Pilihan menggunakan sudut pandang Indonesiasentris dan otonomi sejarah berdampak pada penulisan buku sejarah nasional Indonesia yang bertumpu pada data primer, yaitu sumber tertulis yang dicatat oleh masyarakat pendukungnya pada saat terjadinya peristiwa dan hanya ditulis satu kali saja.

Prasasti yang dikeluarkan pada masanya sesuai dengan penanggalan yang tercantum di dalam isinya merupakan data terpenting bagi penulisan sejarah, didukung oleh artefak arkeologi yang diduga berasal dari masa yang sama dengan prasasti tersebut.

Manuskrip atau naskah sastra merupakan sumber data penting yang melengkapi informasi yang tidak dijumpai di dalam prasasti, karena bentuk dan sifatnya yang bisa diulang ulang penulisannya pada masa setelah peristiwa terjadi sehingga terkadang mengurangi akurasi kronologis. Walaupun demikian, naskah sastra memberikan kontribusi penting karena merekam budaya dan informasi mengenai masyarakat.

Berita asing adalah catatan yang dibuat oleh orang asing mengenai Nusantara yang mereka ketahui, sumber tertulis ini juga penting karena seringkali mencatat kejadian yang menguatkan dan mengisi potongan sejarah yang tidak dijumpai di dalam prasasti dan naskah sastra.

 

Aksara sebagai Identitas: Dari Brahmi ke Jati Diri Nusantara

Perjumpaan dengan peradaban Hindu dan Buddha yang dibawa oleh orang India menandai mulainya masa Klasik di Nusantara,  memperkenalkan aksara Brahmi Akhir, unsur penanggalan, agama Hindu dan Buddha dan konsep raja. Namun jauh sebelum perjumpaan dengan agama Hindu dan Buddha, masyarakat Nusantara telah memiliki  sistem religi, struktur sosial yang berbasis komunitas desa, orientasi kosmogonis terhadap gunung, kemajuan teknologi pertanian, pelayaran/perkapalan dan metalurgi.

Kecerdasan masyarakat Nusantara mengolah budayanya dengan persentuhan budaya asing di antaranya menciptakan munculnya aksara Jawa Kuna (aksara turunan Brahmi Akhir yang digunakan menulis bahasa Jawa Kuno), aksara Sumatra Kuno (aksara turunan Brahmi Akhir yang digunakan menulis bahasa Melayu Kuno), aksara Bali Kuno (aksara turunan Brahmi Akhir yang digunakan menulis dalam bahasa Bali Kuno), demikian seterusnya yang terjadi pada perkembangan aksara daerah lain. Aksara turunan aksara Brahmi akhir itu digunakan untuk menulis dalam bahasa daerah-daerah di Nusantara dan menjadi identitas daerah masing masing, demikian yang terjadi hingga saat ini.

 

Pendidikan sebagai Mesin Peradaban: Mengapa Nusantara Bisa Mencapai Puncak Klasik

Proses menuju puncak peradababan masa Klasik Nusantara dapat ditelusuri melalui ribuan prasasti yang ditemukan selama masa persilangan dengan Hindu dan Buddha (abad IV-XV). Pendidikan menjadi faktor terpenting yang harus digarisbawahi, karena menjadi dasar kemampuan intelektual bangsa Nusantara yang meninggalkan bukti bukti berupa prasasti, naskah sastra, bangunan suci, serta artefak arkeologi baik arca, relief dan lainnya. Isi prasasti mengungkapkan banyak hal, seperti ketentuan hukum dan aturan, dinamika politik dan pemerintahan, agama, perdagangan dan pajak, kemaritiman, agrikultur, ritus, dan literasi.

Candi candi yang megah yang mengandung pahatan relief cerita, pelaksanaan hukum yang teratur selama berabad-abad, munculnya kerajaan kerajaan besar dan kecil, berkembangnya karya sastra, diberlakukannya aturan pajak yang rumit, ditemukannya bangkai kapal Nusantara, tentunya disebabkan karena prestasi pendidikan yang maju.

Pendidikan yang berlangsung di dua tempat, pusat kerajaan dan mandala/skriptoria dan pusat pendidikan seperti Percandian Muarajambi telah meninggalkan jejak peradaban yang tinggi. Temuan ribuan prasasti timah di sungai sungai besar seperti Musi dan Batanghari serta beberapa sungai kecil di pesisir timur Sumatra membuktikan bahwa rakyat mahir menulis, memahami agama dan kepercayaan lokal seperti yang tertulis di lembar lembar kecil timah putih yang dilempar ke dalam sungai seusai ritus pemujaan. Sungai dan air dianggap sebagai sarana menyampaikan pesan dan doa kepada dewa dewa yang dituju.

 

Gagasan Menyatukan Nusantara: Jauh Sebelum Indonesia Bernama Indonesia

Gagasan penyatuan Nusantara bukanlah produk tiba-tiba abad ke-20, melainkan buah dari proses sejarah panjang yang berakar kuat pada pengalaman politik masa Klasik. Prasasti Mula Malurung tahun 1255 Masehi mencatat secara jelas bagaimana Raja Wisnu Wardhana dari Kerajaan Singhasari telah menggagas penyatuan wilayah sebagai proyek kekuasaan yang melampaui kepentingan lokal.

