Bogor (Antara Megapolitan) - Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mendorong mahasiswa agar mengaplikasikan ilmunya untuk diterapkan di lapangan melalui program upaya khusus peningkatan produksi pangan.

"Jangan sampai ilmu mahasiswa yang dipakai dari kuliah ke kuliah tapi dari kuliah ke lapangan, sehingga aplikasi menjadi penting," kata Kepala Badan PPSDMP, Pending Dadih Permana, kepada Antara, dalam acara Training of Master Pendampingan Mahasiswa/Alumni di sentra produksi pangan 2016 yang berlangsung di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Ia mengatakan, sejak 2015, BPPSDMP telah melakukan pendampingan kepada petani dan penyuluh bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri di setra produksi pertanian yang tesebar di 17 provinsi.

Berbeda dengan tahun sebelumnya 2015, program pendampingan lebih difokuskan pada fisik berupa penyaluran alat dan pembangunan lahan irigasi. Namun, langkah tersebut belum optimal, karena dari sisi SDM petani yang belum mumpuni dalam mengaplikasikan teknologi yang diberikan.

"Tahun ini kita prioritaskan pendampingan, peningkatan SDM petani dengan melibatkan mahasiswa dan dosen, serta supervisor," katanya.

Untuk meningkatkan kemampuan para pendamping dalam mendampingi petani, perlu penguatan kapasitas dan pelatihan agar program yang direncanakan dapat berjalan. Tahun lalu pelatihan dilakukan di balai-balai milik Kementerian Pertanian. Tahun ini, metodeloginya diubah, pelatihan didekatkan langsung ke lapangan.

"Sekarang diubah menjadi latihan langsung di lapangan (on the job training-red), pelatih didekatkan dengan tempat mereka bekerja, jadi tidak perlu alasan tidak bisa lagi," katanya.

Tahap awal, lanjutnya, penguatan kapasitas tenaga pedampingan dilakukan terhadap dosen sebagai master training yang akan membimbing mahasiswanya untuk turun ke lapangan memberikan pendampingan kepada petani dan penyuluhan. Hasil dari pelatihan tersebut, diharapkan dosen membuat modul-modul yang dapat diaplikasikan mahasiswa saat pendampingan.

"On the Job training menjadi solusi solusi untuk meningkatkan SDM petani, sehingga diharapkan semakin banyak dosen yang merancang metode ini yang sifatnya tematik, disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah," katanya.

Ia mengatakan, petani memiliki pengalaman dan keahlian pertanian yang mumpuni, hanya saja pendidikan formilnya tidak memadai. Oleh karena itu, agar kualitas SDM petani meningkatan, pendampingan mahasiswa langsung ke lapangan sangat dibutuhkan," katanya.

Program pendampingan mahasiswa dalam UPSUS peningkatan produksi pangan delapan komiditi prioritas tidak hanya untuk peningkatan produksi semata, tetapi SDM pertanian yang berkualitas, mulai dari SDM birokrat, SDM pelaku usaha dan SDM petani.

"Sinergitas harus dibangun, ada amanat undang-undang yang harus kita jalankan, nawa cita untuk membangun pertanian yang bekelanjutan," katanya.

Ia mengatakan, program pendampingan mahasiswa dalam UPSUS memanggil generasi muda Indonesia untuk turun membangun dunia pertanian.

"Selain pendampingan UPSUS, kita juga memiliki program wirausaha muda pertanian yang akan mendapatkan insentif dari pemerintah bagi mereka yang mau bergerak di sektor produksi pertanian," katanya.

Tahun ini terdapat 15 perguruan tinggi dan enam STPP yang terlibat. Perguruan tinggi negeri tersebut yakni Universitas Syah Kuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Lampung, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, IPB, UGM, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Tanjungpura, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Universitas Mataram, Universitas Hasanuddin, Universitas Tadulako.

Sedangkan enam STPP, yakni STPP Medan, STPP Bogor, STPP Magelang, STPP Magelang Jurluhtan dan UGM, STPP Malang, STPP Gowa dan STPP Manokwari.

Enam STPP dan 15 perguruan tinggi negeri yang terlibat dalam pendampingan ini berada di sentra produksi pangan, perkebunan, hortikultura dan peternakan yang meliputi delapan komoditas strategis nasional yakni padi, jagung, kedelai, tebu, kakao, cabai, bawang merah, dan sapi potong.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016