PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan tonggak penting dalam pengelolaan kecerdasan artifisial (AI) dengan meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk Artificial Intelligence Management System (AIMS) bersama Veda Praxis sebagai mitra konsultan dalam proses sertifikasi.
BCA menjadi organisasi pertama di Indonesia, bank pertama di Asia Tenggara, sekaligus salah satu dari 100 organisasi pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi manajemen AI tersebut.
ISO/IEC 42001:2023 merupakan standar global yang mengatur sistem manajemen AI, mencakup aspek tata kelola, manajemen risiko, transparansi, serta akuntabilitas penggunaan AI.
Pada sektor perbankan, standar ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, pencegahan fraud, hingga layanan nasabah.
Seremoni penyerahakn sertifikasi turut dihadiri Direktur BCA Santoso dan Lianawaty Suwono, Senior EVP Group Strategic Information Technology BCA David Formula, EVP Enterprise IT Architecture, Data Management, Service Quality Group BCA Lily Wongso, serta CEO Veda Praxis Syahraki Syahrir.
Pada kesempatan sama, BCA juga meraih sertifikasi ISO 27701:2019 untuk Privacy Information Management System, sebuah standar internasional terkait pengelolaan privasi dan perlindungan data.
Kedua sertifikasi ini tidak hanya mencerminkan pemenuhan kepatuhan terhadap standar global, tetapi juga menegaskan komitmen BCA dalam menjaga keamanan dan kepercayaan nasabah di tengah percepatan transformasi digital.
“Kepercayaan nasabah jadi fondasi utama bagi keberhasilan yang diraih BCA sejauh ini. Sertifikasi ISO privasi data dan kelola AI ini menjadi bukti komitmen kami menjaga kepercayaan dan keamanan data nasabah, sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan bertanggung jawab. Kami berkomitmen senantiasa menghadirkan layanan perbankan yang aman, inovatif, dan berorientasi pada perlindungan nasabah,” ujar Direktur BCA Lianawaty Suwono.
“Transformasi digital yang kami lakukan tidak hanya bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kemudahan, tetapi juga memastikan rasa aman bagi nasabah,” tambah Lianawaty.
Dalam proses sertifikasi ISO 42001, Veda Praxis bekerja sama dengan BCA untuk memastikan kerangka tata kelola AI terintegrasi secara utuh dengan tata kelola perusahaan dan sistem manajemen risiko yang berjalan.
Pendekatan yang diterapkan mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat struktur dan kejelasan akuntabilitas, sekaligus menempatkan pemanfaatan AI sebagai bagian proses bisnis dan pengambilan keputusan, bukan semata pemenuhan persyaratan administratif.
“Pencapaian ini merupakan tonggak penting bagi industri jasa keuangan. Ketika AI semakin memengaruhi pengambilan keputusan dan layanan publik, tata kelola AI jadi isu strategis, bukan lagi sekadar isu teknis. Semoga sertifikasi ini jadi katalis bagi penguatan praktik penggunaan AI bertanggung jawab dan beretika, baik di tingkat industri, nasional, maupun kawasan Asia Tenggara. Kami bangga dapat mendampingi BCA dalam langkah penting ini,” ujar Syahraki Syahrir.
Sebagai firma konsultan manajemen yang berfokus pada transformasi digital, governance, risk, and compliance (GRC), serta keamanan siber, Veda Praxis terus menyesuaikan pendekatan GRC dengan perkembangan teknologi dan digital. Seiring dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor, solusi yang diberikan juga berkembang pada penguatan tata kelola digital dan AI.
Syahraki menjelaskan seiring meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai industri, Veda Praxis membantu organisasi memastikan penggunaan AI memberikan nilai nyata sekaligus dikelola secara bertanggung jawab.
"Pendampingan difokuskan pada pembentukan kerangka tata kelola yang jelas, penerjemahan prinsip AI dalam kebijakan dan proses operasional, serta penilaian kesiapan organisasi agar adopsi AI selaras dengan tujuan bisnis, profil risiko, dan ketentuan regulasi," katanya.
Ia menegaskan pPencapaian BCA meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 menandai langkah penting bagi penguatan tata kelola AI di kawasan.
"Di tengah percepatan adopsi AI, tonggak ini menunjukkan bagaimana organisasi dapat mengambil peran kepemimpinan dengan menempatkan tata kelola, akuntabilitas, dan kepercayaan publik sebagai fondasi inovasi.
Lebih dari capaian institusional, langkah ini memberi arah bagi Indonesia dan kawasan ASEAN dalam membangun praktik tata kelola AI bertanggung jawab," pungkasnya.
Editor : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026