Saat Indonesia menatap 100 tahun kemerdekaannya pada 2045, tantangan besarnya bukan sekadar tumbuh, tetapi meloncat keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Selama ini, resep yang sering diulang adalah industrialisasi manufaktur, teknologi, dan ekonomi digital. Semua itu penting, namun ada satu jalan strategis yang kerap dipinggirkan padahal Indonesia memiliki keunggulan alaminya, transformasi ekonomi berbasis komoditas tropis melalui hilirisasi sektor pertanian.

Indonesia adalah raksasa komoditas tropis dunia. Kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, karet, tebu, hingga rempah-rempah tumbuh subur dan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Pada 2022, ekspor pertanian mencapai Rp640,56 triliun, dengan 97 persen berasal dari subsektor perkebunan.

Namun di balik angka-angka impresif itu tersembunyi paradoks lama, sebagian besar komoditas diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah terendah. Kakao kita menjadi cokelat premium di luar negeri, kelapa diolah jadi VCO mahal oleh pihak lain, dan kopi terbaik Nusantara disajikan sebagai produk artisan berharga berlipat.

Sementara petani di hulu tetap menerima margin tipis dan menanggung risiko terbesar. Selama pola ini bertahan, Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan mentah dunia, bukan pencipta nilai.

Di sinilah hilirisasi menjadi kunci strategis. Jalan menuju negara maju bisa dimulai dari kebun sendiri, dengan mengubah komoditas tropis dari sekadar hasil alam menjadi mesin pencipta nilai nasional.

Hilirisasi berarti membangun industri pengolahan, inovasi produk, dan rantai pasok bernilai tinggi di dalam negeri agar kemakmuran tidak bocor ke luar. Dengan kebijakan yang tepat, investasi yang konsisten, dan inovasi dari hulu ke hilir, perkebunan tropis Indonesia dapat menjadi lokomotif pertumbuhan baru.

 

Ekonomi desa berbasis industri

Hilirisasi komoditas tropis merupakan jawaban paling konkret atas stagnasi pembangunan yang terlalu lama bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi berarti mengolah hasil perkebunan menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir bernilai tinggi di dalam negeri.

Produk mulai dari minyak goreng, margarin, dan biodiesel dari sawit, gula dan bioetanol dari tebu; VCO dan tepung kelapa dari kelapa, kopi sangrai dan instan dari biji kopi, hingga cokelat olahan dari kakao bisa kita produksi di dalam negeri.

Transformasi ini melipatgandakan nilai ekonomi komoditas, menciptakan lapangan kerja, memperkuat struktur industri nasional, serta mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah penghasil. Dengan kata lain, hilirisasi mengubah posisi Indonesia dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pencipta nilai.

Bukti manfaat hilirisasi sudah nyata. Harga kelapa di tingkat petani yang semula sekitar Rp600 per butir dapat meningkat hingga Rp3.500 setelah diolah, lonjakan hampir 500%, dan berpotensi jauh lebih besar dalam skala industri.

Di sektor kakao, Indonesia pada 2022 mengekspor produk olahan senilai 1,19 miliar dolar AS (sekitar Rp17,7 triliun), menjadikannya pengolah kakao terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 95 persen ekspor kakao berbentuk produk olahan.

Sementara di industri sawit, kebijakan hilirisasi melahirkan 193 jenis produk turunan dari pangan dan oleokimia hingga kosmetik dan biofuel. Produksi sawit nasional 2023 mencapai sekitar 50 juta ton CPO, dengan konsumsi domestik 23 juta ton yang didorong program biodiesel B35. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah dan ekspor, tetapi juga memperkuat ketahanan energi serta menyerap hasil panen petani di dalam negeri.

Lebih dari sekadar strategi industri, hilirisasi adalah fondasi pembangunan yang berkeadilan. Dengan membangun fasilitas pengolahan di dekat sentra produksi, pusat gravitasi ekonomi dipindahkan ke desa, mengangkat petani dari pemasok bahan mentah menjadi pelaku utama rantai industri.

