Anemia adalah suatu kondisi dimana keadaan kadar hemoglobin/Hb di dalam darah lebih rendah dari yang seharuasnya/normal.

Penyebab Anemia diantaranya adalah  (1) produksi sel darah merah tidak optimal, contoh: karena zat besi yang dibutuhkan untuk pembuatan sel darah merah didalam tubuh kurang, (2) kerusakan atau destruksi sel darah merah yang eksesif, misalnya pada malaria, (3) kehilangan darah yang eksesif, misalnya karena perdarahan dan cacingan.

Di negara berkembang termasuk di Indonesia penyebab anemia paling banyak (63%) adalah kekurangan atau defisiensi besi, yang merupakan akibat dari pola makan rendah zat besi, mengandung cukup banyak zat besi tetapi yg diserap sangat sedikit, malaria di daerah endemis, yang menyebabkan destruksi sel darah merah, cacingan, yang menyebabkan kehilangan darah jangka lama, faktor keturunan/penyakit-penyakit tertentu, kelompok paling  rentan adalah anak-anak dan perempuan.

Diagnosis Anemia Kadar Hb:

Usia                         Batas Anemia   Anemia ringan   Anemia sedang   Anemia berat
                                 (g/dL)                 (g/dL)               (g/dL)                 (g/dL)

Balita                             11.0                   10 - 10.9             9.9 - 7.0              < 7.0
Anak 5 - 11 th               11.5                   11.0 - 11.4         10.9 - 8.0              < 8.0
Anak 12 - 14 th             12.0                   11.0 - 11.9         10.9 - 8.0              < 8.0
Perempuan > 15 th         12.0                   11.0 - 11.9         10.9 - 8.0              < 8.0
Ibu Hamil                       11.0                   10.0 - 10.9          9.9 - 7.0               < 7.0
Laki-laki > 15 th            13.0                   11.0 - 12.9         10.9 - 8.0              < 8.0

Adapun gejala Anemia diantaranya adalah  letih/lemah/lesu/lalai/lupa, imunitas rendah sehingga meningkatkan risiko terserang penyakit infeksi, gangguan Kognitif yang permanen bila terjadi di usia dini : kurang cerdas, produktivitas turun, pada Anemia berat: Tidak mampu mempertahankan suhu tubuh setelah terpapar pada suhu dingin / sesak nafas Dampak Defisiensi Besi dan Anemia pada Usia Dewasa.

Dampak Anemia Pada orang Dewasa adalah sebagai berikut  :

1.    Kapasitas darah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otak dan otot, juga rendah
2.    konsentrasi belajar dan produktivitas kerja turun

Dampak Anemia pada Siswa/mahasiswa adalah sebagai berikut :

1.    konsentrasi belajar
2.    prestasi disekolah rendah atau tidak optimal
3.    Produktivitas kerja turun
4.    Imunitas lebih rendah sehingga lebih rentan thd penyakit infeksi;


Mengapa Remaja Puteri?

1.    Pertumbuhan cepat, kebutuhan meningkat
2.    Haid: kehilangan darah rutin dalam jumlah cukup banyak
3.    Calon ibu
4.    Periode usia melahirkan: kehilangan darah saat persalinan; jumlah persalinan; jarak antar persalinan; usia melahirkan saat remaja;
5.    Bila ibu sudah hamil akan terlambat, terutama untuk perkembangan organ yang memerlukan asam folat
6.    Pola makan untuk menjaga penampilan

Mengapa Remaja perlu Suplementasi rutin? Pola makan berisiko defisiensi besi/gaya hidup, banyaknya faktor penyebab: kecacingan, dan malaria di daerah remaja Puteri adalah Calon Ibu dimana pada ibu hamil kebutuhan besi meningkat tajam pada Trimester II terutama pada Trimester III.

Persediaan besi sebelum kehamilan harus cukup untuk mobilisasi bila intake tak mencukupi, dan suplementasi besi selama kehamilan, untuk atasi anemia/defisiensi besi; dan untuk kebutuhan selama hamil.

Tablet Tambah Darah (TTD) mengandung 60 mg Besi Elemental dan Asam Folat 400 ug).

