Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) NLP Indi Dharmayanti mengharapkan para periset perempuan Indonesia dapat mampu mendorong lingkungan riset yang mampu berkontribusi dalam kemajuan negara dan bermanfaat bagi masyarakat.

Berbicara dalam diskusi virtual BRIN edisi Hari Kartini yang diikuti di Jakarta, Kamis, ia menyoroti bahwa data UNESCO memperlihatkan masih adanya kesenjangan gender dalam keterlibatan di sains dengan 70 persen adalah laki-laki dan perempuan 30 persen.

Untuk BRIN sendiri, menurutnya, terdapat 56 persen laki-laki dan 44 perempuan dari total 4.102 peneliti.

"Saya harapkan bahwa dengan kekuatan yang kita miliki, perempuan sebagai periset di BRIN memang diharapkan mampu mendorong lingkungan riset yang mampu menciptakan penemuan dan inovasi dan berkontribusi tentunya terhadap kemajuan bangsa dan negara serta bermanfaat bagi masyarakat," kata NLP Indi Dharmayanti.

Dalam diskusi yang sama, Kepala OR Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari dalam peringatan Hari Kartini yang dilakukan setiap 21 April secara khusus ingin menyoroti bahwa berdasarkan statistik 50 persen periset di OR Pertanian dan Pangan adalah perempuan.

Profil sumber daya manusia itu membuktikan bahwa profesi perempuan sebagai periset memberi kontribusi yang sama terhadap ketahanan pangan nasional.

Dia juga ingin mendorong periset terutama perempuan meniru sikap tidak mudah menyerah ketika masih ingin mencoba yang diusung Kartini.

"Ini sepertinya penting untuk periset karena sering penelitian kita gagal, terutama seperti molekuler, genomik itu banyak sekali kegagalan. Di lapangan banyak hama penyakit, di sini jangan pernah menyerah, bisa dicoba lagi," demikian Puji Lestari.

Baca juga: Empat perempuan peneliti di BRIN dikukuhkan jadi profesor riset
Baca juga: BRIN: Tujuh tim kembangkan vaksin produk dalam negeri
 

Pewarta: Prisca Triferna Violleta

Editor : Riza Harahap


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2022