Rumah sakit Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, menghadirkan pengalaman berbeda saat memperkenalkan tiga teknologi robotik andalannya, yakni Da Vinci Xi, Biobot MonaLisa, dan ROSA Knee.

Bukan sekadar memamerkan kecanggihan alat, rumah sakit itu ingin menunjukkan bagaimana teknologi memberi perubahan dalam dunia kesehatan. Perubahan yang terpenting itu ialah bisa membuat proses operasi menjadi lebih presisi, minim risiko, dan membantu pasien pulih lebih baik dan lebih cepat.

Da Vinci Xi merupakan robot bedah multi lengan yang dapat digunakan di berbagai bidang. Saat ini robot itu oleh Siloam Kebon Jeruk difungsikan untuk operasi di bidang urologi, ginekologi, dan digestif. Biobot Monalisa merupakan robot navigasi biopsi prostat, sementara ROSA Knee merupakan robot TKR (total knee replacement) atau penggantian tempurung berbasis analisa real-time di bidang ortopedi.

Bagi sebagian orang awam, istilah “operasi dengan robot” mungkin terdengar menegangkan, terbayang mesin bekerja sendiri tanpa sentuhan manusia. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Pada kunjungan ANTARA ke rumah sakit itu, Rabu (4/3) malam, kami melihat langsung bagaimana di ruang operasi, kendali tetap berada sepenuhnya di tangan dokter spesialis. Robot hanya menerjemahkan setiap gerakan dokter dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi.

Robot bedah multi lengan Da Vinci Xi untuk beroperasi di bidang urologi, ginekologi, dan digestif di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (ANTARA/Pamela Sakina)

Pada sistem Da Vinci Xi, dokter mengoperasikan instrumen bedah dari sebuah konsol dengan tampilan tiga dimensi berdefinisi tinggi dan pembesaran penglihatan hingga 10 kali.

Dokter spesialis urologi dr Marto Sugiono SpU (K) menggambarkan pengalaman tersebut seperti memiliki “lapangan operasi” yang terlihat sangat jelas di depan mata. Sistem ini bekerja dengan konsep master-slave, artinya setiap gerakan robot sepenuhnya dikendalikan dokter spesialis sebagai operator, bukan otomatisasi atau bergerak dengan sendirinya.

Tidak seperti tangan manusia yang memiliki batas fleksibilitas, keunggulan Da Vinci Xi terletak pada kemampuan instrumen yang dapat bergerak dengan fleksibilitas tinggi di area sempit, misalnya pada operasi prostat, serta fitur penyaring tremor yang menjaga stabilitas gerakan.

“Misalnya tangan dokter bergetar atau mengalami tremor saat membedah pasien, tremor itu tidak akan diterjemahkan oleh robot ke tubuh pasien, sehingga risiko merusak jaringan-jaringan di sekitar area operasi akan menjadi sangat-sangat rendah. Tentunya nyeri pascaoperasi juga akan menjadi sangat minim.” ujar dr Marto.

Untuk diagnosis kanker prostat, Biobot MonaLisa membantu dokter menentukan lokasi biopsi secara tepat sasaran melalui navigasi real-time.

Sementara itu, di bidang ortopedi, ROSA Knee mendampingi dokter saat melakukan TKR. Dengan sensor digital dan panduan 3D, robot membantu memastikan pemotongan tulang dan pemasangan implan sesuai anatomi pasien hingga ukuran yang sangat kecil.

Dr Franky Hartono SpOT (K), mengibaratkan perbedaan teknik konvensional dan robotik seperti tukang kayu yang bekerja dengan alat manual dibandingkan dengan alat presisi modern.

“Mata manusia tidak sepresisi robot, contohnya misal potongan atau jahitan agak miring sedikit satu milimeter, manusia tidak akan bisa melihat, tapi robot bisa. Robot yang mengarahkan sehingga presisi, dan hasil yang dicapai pasien sangat baik, hasilnya bisa diukur.” kata dia.

Robot membantu mengurangi subjektivitas otot-otot manusia, menjaga akurasi, serta meminimalkan kerusakan jaringan di sekitar area operasi. Dampaknya, perdarahan lebih sedikit, rasa nyeri lebih terkontrol, dan kenyamanan pasien meningkat.

Sejak April 2025, hampir 100 kasus telah ditangani dengan pendekatan robotik di Siloam Kebon Jeruk.

Lebih dari sekadar kecanggihan teknologi, Presiden Direktur Siloam Hospitals Group, David Utama mengatakan, kehadiran robot-robot ini menjadi simbol perubahan dalam dunia kesehatan, yakni operasi yang lebih terukur, pemulihan yang lebih cepat, dan kualitas hidup pasien yang semakin baik.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari investasi teknologi ini bukan sekadar mengikuti tren global. Fokusnya sederhana namun krusial, yakni hasil akhir pasien.

Patient outcome adalah prioritas nomor satu. Teknologi membantu dokter mencapai presisi lebih baik, menekan risiko infeksi, serta mempercepat masa pemulihan pasien.” imbuhnya.

Harga

Berbicara kecanggihan hingga dampaknya pada kesehatan pasien, pertanyaan paling umum lainnya pasti berkisar soal bagaimana dengan biayanya? Pihak rumah sakit tidak menyebut angka pasti, namun mengakui bahwa tindakan robotik umumnya lebih tinggi dibanding metode konvensional.

Marto memahami Indonesia adalah negara yang sensitif terhadap harga, terlebih perangkat seperti da Vinci Xi merupakan teknologi asal Amerika Serikat yang dipengaruhi kurs dolar. Namun ia menekankan, pasien yang menginginkan teknologi robotik pada akhirnya akan mencarinya, baik di dalam maupun luar negeri.

Menurut dia, jika dibandingkan secara regional, biaya tindakan robotik di Indonesia masih kompetitif, bahkan disebut lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga.

Ia juga mengingatkan bahwa melihat harga awal saja tidak selalu mencerminkan gambaran utuh. Risiko kekambuhan, komplikasi, atau kebutuhan terapi lanjutan bisa membuat total biaya membengkak.

The cost of failure (biaya dari kegagalan) itu berat,” ujarnya, menekankan pentingnya memilih dan melakukan tindakan sebaik mungkin sejak awal.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: layanan kesehatan di Indonesia tidak kalah. Dengan dukungan teknologi robotik dan dokter spesialis berpengalaman, pasien kini memiliki pilihan untuk mendapatkan tindakan presisi tinggi tanpa harus pergi jauh ke luar negeri.

Pada akhirnya, yang dicari bukan sekadar teknologi canggih, melainkan operasi yang tuntas, pemulihan optimal, dan kualitas hidup yang lebih baik.

Pewarta: Pamela Sakina

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026