Bogor (Antaranews Megapolitan) - Buah salak pada umumnya hanya dikonsumsi bagian dagingnya saja. Bagian biji biasanya dibuang dan menjadi limbah organik. Biji salak ternyata mengandung aktivitas antioksidan yang tinggi sebesar 12,06% DDPH. Penelitian tentang khasiat dan manfaat biji salak sudah banyak dilakukan, tetapi minim pengaplikasian dalam bentuk makanan maupun lainnya.

Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengolah biji salak menjadi tepung untuk dijadikan biskuit sehat. Mereka adalah Alvin Jefry, I Kadek Fendy Lesmana P, Ni Putu Indah Purnami, Khairil Irsyad, dan Irena Ivania.

“Tren masyarakat zaman sekarang ingin serba praktis, termasuk dalam sektor pangan. Masyarakat gemar mengonsumsi snack dan makanan ringan lainnya, namun tidak diiringi dengan inovasi snack yang sehat. Hampir 70 persen snack yang beredar tidak memiliki kandungan gizi yang baik, mengandung penyedap rasa, serta pengawet buatan. Maka kami mencoba memanfaatkan limbah biji salak menjadi makanan yang memiliki kandungan gizi serta nilai ekonomis tinggi,” ujar Alvin, Ketua penggagas biskuit biji salak.

Alvin dan kawan-kawan mencoba membuat biskuit sehat yang kaya akan kandungan antioksidan berbasis biji salak pondoh (Salacca zalacca). Mereka menyebutnya sebagai Bibis, yang merupakan singkatan dari Biskuit Biji Salak. Bibis menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) Tahun 2018.

Di bawah bimbingan Drh. Dordia A Rotinsulu, MSi, peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, kelima mahasiswa tersebut berhasil membuat biskuit sehat berbasis biji salak dengan tiga varian rasa yang mengikuti nama jenis warna pada kuda. Varian rasanya adalah chesnut (rasa original), skewbalt (rasa coklat), danstrawberry-roan (rasa stroberi).

Rencananya, Alvin dan kawan-kawannya akan mempromosikan biskuit unik ini kepada masyarakat umum menggunakan media sosial seperti instagram, facebook, line, dan whatsapp. “Selain itu kami juga memberi tester produk kepada orang sekitar sebagai strategi penjualan kami,” ujarnya.

Menurut Alvin, Bibis dapat membantu memenuhi kebutuhan camilan sehat masyarakat Indonesia yang cenderung memiliki aktivitas padat. “Bibis sangat layak dipasarkan karena menggunakan bahan baku alami, aman dan berbasis lingkungan dengan memanfaatkan limbah biji salak,” katanya.

Alvin dan kawan-kawan berharap kegiatan PKM mereka bisa tetap berlanjut karena sangat membantu mahasiswa seperti mereka yang ingin berkarya, berkreativitas, sekaligus berwirausaha. “Kami berharap usaha kami ini bisa berlanjut dan bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, terutama para petani salak”, tambahnya. (NIRS/Zul)

Pewarta: Oleh: Humas IPB/Alvin Jefry dan Tim

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2018