Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan berangkat menuju Ambon.
Di pulau yang hanya bisa dijangkau lewat laut dan udara terbatas, setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa besar. Bukan sekadar perjalanan, tapi pertaruhan waktu, logistik, dan nasib banyak orang.
Banda Neira, pulau mungil di gugusan Laut Banda, menyimpan sejarah besar yang mengubah wajah dunia. Dari sinilah pala pernah menjadi rebutan bangsa Eropa, ratusan tahun lalu.
Kini, sejarah itu berganti rupa. Banda Neira tidak lagi menjadi pusat perdagangan rempah dunia, melainkan simbol ketabahan masyarakat di wilayah terluar yang bertahan dengan irama laut.
Berbanding terbalik dengan Jakarta yang bergerak dengan moda transportasi canggih, Banda Neira masih hidup dengan kesabaran. Di sini, waktu berjalan pelan bersama jadwal kapal yang tidak menentu.
Warga harus menunggu tiga, hingga empat hari, hanya untuk keluar pulau. Kapal Pelni menjadi satu-satunya tumpuan, menyeberang selama 14 jam menuju Ambon, berdamai dengan ombak, jarak, dan waktu.
Begitulah Banda Neira. Di antara laut yang biru dan langit yang luas, setiap keberangkatan kapal, bukan hanya rutinitas, tapi denyut kehidupan yang menjaga pulau ini tetap bernapas.
Bangunan tua berwarna biru di tepi pelabuhan menjadi saksi kesibukan sore itu. Deretan motor parkir rapat, sementara warga menenteng karung, koper, dan tas hendak masuk ke dalam kapal.
Ketika tangga besi dibentangkan ke lambung kapal putih bertuliskan “PELNI”, antrean panjang mulai bergerak perlahan, meniti pijakan sempit, dengan hati-hati sambil membawa barang bawaan.
Bukan hanya penumpang yang naik, tetapi juga logistik kehidupan, beras, minyak, sayur-mayur, hingga paket dari keluarga di Ambon dan Jakarta, semua ikut menumpang harapan dalam satu pelayaran.
Kapal Pelni menjadi urat nadi yang menyambung Banda Neira dengan dunia luar. Tanpanya, harga-harga kebutuhan bisa melambung tinggi dan arus ekonomi di pulau itu akan terhenti.
Di antara hiruk pikuk itu, beberapa awak kapal berseragam putih berjaga di tangga kapal. Mereka membantu penumpang naik satu per satu, memastikan semua bisa berangkat dengan aman dan tenang.
Hening seketika menyelimuti dermaga, saat sebuah ambulans masuk pelabuhan. Warga spontan menyingkir, memberi jalan bagi tandu sederhana yang membawa seorang perempuan lemah yang diarak masuk ke dalam KM Sangiang.
Wajahnya pucat, namun matanya terbuka lemah menatap kapal yang akan membawanya ke rumah sakit di Ambon. Di matanya, kapal ini adalah harapan yang menyeberangi laut untuk menyelamatkan hidupnya.
Seorang perempuan berkerudung abu-abu berdiri terpaku di sisi pelabuhan. Air matanya jatuh pelan, bukan karena perpisahan, tapi karena tersentuh melihat betapa besar arti kapal bagi kehidupan di Banda Neira.
Bagi warga pulau itu, Pelni bukan sekadar kapal besar yang berlabuh dan berangkat. Ia adalah jembatan kemanusiaan, membawa logistik, kesehatan, pendidikan, dan rasa keterhubungan antar-pulau.
Setiap peluit panjang yang terdengar, bukan hanya tanda keberangkatan, tapi juga pernyataan bahwa negara selalu hadir di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).
Kapal pun perlahan berlayar meninggalkan dermaga membawa manusia, barang, dan harapan melintasi Maluku, menjaga denyut kehidupan yang tak pernah padam.
Saat ini, terdapat 25 kapal penumpang aktif dari total 26 armada, sementara satu kapal masih menjalani perawatan pascakebakaran di Makassar. Selain itu, terdapat 30 kapal perintis, satu kapal ternak, satu kapal rede, dan 11 kapal barang yang melayani berbagai jalur.
Dari seluruh armada tersebut, sekitar 10 kapal melayani kawasan timur Indonesia, wilayah dengan bentang lautan luas dan fasilitas transportasi yang sangat terbatas. Sisanya tersebar di klaster tengah dan barat, di mana moda transportasi lain, seperti pesawat atau kereta masih tersedia.
Sementara itu, Pelni harus memutar otak agar tetap berlayar di tengah keterbatasan armada tua. Beberapa kapal sudah berusia lebih dari 40 tahun, melintasi ribuan mil laut dari generasi ke generasi, menjadi saksi perjalanan ekonomi dan kemanusiaan di Indonesia Timur.
Untuk membeli satu kapal baru tipe besar, dibutuhkan dana sekitar Rp1,5 triliun. Pelni, yang setiap tahunnya hanya mampu menyisihkan sekitar Rp200 miliar dari laba operasional, memperkirakan butuh waktu hingga satu dekade untuk mengumpulkan biaya pengadaan satu kapal baru.
Padahal, dari kajian, kebutuhan ideal untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara mencapai 80 kapal penumpang. Jumlah itu diyakini cukup untuk memperpendek waktu tunggu masyarakat di pulau-pulau kecil yang kini harus menunggu hingga dua minggu untuk kedatangan kapal berikutnya.
Realitas di Banda Neira menggambarkan perlunya pemenuhan kebutuhan transportasi. Di tengah pesona wisata sejarah dan alamnya, masyarakat di pulau itu harus menunggu kapal Pelni tiga hingga empat hari sekali, sementara pesawat kecil hanya terbang dua kali sepekan, dengan kapasitas tidak lebih dari selusin orang.
Kondisi itu membuat setiap kedatangan kapal seperti peristiwa besar. Tidak hanya penumpang dan logistik, kapal Pelni membawa harapan, membawa pasien yang ingin sembuh, membawa barang dagangan yang menopang ekonomi pulau, dan kadang membawa cerita lahirnya kehidupan baru di tengah laut.
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025