Bali Turtle Island Development (BTID) sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura, Bali, melepasliarkan ratusan tukik di perairan Serangan, Denpasar, memaknai Tumpek Kandang atau hari suci Hindu untuk memuliakan satwa.
"Setiap langkah maju harus sejalan dengan alam. Tumpek Kandang adalah cerminan bagaimana Serangan, alam, dan manusia saling merawat," kata Kepala Komunikasi BTID Zakki Hakim di Denpasar, Bali, Minggu.
Pelepasliaran bayi penyu itu diikuti warga dan jajaran Pemerintah Provinsi Bali di perairan Pulau Serangan, Denpasar, yang menjadi habitat alami hewan terancam punah itu.
Pemuka agama Hindu yang memimpin upacara (pemangku) Tumpek Kandang, I Made Sandya mengatakan hari suci itu bukan sekadar ritual rutin, tetapi pengingat agar manusia tidak merasa paling berkuasa di atas makhluk lain.
"Dalam lontar-lontar Hindu, Tumpek Kandang adalah bagian menjaga keharmonisan Palemahan (lingkungan), bagaimana manusia hidup selaras dengan alam dan hewan," ujarnya.
Pengelola KEK Kura Kura Bali itu mendukung aktivitas konservasi penyu di kawasan itu yang dilakukan oleh Pusat Edukasi dan Konservasi Penyu atau Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan.
Sejak 2022, berhasil melepas lebih dari 11 ribu tukik ke laut dan sepanjang 2024, TCEC mencatat sekitar 95 sarang penyu di pesisir Serangan ditemukan atau naik dibandingkan 2024 mencapai sekitar 80 sarang.
Sedangkan sepanjang 2024, lebih dari 7.600 telur penyu berhasil diselamatkan dan dari jumlah itu, sekitar 4.000 telur menetas menjadi tukik dan sudah dilepas kembali ke habitat aslinya.
Baca juga: Kemenpar sebut rute Baru Adelaide-Bali perkuat akses wisman ke Indonesia
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025