Jutaan nutfah mengisi alam di hutan tropis di Pegunungan Meratus menyilaukan pandangan mata nan memesona bagi yang belum pernah melihatnya.

Kearifan lokal dan budaya adat yang masih dijunjung tinggi oleh warga pedalaman menjadikan alam Meratus masih berdiri kokoh, meski di sudut bibir pegunungan mulai nampak bekas penjarahan oleh tangan-tangan jahil.

Masyarakat lokal di pedalaman hutan Gunung Meratus dan didukung Pemerintah Kabupaten Kotabaru, saat ini masih konsisten dalam menjaga alam dan melestarikan kawasan hutan yang menjadi bagian dari paru-paru dunia itu.

Bukan hanya untuk menjaga kelestarian alam, menjadi sebuah pilihan untuk diputuskan bahwa mereka ingin tetap tinggal jauh dari ingar-bingar perkotaan karena bagi warga pedalaman, hal itu membuatnya lebih sehat dan lebih bahagia.

Jalan setapak licin dan menanjak di puncak gunung dengan jurang yang dalam tak mampu mengubah semangat penghuninya untuk tetap tinggal RT 2 Dusun Juhu Bincatan dan RT 4 Dusun Manggun.

Dua dusun tersebut merupakan bagian dari Desa Muara Urie yang terletak di pedalaman Gunung Meratus, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Penduduk yang tinggal di dusun itu membutuhkan waktu sekitar 7--10 jam untuk menuju desa induk atau Desa Muara Urie Kecamatan Hampang, yang akses jalan menuju desa hanya bisa ditempuh menggunakan jalan kaki.

Meski demikian semua warga yang tinggal di sana merasa tenang, damai, bahkan terlihat rukun dan saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan.

Namun, ketenangan dan kedamaian yang telah tumbuh di tengah masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan Meratus nan jauh dari perkotaan memunculkan suatu persoalan yang sangat kompleks bagi masyarakat itu sendiri.

Masyarakat di sana bayak yang putus sekolah, ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan, bahkan ada sebagian warga ada yang tidak mengenal baca tulis akibat keterbatasan sumber daya manusia sebagai tenaga pengajar di dusun itu.

Adalah Dul Latif (28), warga Muara Urie, yang peduli terhadap nasib anak-anak yang tinggal di kaki Pegunungan Meratus. Ia merasa tersentak hatinya melihat keceriaan mereka yang tidak mengenyam pendidikan.

Memang rezeki merupakan "jatah" yang pasti dibagikan oleh Allah kepada semua mahkluk hidup yang ada di langit dan Bumi. Namun Sang Pencipta tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubahnya.

Hal itulah menjadi inspirasi lelaki yang bertubuh gempal itu untuk memulai niat luhurnya mengubah nasib anak-anak gunung melalui pendidikan.

Sebenarnya Dusun Manggun memiliki bangunan sekolah tingkat dasar. Bangunan itu didirikan oleh masyarakat setempat menggunakan dana swadaya dan diberi nama SDN Muara Urie Kelas Jauh.

Setelah terbangun, gedung dengan konstruksi kayu tersebut tidak memiliki guru karena tidak ada tenaga pendidik yang mau ditugaskan untuk mengajar di sekolah itu.

Bertahun-tahun SDN Muara Uri Kelas Jauh sempat vakum atau tidak ada aktivitas belajar mengajar karena tidak ada yang mau, sebab untuk menuju lokasi tersebut tidak mudah.

Vakum dari kegiatan belajar mengajar dan gedung tak terurus, hal itu membuat Dul Latif, warga Dusun Juhubincatan, Desa Muara Urie, tergugah hatinya untuk memberantas buta huruf.

Dia lantas merantau ke Kota Manado untuk menempuh pendidikan SMA yang sebelumnya pernah terputus beberapa tahun.

Setelah lulus SMA pada tahun 2014, Dul Latif melanjutkan kuliah di Universitas Klabat Kabupaten Minahasa, Utara Sulawesi Utara.

Dul Latif, anak pertama dari tujuh bersaudara, lulus kuliah dan diwisuda pada tahun 2018.

Pada tahun itu juga dia langsung pulang kampung untuk menjadi guru di SDN Muara Urie Kelas Jauh.

Semenjak mengajar di sana, anak-anak dan warga lain yang sebelumnya sempat putus sekolah, diajak kembali ke kelas untuk mengenal lagi dunia pendidikan. Jumlah siswanya kini mencapai 17 orang.

Mereka yang belum bisa membaca, menulis, cara berhitung, dan mengenal wawasan kebangsaan, kini tergugah tentang pentingnya mengenyam pendidikan.

