Bogor (Antara Megapolitan) - Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof Surjono Hadi Sutjahjo mengatakan, Indonesia kekurangan tenaga ahli pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas baru pertanian.

"Ada anggapan menjadi pemulia akan memiliki masa depan yang suram. Makanya, pemulia tanaman kurang diminati dan jumlahnya sangat sedikit," kata Surjono di Bogor, Jumat.

Ia mengatakan, tugas pemulia tanaman adalah menghasilkan varietas baru, untuk menghasilkan varietas tersebut pemulia membutuhkan waktu hingga puluhan tahun.

"Jadi tidak heran pemulia tanaman akan bekerja pada tanaman yang berusia pendek," katanya.

Menurut Surjono, dengan jumlah petani Indonesia sebanyak 31.71 juta jiwa (BPS, 2013), maka Indonesia membutuhkan 10.620 orang pemulia tanaman. Dengan asumsi satu orang pemulia tanaman melayani seribu hingga tiga ribu petani.

"Jumlah pemulia tanaman di Indonesia saat ini sekitar 600-an orang, jumlah ini tersebar di berbagai perguruan tinggi, instansi penelitian Pemerintah maupun swasta," katanya.

Untuk mempercepat tingkat produksi pangan nasional, lanjutnya, Indonesia membutuhkan 10 ribu pemulia tanaman.

Menurutnya, Indonesia jauh tertinggal dari Jepang dan negara Asia lainnya dalam menghasilkan varietas unggulan baru dan berada pada urutan keempat setelah Tiongkok, Korea dan Jepang.

"Saat ini Indonesia baru bisa menghasilkan 1.085 varietas baru dari tahun 1984 sampai 2014 atau rata-rata sekitar 81 varietas per tahun," katanya.

Jika dibandingkan dengan Tiongkok dan Korea, lanjutnya, tingkat penyediaan varietas baru mencapai dua sampai empat kali lipat lebih tinggi dari Indonesia.

Sementara Jepang sudah 20 kali lebih tinggi dari Indonesia, yakni setiap tahun mengeluarkan ribuan varietas baru.

Menurutnya, peran lembaga pendidikan tinggi seperti IPB dan perguruan tinggi lainnya sangat penting untuk mencetak calon pemulia tanaman di berbagai level.

"IPB telah memiliki program studi pemuliaan tanaman untuk level sarjana sehak tahun 1997 hingga 2005," katanya.

Saat ini, lanjutnya, di IPB hanya memiliki program studi pemuliaan dan bioteknologi tanaman pada level pascasarjana (S2) dan doktoral (S3) yang dikelola di bawah Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta.

Ia menyebutkan, saat ini IPB hanya memiliki 12 orang staf pendidik aktif di bidang pemulia tanaman sekaligus sebagai praktisi pemulia tanaman yang tergabung dalam divisi genetika dan pemuliaan, Departemen Agronomi dan Hortikultura.

Surjono menambahkan, perlu dukungan kebijakan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di bidang pemulia tanaman seperti peningkatan fasilitas, laboratorium fisik, kebun percobaan, kebun penelitian serta tenaga pendukung lainnya.

"Alokasikan pendanaan khusus untuk pengembangan pendidikan dan penelitian pemulia tanaman," katanya.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016