Ide ini kemudian diteruskan dan dipertajam oleh Raja Kertanagara, yang secara sadar memandang Nusantara sebagai satu ruang geopolitik terpadu. Dengan demikian, penyatuan wilayah bukan sekadar ambisi ekspansi, melainkan upaya membangun tatanan politik bersama yang berlandaskan kesadaran akan kebersamaan antardaerah di kepulauan ini.

Gema gagasan tersebut mencapai artikulasi paling kuat pada masa Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk bersama Mahapatih Gajah Mada. Sumpah Palapa bukan sekadar retorika kekuasaan, tetapi ekspresi ideologis dari kesadaran kolektif tentang Nusantara sebagai satu kesatuan politik dan budaya. Di titik inilah, benih konseptual NKRI dapat ditelusuri: bukan sebagai tiruan negara modern Barat, melainkan sebagai kelanjutan dari imajinasi politik Nusantara yang telah matang berabad-abad sebelumnya.

Menyadari hal ini berarti menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki sejarah penyatuan dari dalam, bukan sekadar hasil kompromi kolonial atau konstruksi pascakemerdekaan.

 

Panggung Dunia: Negeri Persinggahan Bangsa-Bangsa 

Prasasti, naskah sastra dan figurin terakota menempatkan Kerajaan-kerajaan masa Persilangan dengan Hindu dan Buddha di ruang global, khususnya penyebutan orang-orang asing yang berasal dari Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Tenggara wajib membayar pajak bermukim di kerajaan kerajaan di masa Jawa Kuno, tentunya untuk kepentingan berdagang yang memerlukan perwakilan dagang. Temuan situs Bongal di Tapanuli Tengah juga menjadi bukti pelabuhan besar di abad ke-7 tempat berkumpul bangsa-bangsa dunia seperti bangsa Timur Tengah, Asia Barat, Eropa, Asia Selatan dan lainnya.

 

Sejarah Keseharian: Dari Perempuan, Anak, hingga Mereka yang Tersisih

Prasasti, Naskah Sastra dan artefak juga mencatatkan keseharian masyarakat Nusantara pada masa lalu. Keseharian adalah bagian yang sangat penting dalam penulisan sejarah, karena aspek keseharian memberi pemahaman yang lebih kaya dan mendalam tentang masa lalu bangsa. Keseharian merupakan fondasi terjadinya peristiwa peristiwa besar.

Sejarah bukan hanya tentang peristiwa peristiwa besar, tokoh bangsa, atau tanggal tanggal penting tetapi juga tentang cara masyarakat biasa hidup, bekerja, berinteraksi dalam hidup sehari hari mereka. Beberapa hal mengenai keseharian yang diangkat dalam penulisan sejarah ini adalah Peran perempuan, pola asuh anak, keberadaan orang asing di Nusantara, busana, kesenian, pengelolaan lingkungan, mitigasi bencana, kesehatan dan masyarakat terpinggir seperti budak dan disabilitas.

 

Indonesia Emas atau Ilusi Sejarah: Pilihan Ditentukan Hari Ini

Masyarakat masa Klasik Nusantara mampu menyerap anasir asing dan mengolahnya sesuai dengan budaya Nusantara sehingga masyarakat masa Klasik tampil dengan percaya diri dan menjadi dirinya sendiri baik di tataran lokal maupun global.

Prasasti, naskah sastra mencatat tentang proses kemunduran dari masa periode gemilang Masa Klasik Nusantara.

Konflik internal di pusat pemerintahan adalah pangkal dari surutnya masa gemilang, di samping itu terjadinya perubahan orientasi keagamaan di institusi kerajaan serta munculnya tatanan baru menjadi beban lain yang tidak bisa dibendung.

Sejarah membuat kita tahu akar budaya bangsa, mengenali jatidiri kita. Belajar sejarah juga membuat kita sadar kekayaan moral berupa kearifan lokal yang merupakan modal bangsa Nusantara mencapai masa kegemilangan.

Kearifan lokal bangsa Nusantara sejauh tergambar dari sumber prasasti dan naskah adalah gotong royong, toleransi dan memiliki semangat juang yang tinggi. Mengenal jati diri berarti memiliki percaya diri dalam merespon tantangan global yang terjadi dan akan terjadi di masa depan.

Modal warisan bangsa sekaligus dapat menguatkan identitas nasional yang kokoh di masa kini dan masa depan bangsa. Berkaca dari sebab sebab mundurnya kebesaran sebuah negara, adalah konflik internal yang patut diwaspadai demi cita-cita bangsa mencapai Indonesia Emas yang besar dan berwibawa.

Merintis masa depan bangsa dengan belajar dari masa lalu. Karena masa lalu itu sudah terjadi, masa kini sedang dijalani, masa depan belum terjadi, bisa terjadi sesuai harapan tetapi bisa hanya ilusi.

Penulis: Dr. Ninny Susanti, Editor Jilid 2 Buku SNI, Arkeolog/Epigraf Universitas Indonesia.
 

Pewarta: Dr. Ninny Susanti

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026