Sebagian wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah 2 hari terakhir ini diguyur hujan deras. Hal ini menandakan bahwa masa kemarau perlahan beralih ke musim hujan.

Masuknya musim hujan tentu menjadi berkah bagi seluruh warga Sukabumi karena krisis air bersih mulai berkurang, sumur-sumur warga kembali tergenang dari sebelumnya kerontang akibat kemarau, petani pun bisa kembali menanam padi, serta lahan yang kekeringan sudah mulai basah setelah mendapatkan air.

Namun demikian, ada yang perlu diwaspadai pada awal-awal musim hujan. Biasanya pada awal-awal, hujan turun deras disertai angin kencang dan petir sehingga bisa memicu tanah longsor, banjir, maupun angin puting beliung.

Wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi merupakan daerah rawan terjadi bencana. Bahkan setiap musim hujan selalu ada kejadian bencana, misalnya, longsor, banjir, maupun angin puting beliung.

Tidak hanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota/Kabupaten Sukabumi saja yang harus bersiaga menghadapi musim hujan, tetapi seluruh elemen masyarakat harus siap-siap menyambut kedatangan musim yang dinanti setelah 3 bulan terakhir ini dilanda kemarau.

Menjadi kewajiban semua pihak untuk mempersiapkannya, apalagi baru saja diguyur hujan selama 2 hari saja sudah ada pohon tumbang di Desa Pamuyuran, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, serta ada tanah longsor di wilayah Kota Sukabumi.

Oleh karena itu, mitigasi bencana hidrometeorologi harus dilakukan sejak dini demi meminimalisasi dampak bencana yang terjadi, baik kerugian materi maupun jatuhnya korban luka atau jiwa.

Tidak hanya itu, peralihan dari musim kemarau ke hujan biasanya disertai timbul berbagai penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena kondisi yang awalnya gersang tiba-tiba turun hujan maka akan muncul uap yang bercampur dengan debu dan terisap oleh hidung kemudian masuk ke paru.

Kemudian berbagai penyakit lain yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia karena dengan peralihan musim, tubuh harus kembali beradaptasi yang awalnya cuaca terik turun drastis saat turun hujan.


Mitigasi bencana

Hujan merupakan berkah bagi umat manusia karena hanya dalam waktu 2--3 bulan hujan tidak turun saja sejumlah daerah, khususnya Kota dan Kabupaten Sukabumi, warga merasakan dampaknya, seperti sulit mendapatkan air bersih hingga ancaman gagal panen yang berimbas kepada naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat.

Namun demikian, di balik itu semua ada bahaya yang membayangi warga yakni bencana hidrometeorologi yang harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat. Dengan melakukan mitigasi bencana sejak dini diharapkan bisa mengurangi dampak buruk jika terjadi bencana.

Salah satu bencana yang paling rawan terjadi di wilayah Sukabumi adalah banjir. Kebiasaan baik masyarakat membuang sampah pada tempat akan dirasakan dampaknya pada musim hujan.

Sudah menjadi rahasia umum, masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai. Saat musim kemarau seolah tak terasa dampaknya, namun pada musim hujan, sampah yang menumpuk di aliran sungai akan menjadi malapetaka.

Terhambatnya aliran sungai oleh sampah memicu terjadi bencana banjir karena debit air sungai yang melonjak drastis tidak bisa mengalir secara normal akibat terhalang sumbatan sampah, akhirnya air sungai melimpah ke permukiman warga.

Belum lagi gorong-gorong atau drainase yang penuh dengan sampah juga tidak akan berfungsi normal dan imbasnya pada saat hujan turun, air tidak bisa ditampung dan dialirkan melalui saluran air tersebut.

Kemudian bencana longsor, saat musim kemarau tanah menjadi kering dan retak-retak kemudian tiba-tiba diguyur hujan deras maka menjadi labil sehingga bisa menyebabkan terjadinya longsor.

Maka dari itu, mitigasi bencana sangatlah penting dan jangan sampai warga tidak mempedulikannya. Untuk itu BPBD Kota dan Kabupaten Sukabumi sedari dini mengajak masyarakat bersama-sama membersihkan gorong-gorong dan aliran sungai dari tumpukan sampah.

Kemudian warga yang tinggal di bantaran sungai maupun daerah bertebing untuk waspada dan selalu memantau kondisi lingkungan. Jika ada tanda-tanda akan terjadi bencana lebih baik mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Karena sudah banyak kejadian bencana longsor maupun banjir menelan korban jiwa di wilayah Sukabumi.

Selain itu, BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI) sudah menyiagakan personel dan peralatan antisipasi ada laporan ataupun informasi terjadi bencana. Namun yang paling utama adalah kesadaran masyarakat untuk melakukan antisipasi dan pencegahan sejak dini.

Jangan sampai sudah terjadi bencana, baru sadar pentingnya mitigasi. Sudah menjadi kewajiban seluruh pihak untuk berupaya meminimalisasikan  dampak bencana.

Selain mitigasi bencana, Pemerintah Kota dan Kabupaten Sukabumi saat ini mulai memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan bugar saat peralihan musim. Sosialisasi tersebut itu dilakukan dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit umum daerah (RSUD), dan instansi terkait lainnya.

Tidak hanya pihak eksekutif atau pemerintahan, berbagai komunitas maupun lembaga non-pemerintah seperti PMI, pun mengerahkan personel untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang apa yang harus dilakukan saat musim hujan tiba.

Seperti memberikan imbauan untuk mengkonsumsi vitamin dan makan makanan yang bergizi, juga untuk melakukan olah raga. Kemudian selalu melaksanakan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Datangnya musim hujan harus disyukuri oleh umat manusia. Akan tetapi warga juga harus waspada karena bisa saja saat musim hujan tiba, muncul pula bencana, penyakit, dan ancaman lainnya.

Pada titik inilah mitigasi bencana menjadi keharusan, baik pada musim kemarau maupun hujan.



























 

Pewarta: Aditia Aulia Rohman

Editor : Budi Setiawanto


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023