Mendengar istilah daerah tertinggal, yang terbayang kerap kali adalah keterbatasan fasilitas umum, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga peluang kerja. Seolah-olah Tuhan pun jauh dari umat-Nya.

Di Kabupaten Asmat, salah satu pesisir Provinsi Papua Selatan yang tanahnya nyaris tidak pernah kering, masyarakat hidup di antara rawa-rawa dan sungai yang mengalir jauh dari pedalaman serta berjarak dari hiruk pikuk kegiatan orang kota.

Dari kacamata orang luar, wilayah Asmat dan warganya bisa saja disebut sebagai daerah yang terpencil dan tidak ada apa-apanya, tetapi budaya mereka berupa tarian, ukiran kayu, dan cara hidup yang harmonis dengan lingkungan alam, adalah kekayaan unik yang menarik perhatian Evi Aryati Arbay, etnograf yang telah menulis sejumlah buku berlatar budaya Indonesia.

Buku berjudul Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tidak Pernah Jauh mengungkapkan kenyataan bahwa Tuhan memang tidak pernah jauh dari umat-Nya. Hal itu terasa melalui tulisan-tulisan Mgr Aloysius Murwito OFM, Uskup Agats, yang menjadi penyumbang utama refleksi dalam buku tersebut.

Meskipun menyajikan serangkaian surat gembala dari seorang uskup, buku ini tidak hadir sebagai doktrin keagamaan, melainkan sebagai kesaksian seorang gembala tentang daerah tapal batas dan masyarakatnya.

Evi, sebelumnya pernah merekam kehidupan Suku Dani di Lembah Baliem, juga kehidupan warga Kampung Baduy di Kabupaten Banten dan juga buku mengenai jejak Perang Pasifik di Biak, menunjukkan konsistensi penulis yang merekam jejak peristiwa dari tempat-tempat sunyi.

Kali ini, perempuan dengan etnis Betawi yang juga mempelajari komunikasi kepemimpinan ini, menulis bersama dengan John Ohoiwirin, petugas pastoral keuskupan Agats, menghadirkan jati diri Asmat sebagai pusat kemanusiaan, sesuai dengan makna nama Asmat yang berakar dari kata Asamat yang artinya manusia.

Selain catatan penulis dalam bentuk esai, sejumlah tulisan renungan, homili dan 18 surat gembala dari  Aloysius Murwito memperkaya isi buku yang dilengkapi dengan sejumlah foto kegiatan pastoral di wilayah Keuskupan Agats.

Mendengar

Secara unik, buku ini membawa pembaca untuk ikut "mendengar" pengalaman para penulis.
Kedua penulis dan Uskup Allo hadir langsung di tengah warga, bersama-sama mereka menyusuri sungai, mengunjungi penduduk di rumah yang berada di pedalaman, menyaksikan dan mendengar warga setempat dalam keseharian.

Perkampungan Asmat berada di tanah basah rawa-rawa, mereka mengonsumsi sagu dan ikan, salah satu sumber kekayaan alamnya, menyaksikan masyarakat berkesenian tari dan tangan-tangan terampil mengukir kayu menjadi karya seni, yang sudah dikenal dunia luar.

Mgr Allo, begitu umat menyapanya, adalah pendatang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Ia lahir pada 20 Desember 1950, dan menjadi uskup kedua di Agats yang berjarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, sejak 2002.

Agama Katolik diperkenalkan oleh misionaris Belanda Pastor Jan Smith OSC, yang menjadi martir dalam peristwa 28 Januari 1965, dilanjutkan oleh Mgr Alphonse Augustinus Sowada OSA, uskup pertama di Agats yang melayani perutusan selama 33 tahun.

Seorang imam Fransiskan yang membaktikan diri pada kehidupan kaum dina, Mgr Allo, dalam perutusan di tanah berlumpur, dengan segala keterbatasannya, menghidupkan ajaran gereja bukan dalam bentuk khotbah semata, melainkan lebih sebagai "pendengar" yang tinggal bersama dan memeluk umat dalam kasih.

Mgr Allo menunjukkan kepedulian pada umat dan mendorong bangkitnya kegiatan ekonomi dengan mengarahkan pembentukan koperasi --Credit Union "Ndar Sesepok" sebagai wadah pemberdayaan ekonomi serta menggerakkan inisiatif ketahanan pangan di kampung-kampung pelosok, sehingga orang Asmat bisa bermartabat di tanah mereka sendiri.

Gereja juga membangun sekolah untuk memberikan pendidikan formal, membuka pelayanan kesehatan dan mendorong pengembangan seni ukir sebagai bagian dari semangat hidup, identitas budaya dan peluang ekonomi.