Setiap remaja mendapat 48 kapsul untuk satu tahun. Setiap remaja putri disarankan minum 1 (satu) tablet per minggu selama 1 tahun.  

Apakah minum TTD dalam jangka waktu panjang aman?

1.    Dosis Toxic untuk penggunaan jangka panjang? : Jauh dibawah ambang toksisitas;
2.    Mekanisme otoregulasi Besi dalam tubuh
3.    Perlu hati-hati pada yang mempunyai kelainan darah (Thalassemia; Hemochromatosis)
4.    Perlakuan Khusus di daerah endemik malaria

Bagaimana cara mengatasi Anemia ? Makan makanan sumber zat besi, seperti Telur, Ikan, Daging, Ayam, Kacang hijau, Bayam dan sayuran hijau lainnya, makan makanan sumber Vitamin C, seperti Jambu biji, Pepaya, Jeruk, Mangga, Berri, Strawberry atau buah lainnya, menghindari konsumsi zat penghambat penyerapan zat besi, seperti Teh dan Kopi, transfusi darah merupakan cara terakhir.

Untuk meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya TTD dikonsumsi bersama dengan buah-buahan sumber vitamin C, seperti : jeruk, pepaya, mangga, jambu biji, dll.

Makanan dan obat yang mengganggu penyerapan zat besi/ hindari minum TTD bersama dengan:

1. Susu hewani karena umumnya mengandung kalsium dalam jumlah tinggi sehingga dapat menurunkan penyerapan zat besi di mukosa lambung.
2. Teh dan Kopi karena mengandung fitat dan tanin yg dapat mengikat zat besi menjadi senyawa kompleks sehingga tidak dapat diserap.
3. Tablet Kalsium (kalk) dosis tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi.
4. Obat sakit maag yang berfungsi melapisi permukaan lambung sehingga penyerapan zat besi terhambat. Untuk itu bila ingin mengkonsumsi pangan atau obat tersebut, sebaiknya 2 jam sebelum atau 2 jam sesudah mengkonsumsi TTD.

Diharapkan dengan adanya program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri ini dapat menurunkan gejala anemia pada remaja putri sehingga mereka dapat memiliki kesehatan yang optimal menjelang kehamilan.

Menindaklanjuti pencegahan anemia pada remaja putri, Seksi Pembinaan dan Pelayanan Gizi Masyarakat  pada Dinas Kesehatan Kota Bogor melaksanakan sosialisasi pencegahan anemia dengan pemberian tablet tambah pada remaja putri dengan sasaran peserta 100 Kepala Sekolah SMP/SMA se Kota Bogor dan petugas gizi Puskesmas bertempat di Gedung Crysant Harmony Yasmin pada tanggal 23 Maret 2017 dari pukul 08.00 -13.00 WIB.

Pertemuan sosialisasi dan penguatan peran sekolah tersebut menitikberatkan pada paparan tentang apa itu anemia, penyebab, pencegahan, bahaya, dan teknis pemberian tablet tambah darah pada siswi remaja putri agar cakupan pemberiannya meningkat dari 2 tahun sebelumnya.

Setelah sosialisasi ini diharapkan pihak sekolah dapat mensosialisasikan program ini ke siswi-siswi tersebut.

Selanjutnya pihak puskesmas akan melaksanakan monitoring terkait pemberian tablet tambah darah pada para siswa putri di masing-masing sekolah sekolah yang dilaksanakan dan diawasi oleh para guru sekolah/wali kelas dengan frekuensi pemberian 1x seminggu setiap hari Jumat sebelum pulang sekolah.

Setelah itu siswi diharapkan segera pulang ke rumah untuk menghindari rasa mual akibat minum TTD.  

Semoga dengan rutin meminum tablet tambah darah ditunjang pemberian nutrisi yang baik, remaja putri Kota Bogor akan menjadi remaja yang lebih sehat.

(Adv).

(drg. Elva Adyaksani,MKM, Kepala Seksi Pembinaan dan Pelayanan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bogor)*

Pewarta: drg. Elva Adyaksani,MKM

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017