Dul Latif memang menjadi pionir pendidikan di dusun itu. Dia aktif dalam kegiatan sosial dan berorganisasi untuk mengajak seluruh warga Dusun Manggun tetap melanjutkan pendidikan meskipun tinggal di pedalaman.

Bahkan, untuk tetap bisa bertemu dengan para siswa, Dul harus menempuh perjalanan selama 10 jam dari tempat tinggalnya di Dusun Juhu Bincatan untuk menuju SDN Muara Urie Kelas Jauh di Dusun Manggun.

Tidak ada kata terpaksa bagi bapak satu anak tersebut. Ikhlas dan semangat mengajar selalu menyelimuti jiwanya untuk memutus buta aksara pada masyarakat di pedalaman meski persoalan yang dilaluinya penuh tantangan.

Imbalan uang jelas bukan penggerak utama jiwa Dul untuk mengajar di daerah pedalaman itu. Gaji pertama menjadi guru Rp500 ribu per bulan selama 2019. Sejak 2020--2021 naik Rp250 ribu menjadi Rp750 ribu dan pada 2022--2023 naik menjadi Rp1 juta per bulan. 

Status Dul Latif kini telah tercatat sebagai guru honor daerah Kabupaten Kotabaru sejak 2023 dengan gaji Rp1 juta per bulan dan beban kerja mengajar di tiga kelas.

Demi efisiensi waktu dalam mengajar, Dul menyekat bangunan sekolah itu menjadi tiga ruang kelas, yakni untuk kelas satu, dua, dan kelas tiga, dengan jumlah 17 siswa.

Pola mengajarnya secara bersamaan. Setelah memberikan materi di kelas satu, selanjutnya Dul memberi materi pada kelas berikutnya hingga jam pelajaran selesai. Itu dilakukan sejak dia menjadi guru hingga saat ini karena keterbatasan tenaga pengajar di SD itu.

Dalam proses belajar mengajar memang ada keterbatasan media di sekolah itu, misalnya, kurang lengkapnya sarana dan prasarana seperti buku buku, alat peraga, dan fasilitas lainnya. Namun, hal itu tidak melunturkan semangat Dul memintarkan anak-anak pedalaman.


Butuh sentuhan

Dul Latif, mewakili masyarakat pedalaman, berharap segera ada sentuhan dari pemerintah daerah kepada masyarakat yang tinggal di pedalaman Gunung Meratus, khususnya masyarakat Dusun Juhubincatan dan Dusun Manggun, Desa Muara Urie.

"Kami berharap Bupati Kotabaru dapat membuka akses jalan dari RT 2 Dusun Juhubincatan menuju RT 4 Dusun Manggun, Desa Muara Urie, agar masyarakat setempat tidak terisolasi" ujar Dul Latif.

Selama ini belum ada jalan yang memadai untuk dilintasi kendaraan bermotor. Warga setempat hanya mengandalkan jalan setapak kaki manusia. Jalan setapak itu tidak mungkin  dilalui kendaraan bermotor.

Jadi, warga Dusun Juhubincatan dan Dusun Manggun kalau ke kota kecamatan, misalnya, memerlukan berhari-hari mengingat lamanya waktu di perjalanan.

Keterbatasan akses menuju Dusun Manggun juga ditambah dengan tidak tersedianya jembatan kokoh yang menghubungkan dua dusun tersebut menuju desa induk karena terpisah  oleh sungai.

Lebar sungai itu kurang lebih mencapai 50 meter. Agar masyarakat lebih mudah melintas, warga setempat membangun jembatan darurat dari bambu yang diikat menggunakan kawat baja.

Masyarakat yang tinggal di sana mayoritas pekerjaannya sebagai pekebun. Kebun yang mereka kelola berupa tanaman kemiri, kayu manis, dan cokelat. Hasilnya dipikul ke desa induk yang "dekat" dengan Kota Kecamatan Hampang untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan pokok lainnya.

Warga Dusun Juhubincatan dan Manggu mengharapkan perhatian pemerintah dapat merealisasikan pembangunan jalan di kampung itu.

Pasalnya, sebagian besar warga setempat mulai tidak mampu lagi membawa hasil kebun untuk dijual ke kota kecamatan dengan cara dipikul karena faktor usia.

Jika pembangunan jalan yang menghubungkan dua dusun tersebut cepat terealisasi maka dua kampung kecil ini tidak lagi terisolasi. Warga juga dengan mudah dan cepat dapat membawa hasil kebun ke kota dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Pewarta: Imam Hanafi/Sujud Mariono

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023