Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkomitmen untuk melakukan edukasi perihal perubahan cuaca dan iklim dengan mengajak generasi muda melakukan aksi nyata terkait dengan cuaca bumi yang semakin panas.

BMKG berkolaborasi dengan Institut Hijau Indonesia dalam penyelenggaraan program pendidikan Green Leadership Indonesia (GLI). 

Green Leadership Indonesia mengangkat tema "Pemahaman tentang Isu Perubahan Iklim Bagi Green Leaders" tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

"Generasi muda harus berperan aktif dalam upaya melestarikan lingkungan dan menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Indonesia butuh ide, pemikiran sekaligus tindakan nyata yang inovatif dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk menciptakan linkungan yang berkelanjutan," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati setelah menjadi pembicara program GLI pada Selasa.
 
Pada acara tersebut disampaikan fakta bahwa kondisi bumi saat ini cukup mengkhawatirkan akibat dari perubahan iklim. Tidak hanya bencana yang secara intensitas dan durasi semakin bertambah, namun juga krisis air yang juga berimbas pada berbagai sektor kehidupan. 

Salah satunya yang terdampak adalah sektor pertanian dimana Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi dunia akan mengalami ancaman krisis pangan pada tahun 2050 mendatang.

"Belum lama ini, India menolak rencana impor beras dari Indonesia karena tengah mengetatkan kebijakan ekspor guna memenuhi kebutuhan domestiknya. 

Situasi ini menggambarkan bahwa negara lain juga berupaya mengamankan stok pangan mereka. Kondisi cuaca dan iklim yang tidak menentu membuat banyak negara yang juga mengalami situasi sulit," papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang hadir secara daring.

BMKG mencatat secara keseluruhan, tahun 2016 merupakan tahun terpanas di Indonesia dengan nilai anomali sebesar 0.8 °C relatif terhadap periode klimatologi 1981 hingga 2020. 

Tahun 2020 sendiri menempati urutan kedua tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0.7 °C, dengan tahun 2019 berada di peringkat ketiga dengan nilai anomali sebesar 0.6 °C.

"Perubahan iklim memberikan tekanan tambahan pada sumber daya air yang sudah semakin langka dan menghasilkan apa yang dikenal sebagai water hotspot. 

World Meteorolgical Organization mencatat bahwa tahun 2023 menjadi tahun dengan pernuh rekor temperatur. 

Diantaranya adalah sepanjang Juni-Agustus menjadi 3 bulan terpanas sepanjang sejarah serta gelombang panas (heatwave) terjadi di banyak tempat secara bersamaan," ujar Dwikorta Karnawati.

Dampak perubahan iklim sudah sangat terasa di Indonesia. 

Namun, banyak dari masyarakat Indonesia yang belum memahami bahwa cuaca ekstrem yang kerap terjadi merupakan dampak perubahan iklim. Kondisi ini membutuhkan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi dampak bencana hidrometeorologi dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

“Generasi muda harus terlibat dalam berbagai aksi mitigasi dan perubahan iklim termasuk mencegah laju perubahan iklim untuk menjaga keberlanjutan alam dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Untuk memitigasi ancaman krisis pangan BMKG terus melakukan literasi iklim melalui Sekolah Lapang Iklim. 

Sasarannya adalah petani Indonesia, dimana mereka diajarkan dan dilatih keterampilannya untuk terampil dalam memahami bagaimana strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di lingkungan wilayahnya, guna memperkuat ketahanan pangan Indonesia," ungkap Dwikorita Karnawati.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023