Bogor (Antara Megapolitan) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mewacanakan mengembangkan kebun raya daerah, khususnya di wilayah Indonesia Timur seperti NTT dan NTB.

"Tantangan bagi PKT Kebun Raya mengembangkan inovasi, mengembangkan kebun raya di daerah yang curah hujannya rendah di Indonesia Timur seperti di NTB dan NTT, atau pulau yang terbatas kandungan potensi air tanahnya," kata Kepala LIPI Prof Iskandar Zulkarnain dalam Seminar Kebun Raya Dan Pengelolaan Sumber Daya Air, di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Iskandar mengatakan peran penting kebun raya selain sebagai kawasan konservasi juga untuk mengatasi permasalahan air di Indonesia. Sebab, kebun raya menjadi kawasan penyangga (buffer zone) untuk penyimpanan air tanah dan menjaga keberadaan air tanah/bersih tetap ada.

Ia menjelaskan konservasi sumber daya air yang ada di kebun raya jangan ditafsirkan seperti menyimpan air, tapi keberadaan kebun raya sebagai sebuah kawasan yang dipenuhi tumbuhan merupakan daerah tangkapan air.

"Air tanah datang dari hujan yang turun ke bumi lalu terjadi penyerapan ke bawah, itu akan mempertahankan tinggi muka air tanah," katanya.

Menurutnya inilah yang menjadi potensi sumber daya air yang bisa dimanfaatkan bagi tumbuhan yang ada di kebun raya.

Jika air hujan yang turun tidak dimanfaatkan oleh tumbuhan di kebun raya, maka air akan mengalir dipermukaan, lepas dan tidak pernah terserap ke dalam tanah, menyebabkan `run off` yang tinggi kerugian menjadi berlipat-lipat bisa menyebabkan kehilangan air pada musim hujan, menyebabkan erosi, dan pada musim kemarau terjadi kekurangan sumberdaya air.

"Jadi keberadaan kebun raya sebagai konservasi sumberdaya air, secara tidak langsung melakukan proses konservasi air," katanya.

Ia mencontohkan pada sebuah penelitian yang dilakukan mahasiswa untuk mengukur kualitas air tanah dengan cara melakukan pengukuran langsung ke sumur penduduk. Daerah yang terdapat kebun raya disekitarnya, mengalami penurunan muka air pada saat kemarau tidak terlalu tinggi dibanding daerah lainnya.

Maka itu, lanjutnya kebun raya menjadi wahana untuk konservasi air. Sehingga, jika kebun raya berada jauh di hutan tidak akan memberikan manfaat, karena hanya dimanfaatkan oleh hewan dan tumbuhan sekitar.

"Seperti keberadaan Kebun Raya Bogor memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, setidaknya mata air masih terjaga," katanya.

Terkait inovasi yang akan dilakukan, selain membangun kebun raya daerah berdasarkan ekoregion, pihak Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya harus berfikir diluar kotak, menghadapi perubahan iklim.

"Kalau berfikir secara linier, tantangan tidak bisa dijawab, kita perlu berfikir `out of the book`, untuk menyelesaikan tantangan," katanya.

Ia menambahkan, peran kebun raya menghadapi isu kelangkaan air, yang bukan disebabkan kelangkaan karena natural iklim, tapi bagaimana menyiasati iklim itu, melalui basis teknologi dan pendekatan ilmu pengetahuan.

"Konsep kebun raya perlu dikembangkan secara progresif, tidak lagi seperti sekarang ini," kata Iskandar.

Kepala PKT Kebun Raya yang juga Kepala Kebun Raya Bogor, Didik Widyatmoko menyebutkan LIPI menargetkan tahun 2030 sebanyak 47 kebun raya daerah sudah terbangun. Setiap tahunnya ada dua sampai tiga kabun raya yang diluncurkan.

Hingga saat ini, lanjutnya sudah ada 20 kebun raya dan ada 23 kebun raya kandidat yang juga siap untuk diluncurkan.

"Kita inginya, setiap tahun ini wilayah Indonesia Timur menyumbang kebun raya, selain di wilayah Indonesia ada dua, bisa jadi di Timur ada satu," katanya.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017