasi mencoba memperkuat daya tarik itu dengan menghadirkan satwa-satwa eksotis dari berbagai belahan dunia.

Kehadiran hewan dari luar negeri diharapkan semakin mampu memberi pengalaman visual dan emosional yang berbeda bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Tidak sedikit pengunjung yang menjadikan interaksi dengan satwa sebagai pengalaman pertama yang sulit dilupakan. Bagi sebagian anak perkotaan yang sehari-harinya hidup di lingkungan padat dan minim ruang terbuka hijau, pengalaman menyentuh hewan ternak secara langsung dapat menjadi sesuatu yang benar-benar baru dalam hidup mereka.

Fenomena menarik lainnya adalah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi.

Karina, misalnya, menyebut udara sejuk kawasan Puncak menjadi salah satu alasan wisatawan asing tertarik datang ke lokasi tersebut.

Hal ini memperlihatkan bahwa wisata berbasis alam dan edukasi sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari kekuatan pariwisata Indonesia di masa depan.

Selama ini, pembicaraan mengenai pariwisata sering terfokus pada pantai, pusat belanja, atau destinasi mewah. Padahal, wisata keluarga berbasis pengalaman edukatif juga memiliki pasar yang sangat besar dan terus berkembang.

Di banyak negara maju, konsep farm tourism atau wisata peternakan sudah lama berkembang menjadi bagian penting dari industri wisata keluarga.

Pengunjung tidak hanya datang untuk berlibur, tetapi juga untuk belajar mengenai pangan, peternakan, lingkungan, hingga kehidupan pedesaan.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang tidak kalah besar untuk mengembangkan model serupa. Apalagi, negara ini memiliki kekayaan alam, keragaman satwa, dan budaya agraris yang sangat kuat.


Peluang pasar

Harga tiket yang relatif terjangkau juga menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap wisata edukasi. Dengan biaya yang relatif terjangkau, pengunjung di wisata edukasi dapat menikmati berbagai fasilitas termasuk pertunjukan satwa dan aktivitas edukasi lainnya.

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, wisata dengan harga yang ramah keluarga menjadi pertimbangan utama.

Banyak orang tua kini lebih selektif memilih tempat berlibur yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi anak-anak.

Merespons peluang yang semakin besar utamanya saat menjelang libur sekolah, Karina mengatakan pihaknya mulai 27 Mei menggelar kembali pertunjukan The Farmer’s Animal Presentation Show secara rutin setiap hari sepanjang musim libur sekolah.

Selain itu, pihak pengelola juga berencana meluncurkan wahana permainan baru pada Juni 2026 untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Upaya memperluas pasar juga terus dilakukan. Selama ini mayoritas pengunjung berasal dari Jabodetabek, tetapi ke depan mulai bersiap menyambut wisatawan dari luar daerah hingga luar pulau.

Langkah ekspansi itu terlihat dari perkembangan jaringan wisata Dairyland yang kini telah memiliki 10 cabang di berbagai wilayah Indonesia. Lima cabang berada di kawasan Puncak, sementara lainnya tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Gowa, Sulawesi Selatan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa wisata keluarga berbasis edukasi memiliki prospek yang cukup menjanjikan di Indonesia.

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat dan digital, masyarakat justru mulai mencari ruang untuk kembali terhubung dengan pengalaman yang sederhana, alami, dan manusiawi.

Boleh jadi itulah sebabnya tempat-tempat seperti ini semakin diminati. Di sana, anak-anak bukan hanya datang untuk bermain, tetapi juga belajar memahami kehidupan dengan cara yang lebih dekat dan nyata.

Dan bagi banyak keluarga, pengalaman sederhana semacam itu sering kali menjadi bagian paling berharga dari sebuah liburan sekolah.

Pewarta: Hanni Sofia

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026