Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, Banten, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus Nipah, meski hingga saat ini belum ada kasusnya di Tanah Air.

"Kita tetap terus mewaspadai penularan virus Nipah sesuai edaran Kementerian Kesehatan," kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Lebak Firman Rahmatullah dalam keterangan di Lebak, Senin.

Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus dari anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Virus ini memiliki reservoir alami pada Kelelawar Buah (Pteropus sp), yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain, seperti babi, serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus, misalnya buah atau nira.

Baca juga: BKK Pangkalpinang utamakan pencegahan masuk virus nipah ke Babel

Penularan antar-manusia, kata dia, juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita.

Ia mengatakan manifestasi klinis bervariasi, mulai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis yang dapat berakibat kematian.

Pada tahun 1998–1999, lanjutnya, wabah pertama terjadi pada peternak babi di Desa Sungai Nipah, Malaysia, yang menyebar ke Singapura.

Kasus manusia juga tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina, terjadi tahun 2001 hingga 2026. Penyakit Nipah dilaporkan secara sporadis menyebar di Bangladesh dan India.

Oleh karena itu pihaknya minta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan agar kasus penyebaran virus Nipah tidak terjadi di Indonesia.

Baca juga: Kemenkes minta masyarakat tingkatkan kewaspadaan virus nipah

Selain itu pihaknya mengimbau masyarakat selalu menggunakan masker dan menghindari kerumunan untuk pencegahan penyakit yang mematikan itu.

Namun pihaknya hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit akibat virus Nipah pada manusia di Indonesia, tetapi tetap kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Nipah.

"Kami meyakini dengan kewaspadaan itu dapat mencegah penyebaran kasus virus Nipah," kata Firman .

Baca juga: BKK Babel migrasi kelelawar dan burung berpotensi sebarkan virus Nipah

Ia mengimbau masyarakat tidak mengkonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya, karena kelelawar dapat mengkontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari.

Karena itu bila mengkonsumsi aren/nira, kata dia, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar.

"Kita banyak perkebunan nira sebagai bahan baku gula aren, sehingga terlebih dahulu dimasak," katanya.

Pewarta: Mansyur suryana

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026