Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi memotivasi para pembudidaya ikan keramba jaring apung Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata membuat pakan secara mandiri dan tidak mencemari kualitas air di area waduk.

" Saya berharap adik-adik generasi milenial yang berprestasi dan meraih juara STQH saat ini diprioritaskan bisa masuk ke sekolah-sekolah yang memang mereka akan masuk ke jenjang tersebut, Itu harus diupayakan " kata Dedi, usai membuka Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan Berbahan Baku Lokal Bagi Masyarakat Purwakarta, di Purwakarta, Rabu.

Ia mengatakan, kesadaran utama adalah menjaga lingkungan sekitar budi daya agar tidak mencemari kualitas air yang berpengaruh pada ikan.

Baca juga: Dedi Mulyadi berlumuran lumpur saat atasi sungai tercemar galian C di Subang

Selain itu, para pembudidaya juga seharusnya sudah bisa membuat pakan mandiri. Sebab pakan adalah salah satu hal yang membuat ongkos produksi naik.

"Sehingga harus ada solusi bagaimana menekan harga produksi dengan membuat pakan mandiri. Dengan pakan sendiri, modal produksi bisa ditekan, sehingga bisa lebih untung," kata dia.

Saat menjabat Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi sempat menggulirkan gerakan untuk meminimalisir keberadaan jaring apung di Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata.

Keberadaan jaring apung yang tak terkendali membuat kualitas air waduk terus menurun. Selain itu, kualitas ikan di jaring apung pun turut berpengaruh, sehingga banyak yang mati dan tak enak untuk disantap.

Baca juga: Anggota DPR Dedi Mulyadi temukan proyek galian modus bangun restoran di Purwakarta

Dia mengatakan, saat itu harga jual ikan anjlok hingga mencapai Rp10 ribu-Rp18 ribu per kilogram,. Kemudian setelah dikeluarkan kebijakan tersebut, jumlah jaring apung pun berkurang drastis.

"Ya, akhirnya sekarang terasa manfaatnya, kualitas air membaik, kualitas ikan membaik dan harga ikan melonjak sampai Rp35 ribu per kilogram," kata Dedi.

Menurut dia, harga ikan naik drastis karena jumlah produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Berbeda saat jaring apung belum diatur yang membuat jumlah produksi melimpah, sehingga harga jatuh di pasaran.

Selain itu, terungkap juga fakta ternyata para pemilik jaring apung sebelum ditertibkan banyak dimiliki oleh pengusaha dari luar daerah hingga luar negeri. Sementara warga setempat hanya sebagai pekerja.

Baca juga: Anggota DPR temukan lubang besar pembuangan sampah dan limbah ilegal di Purwakarta

"Tapi lihat sekarang, pembudidaya lokal mulai tumbuh. Mereka sekarang punya jaring apung sendiri dan bukan dikuasai oleh pengusaha dari luar," kata dia pula.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan I Nyoman Hadiarta mengatakan selama ini salah satu masalah yang dihadapi oleh pembudidaya adalah harga pakan yang mahal, sehingga membuat untung menipis.

"Kita tahu sendiri bahwa pakan itu memakan biaya produksi 60-70 persen, sehingga dengan membuat pakan mandiri, pembudidaya bisa semakin untung dan lebih sejahtera," kata Nyoman pula.

Pewarta: M.Ali Khumaini

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2022