Dalam salah satu refleksinya, uskup mendorong umat untuk menegaskan keunggulan seni ukir sebagai sumber penghidupan. Ketika tanah berlumpur tidak memungkinkan hasil kebun sebagai sumber nafkah, kebudayaan justru menjadi daya hidup. Martabat tidak dibangun dengan menyeragamkan cara hidup, melainkan dengan mengenali keunggulan yang telah diwariskan.

Hutan bakau

Agats memiliki kekayaan alam berupa hutan bakau dan ekosistem yang kaya, sungai yang menjadi jalur transportasi utama dan ladang nutrisi yang mengalir dari pedalaman bermuara ke laut Arafura, yang berbatasan dengan Laut Timor di barat dan pesisir utara Australia di selatan.

Menjangkau umat di wilayah yang daratan keringnya sedikit dan tidak memiliki jalan padat, menjadi tantangan tersendiri bagi Mgr Allo.

Banyak wilayah hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki di atas papan penutup lumpur yang licin atau naik perahu yang didayung dengan berdiri, sedangkan di daerah kota, uskup kerap bersepeda.

Dalam tulisannya, Mgr Allo memaparkan perubahan perlahan atas tata-kehidupan warga Asmat yang kini berbagi tempat tinggal dengan para pendatang dari Jawa, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, bahkan juga pendatang dari etnis Batak dari Sumatera Utara.

Para pendatang membawa perubahan sosial, religi, ekonomi, dan budaya yang membuat warga asli, kini mengenal orang-orang yang perilaku budayanya berbeda dengan mereka.

Dalam Surat Gembala berjudul "Persaudaraan di Tengah Keberagaman", uskup menyoroti pergeseran pola bermasyarakat yang semula orang Asmat sebagai etnis tunggal, kini berada di tengah masyarakat dengan etnis majemuk. Persaudaraan yang ramah, perlahan-lahan menjadi kehidupan yang individual, dari yang semula hanya umat Katolik, kini ada umat Kristen dan kaum Muslim serta lainnya.

"Kasih yang kita pahami, kita laksanakan dan kita salurkan kepada setiap orang, akan menyingkirkan segala hambatan dalam perjalanan bersama membangun persaudaraan," tulis uskup mengenai bentuk masyarakat baru ini.

Secara halus, salah satu tulisannya menyinggung paham "Cargo Cult", kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Melanesia tentang penantian akan masa depan yang makmur. Uskup menafsirkannya sebagai ajakan untuk tidak hanya menunggu, tetapi bekerja dan berkorban demi perubahan menuju ke kemakmuran.

Gereja tidak memasuki politik praktis, namun dalam renungan dan surat-suratnya, uskup mengingatkan umat untuk menyalurkan aspirasi politik secara sehat, bertindak kritis dan cerdas, ketika memilih pemimpin dan elit politik.

Dalam masa pelayanan lebih dari dua dasawarsa, Mgr Allo mengalami situasi sulit dan sedih, ketika terjadi wabah campak dan gizi buruk yang menimpa warga, khususnya anak-anak pada 2018, disusul kemudian pandemi COVID-19. Tugas pelayanan terus dijalankan, hingga Uskup Allo pun tak luput, tertular virus corona.

Uskup Allo mengakui bahwa filsafat hidup orang Asmat menjadi unsur hakiki dalam tugas, sehingga baginya perutusan bukan sebatas pada altar, melainkan sebagai wujud tanggung jawab atas umat untuk mendapatkan kesehatan yang bermartabat, pendidikan yang memberi masa depan, ketersediaan pangan yang aman dan kedamaian yang memulihkan masyarakat dari luka sejarah.

Asmat memiliki daya pikat. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, wilayah ini semakin diminati para perantau yang mencari masa depan lebih baik daripada di kampung halaman mereka.

Potret masyarakat, peran gereja dan perkembangannya tersaji untuk didengar, dalam buku yang mendapat kata pengantar dari Kardinal/Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo PR.
Penampilan buku menjadi lebih menarik dengan galeri foto yang dipilih dengan cermat dari berbagai arsip serta disunting oleh fotografer ternama Arbain Rambey.

Pendekatan etnografis yang dipilih para penulis menempatkan buku ini sebagai ruang untuk mendengar suara manusia, suara alam, dan suara iman, lebih daripada sekadar menjelaskan Asmat sebagai objek pengetahuan. Di tanah bakau nan berlumpur itu, Tuhan tidak pernah jauh.

Pewarta: Maria D Andiana

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026