Program hilirisasi komoditas prioritas diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 8 juta lapangan kerja baru, didukung rencana investasi pemerintah sekitar Rp371 triliun di sektor pertanian dan perkebunan. Melalui koperasi, BUMDes, dan UMKM desa, petani dapat ikut memiliki industri pengolahan dan menikmati keuntungan produk akhir.

 

Lingkungan terjaga

Selain mendongkrak pendapatan petani, hilirisasi komoditas tropis secara langsung memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan ekonomi nasional. Produk olahan memiliki masa simpan lebih panjang dan harga yang lebih stabil, sehingga distribusi menjadi lebih efisien dan gejolak harga komoditas dapat diredam.

Ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri pun lebih terjamin, sekaligus mengurangi kebergantungan pada impor. Kebijakan mandatori biodiesel (B30 hingga B35) adalah contoh nyata.

Pada 2023, konsumsi sawit untuk biodiesel mencapai 10,65 juta ton, yang berarti jutaan ton produksi sawit diserap di dalam negeri, mengurangi impor solar fosil, dan mencegah tekanan harga di tingkat petani.

Tanpa hilirisasi, kelebihan produksi tersebut kemungkinan besar hanya akan diekspor mentah dengan nilai rendah. Logika serupa berlaku pada rencana hilirisasi tebu dan singkong, yang berpotensi menggantikan impor gula dan tepung sekaligus memperbaiki neraca perdagangan.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, rantai pasok domestik yang kuat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pandemi dan meningkatnya proteksionisme membuktikan rapuhnya model pembangunan yang terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah.

Hilirisasi memberi Indonesia ruang manuver: ketika pasar tertentu membatasi impor komoditas mentah, Indonesia dapat mengalihkan ekspor ke produk bernilai tinggi, memperluas pasar alternatif, atau memperkuat konsumsi domestik.

Pada saat yang sama, hilirisasi yang dikelola secara berkelanjutan mendorong pembangunan hijau yang meningkatkan nilai ekonomi tanpa harus memperluas lahan, mengurangi tekanan deforestasi, dan mengoptimalkan limbah dalam kerangka ekonomi sirkular. Dari biomassa sawit hingga briket tempurung kelapa dan bioetanol dari limbah tebu, hilirisasi membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, kemandirian nasional, dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan seiring.

 

Belajar dari negara lain

Perlu kita sadari, menjadi negara maju tidak selalu berarti membangun industri mobil atau perusahaan digital raksasa.

Selandia Baru adalah contoh nyata bagaimana sebuah negara bisa mencapai kemajuan ekonomi dengan mengandalkan sektor agraris dan peternakan yang efisien dan bernilai tinggi. Produk susu, daging, buah, dan kayu mereka mendominasi pasar premium dunia karena difokuskan menjadi produk akhir berkualitas yang dikemas dan dipasarkan dengan cerdas.

Indonesia bisa meniru resep ini dengan versi tropisnya. Kita punya keunggulan komparatif yang luar biasa seperti kelapa, sawit, kopi, tebu, kakao, rempah-rempah, dan beragam komoditas lain yang hanya bisa tumbuh di khatulistiwa.

Ditambah dengan jutaan petani tangguh, lahan subur yang luas, serta iklim yang memungkinkan panen sepanjang tahun, Indonesia memiliki semua syarat untuk membangun ekonomi berbasis komoditas tropis yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian dan visi dalam bentuk keberpihakan anggaran, investasi, dan regulasi yang konsisten mendukung sektor yang memakmurkan rakyat banyak.

Hilirisasi sebagai jalan strategis tidak akan berjalan mulus tanpa pembenahan mendasar. Pemerintah punya peran penting, tak hanya sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator dan akselerator.

*) Kuntoro Boga Andri, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

Pewarta: Kuntoro Boga Andri *)

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026