Dolar naik ke level tertinggi dua minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB), didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) AS dapat mengurangi pembelian asetnya (tapering) pada akhir tahun, meskipun ada lonjakan kasus COVID-19.

Namun dolar mundur dari posisi tertingginya di perdagangan sore. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, semula menguat menjadi 92,887, tertinggi sejak 27 Agustus. Terakhir naik sedikit di 92,664.

Putaran data ekonomi AS akan dirilis minggu ini, dimulai dengan harga konsumen pada Selasa waktu setempat, yang akan memberikan pembaruan terbaru tentang seberapa panas inflasi menjelang pertemuan Fed minggu depan.

Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker menjadi pejabat terbaru yang mengatakan dia ingin bank sentral mulai melakukan tapering tahun ini, mengatakan dalam wawancara dengan harian Nikkei bahwa dia ingin mengurangi pembelian aset.

Pembicaraan tentang tapering telah mendorong dolar lebih tinggi, kata Ahli Strategi Makro Wells Fargo Securities, Erik Nelson, di New York.

Baca juga: Dolar AS melemah, euro terangkat langkah ECB pangkas dukungan darurat

"Kami melihat dari komunikasi Fed bahwa mereka ingin memutuskan hubungan tapering dari kenaikan suku bunga," kata Nelson. “Tetapi akan membutuhkan banyak hal meyakinkan dan terus terang banyak waktu bagi pasar untuk mengubah fungsi reaksinya. Untuk saat ini, alur waktu tapering terkait erat dengan alur waktu kenaikan suku bunga di pasar.”

Tapering biasanya mengangkat dolar karena itu berarti langkah menuju kebijakan moneter yang lebih ketat. Ini juga berarti The Fed akan membeli lebih sedikit aset utang, yang menunjukkan akan ada lebih sedikit dolar yang beredar.

The Wall Street Journal melaporkan pada Jumat (10/9/2021) bahwa pejabat Fed akan mencari kesepakatan untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada November.

Selain inflasi, angka penjualan dan produksi ritel AS juga dijadwalkan akan dirilis minggu ini.

"Angka IHK (Indeks Harga Konsumen) tinggi lainnya minggu ini dalam menghadapi data ekonomi yang melemah dapat mulai membuat Fed tersudut, karena tekanan meningkat untuk normalisasi stimulus," kata Christopher Vecchio, Analis Senior DailyFX.com, unit riset dari broker valas IG.

Baca juga: Dolar AS pangkas kenaikan karena pembicaraan Fed yang "dovish"

Euro termasuk di antara mata uang yang melemah terhadap dolar, merosot ke 1,1770 dolar, terendah dalam lebih dari dua minggu, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan pekan lalu akan mulai memangkas pembelian obligasi daruratnya. Euro terakhir turun 0,1 persen pada 1,1801 dolar.

Terhadap yen, dolar naik 0,1 persen pada 110 yen. Dolar juga naik 0,5 persen versus franc Swiss menjadi 0,9228.

Baca juga: Dolar AS menguat, investor kesampingkan laporan pekerjaan AS mengecewakan

Di pasar mata uang kripto, Bitcoin jatuh 2,8 persen menjadi 44.762 dolar.

Litecoin, dengan kapitalisasi pasar hampir 12 miliar dolar dan salah satu mata uang digital paling awal yang beredar, turun 2,6 persen menjadi 180,78 dolar, menurut pelacak data kripto CoinGecko, setelah Walmart Inc mengatakan dalam siaran persnya mengenai kemitraan pengecer dengan uang kripto itu palsu.

Litecoin naik sebanyak 27,4 persen karena berita palsu tersebut.
 

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Feru Lantara


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2021