Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Banten memaksimalkan konservasi air terdiri dari kolam retensi, biopori dan sumur resapan untuk menjaga tinggi muka air tanah sehingga tidak terjadi penurunan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup yakni Tihar Sopian di Tangerang, Selasa mengatakan konservasi air berfungsi untuk mengantisipasi banjir sehingga air hujan yang turun dapat tersimpan di konservasi air.

Saat ini, Kota Tangerang memiliki dua kolam retensi yang tersedia di RW 08, Kelurahan Cipadu Jaya, Kecamatan Larangan dan di RW 08 Kelurahan Cimone, Kecamatan Karawaci. Selain itu, ada juga 1.676 lubang biopori super jumbo telah dibangun di sembilan kecamatan.

Baca juga: Edukasi pelestarian air bersih bagi pelajar

Pada tahun 2023 ini Pemkot Tangerang akan menambah sebanyak 20 sumur resapan dan 50 biopori super jumbo yang diprioritaskan di titik-titik rawan mengalami banjir.

Dijelaskannya, pembangunan ini akan menggunakan skala prioritas yakni di wilayah atau titik-titik yang memang rawan mengalami banjir.

Metode yang digunakan masih sama yaitu ada biopori yang terdiri dari biopori mini, biopori jumbo dan super jumbo. Biopori ini kedalamannya mencapai hingga satu meter. "Lalu, sumur injeksi kedalamannya hingga 40 meter," lanjutnya.

Baca juga: Gandeng pecinta alam, SEGWWL konservasi mata air leuweung Citere

Dengan dibangunnya sumur resapan ini, dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi genangan hingga banjir yang ada di Kota Tangerang, dan air yang sudah dikonservasi dapat bermanfaat bagi masyarakat.

"Harapan kami dan harapan kita bersama, air yang datang ketika hujan turun dapat menjadi berkah. Air yang sudah masuk ke perut bumi, dapat menjadi konservasi dan bermanfaat bagi kita semua dengan bonus tidak terjadi genangan dan mudah-mudahan di tahun ini tidak terjadi banjir di Kota Tangerang," ujarnya.
 

Pewarta: Achmad Irfan

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023