Kupang (Antara Megapolitan) - Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam baru telah menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai daerah tujuan wisata dunia bertepatan dengan kebijakan bebas visa kepada 94 negara untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

"Sejak ditetapkannya Komodo sebagai salah satu 'The new seven Wonders of Nature' (tujuh keajaiban alam yang baru), maka NTT pun telah menjadi pintu masuk pariwisata Indonesia selain Bali, yang sudah sangat dikenal selama ini," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Parektif NTT, Welly R. Rohimone di Kupang, Senin.  

Ia mngatakan keberadaan komodo (Varanus komodoensis) di Taman Nasional Komodo sebagai ikon baru tujuan wisata itu juga didukung oleh tiga pulau yaitu Rica, Padar dan Komodo, telah menarik perhatian dunia sebagai species purba yang masih tersisa saat ini.

Momentum ini katanya kemudian dimanfaatkan dengan menggelar berbagai ajang nasional maupun internasional sebagai jembatan bagi NTT menuju destinasi unggulan.

"Sail Indonesia yang telah digelar mulai tahun 2009, di tahun 2013 ini dilaksanakan di NTT dengan tema Sail Komodo.  Komodo saat itu mulai menjadi primadona Indonesia dalam kontek tujuan pariwisata untuk menggenjot kunjungan wisatawan mancanegeara ke Tanah Air yang berujung pada kesejahteraan melalui sektor Pariwisata," katanya.

Harapan terhadap kesejahteraan dan keberhasilan ekonomi melalui "Komodo" ini katanya secara tidak langsung telah digantungkan oleh banyak penduduk  lokal NTT, disamping menjadi visi pemeritah daerahnya karena Pariwisata yang dikenal memiliki "multi plier effect" khususnya bagi perkembangan perekonomian daerah dan berkembangnya bisnis penyediaan kebutuhan industri hospitality, diharapkan dapat tersebar merata di seluruh penjuru NTT dan mensejahterakan penduduknya.

"Visi ini searah dengan  konsep dan tujuan pembangunan kepariwisataan di Indonesia yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dimana identitas dan kesejahteraan penduduk lokal merupakan bagian dari tujuan yang ingin dicapai," katanya.  

Kerangka pembangunan pariwisata yang berkelanjutan menjadi indikator keberhasilan pembangunan kepariwisataan Nasional, dimana penggunaan produk lokal, pemberdayaan dan kesejahteraan penduduk lokal, kelestarian lingkungan dan keberlangsungan budaya setempat serta pemerataan pembangunan perekonomian daerah menjadi sebagian kecil dari sekian banyak indikator keberhasilannya.

Komitmen terhadap pembangunan pariwisata yang berkelanjutan ini juga telah tercantum dalam "Global Code of Ethics for Tourism" yang digagas pada tahun 1999.

"Ternyata impian ini tidak semudah yang dibayangkan. Dalam pelaksanaan puncak Sail Komodo pada tanggal 14 September 2013 yang dibuka oleh Presiden RI dan dihadiri oleh 3000 tamu undangan yang terdiri dari instansi pemerintah pusat dan daerah, duta besar negara sahabat, stakeholder bidang kelautan dan perikanan serta penduduk dan tokohnya, menyisakan beberapa keluhan dari penduduk local NTT," katanya.  

Keikut sertaan nelayan tradisional dalam parade internasional tersebut terbatasi, begitu juga dengan keterlibatan penduduk lokal dalam persiapan dan pelaksanaan hajat besar NTT. Fokus pelaksanaan kegiatan yang menelan biaya puluhan miliar ini tercurah penuh pada citra dan persiapan penyambutan tamu internasional.  

Karena itu, katanya Komodo sebagai ikon pariwisata baru Indonesia, perlu disikapi dengan bijaksana dan seimbang, khususnya dengan fungsi konservasi dan pemanfaatan wisata yang disandang bersamaan oleh Taman Nasional Komodo.  

Konflik kepentingan antara fungsi konservasi yang mengutamakan "kesejahteraan" komodo sebagai species langka yang menjadi perhatian dunia internasional dengan kesejahteraan daerah dimana ekonomi menjadi parameternya, perlu dipertemukan melalui konsep yang menjadikan keduanya sebagai bagian dari tujuan yang ingin dicapai.

"Pendekatan 'product driven' dengan pertimbangan utama terletak pada kebutuhan dan kelestarian komodo sebagai produk intinya, dapat dijadikan sebagai konsep pengelolaan Taman Nasional Komodo," katanya.  

Sementara wilayah lain di luar Taman Nasional dapat dikembangkan dengan berbagai sarana prasarana wisata yang mengangkat keunikan budaya dan alam NTT sebagai daya tarik wisatanya.  

Pengorganisasian ruang dan pendekatan konsep yang seimbang antara produk inti dan kenyamanan/kepuasan wisatawan ini dapat diaplikasikan melalui konsep ekowisata, yang merupakan bentuk wisata yang bertanggung jawab dan dijadikan komitmen oleh seluruh "stake holder" yang terlibat seperti pemerintah daerah, akademisi, pengelola, investor, penduduk local dan wisatawan.
    

Pewarta: Hironimus Bifel

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015