Medan (Antara Megapolitan) - Diah Siallagan bukanlah siapa-siapa di lingkungan masyarakatnya yang hidup di Pulau Samosir. Dia tak lebih dari seorang petugas pos masuk kompleks wisata Batu Persidangan dan Batu Parhapuran Huta Siallagan di Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Namun bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi dan Riau dalam beberapa pekan terakhir ini telah turut mengusik kehidupan perempuan yang mengaku pernah lama menetap di Bandung, Jawa Barat, sebelum hijrah ke Samosir ini.

"Kabut asap turut memengaruhi kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Samosir ini. Biasanya dari Juni hingga September ini, arus kunjungan wisatawan asing cukup banyak, tapi sekarang ini tidak begitu ramai," katanya kepada Antara yang menemuinya di lokasi wisata tersebut, Minggu (13/9).

Kabut asap yang sempat memeranguhi jadwal penerbangan Bandar Udara Internasional Kuala Namu sebagai pintu masuk utama pariwisata Sumatera Utara beberapa waktu lalu akibat penurunan jarak pandang itu juga dikeluhkan Rockhudson Rumahorbo, sopir mobil penumpang CV Parapat Indah.

Seperti halnya Diah, sopir perusahaan transportasi antarkota dalam provinsi yang berbasis di Pasar Tiga Raja, Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, ini juga mengkhawatirkan berkurangnya arus kunjungan wisatawan asing akan memukul pendapatan masyarakat di daerah tujuan wisata Samosir dan sekitarnya.

Apa yang disampaikan Diah dan Rockhudson yang boleh jadi mewakili kekhawatiran kebanyakan warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata itu diamini sejumlah wisatawan asing yang berlibur di Pulau Samosir.  

Di antara para wisatawan mancanegara yang terusik dengan bencana kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah di Pulau Sumatera itu adalah Jonathan Daniels Rojas dan Lia Le Ster.

Dua wisatawan asal Prancis yang mengaku baru pertama kali berlibur di Indonesia dan takjub dengan kekayaan wisata seni-budaya dan alam Pulau Sumatera ini mengatakan bencana asap tersebut mengusik hati dan fikiran mereka.

"Saya merasa kasihan dengan penduduk yang kesehatan dan perekonomiannya terganggu oleh bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan itu," katanya.

Jonathan kemudian menyinggung pengalaman buruk Italia akibat bencana ekologis yang disebabkan deforestasi dan kebakaran hutan di negara itu di masa lalu. "Saya berharap Indonesia bisa segera menghentikan kebakaran hutan dan lahan ini," katanya.

Harapan yang sama juga disuarakan turis asal Polandia, Zuzanna Kasprzyk. Perempuan langsing yang sempat mengisi liburannya di kawasan desa wisata Tuktuk Siadong, Samosir, ini pun berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia mampu menghentikan kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Keberhasilan dalam menghentikan bencana ekologis tahunan akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan itu justru akan memperkuat posisi pariwisata Indonesia, kata perempuan yang berprofesi sebagai penari dan pelatih tari modern ini.

Gugatan terhadap kabut asap di Sumatera dan Kalimantan ini tidak hanya datang dari berbagai kalangan di Indonesia tetapi juga dari mereka yang ada di luar negeri. Melalui jejaring internet, mereka menyuarakan keprihatinan dan gugatan mereka, termasuk melalui komentar-komentar di situs berita media internasional.

Seorang pengunjung laman Aljazeera berbahasa Inggris yang menamakan dirinya "tightrope007" misalnya menuliskan komentarnya atas berita (14/9) berjudul "Indonesia declares state of emergency over fire haze. Thick haze from forest blaze worsens air quality as far away as Singapore".

Komentarnya atas berita Aljazeera tentang status darurat asap yang telah diumumkan Indonesia dan dampaknya terhadap kualitas udara di Singapura tersebut berbunyi: "Stupid Indonesians, what good is money if you cant breathe" (Orang-orang Indonesia bodoh, apa bagusnya duit jika kalian tak bisa bernafas).
                                                                      Bukan Kasus Baru
Bencana asap seperti yang kini terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan bukanlah kasus baru bagi Indonesia. Sebaliknya, bencana ekologis yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan di dua pulau utama Indonesia ini sudah terjadi sejak 1997-1998.

Artinya, telah ada enam presiden yang silih berganti berkuasa, namun kebakaran hutan dan lahan ini tak kunjung dapat dihentikan Indonesia padahal Organisasi PBB Urusan Pendidikan, Sains dan Budaya (UNESCO) telah memberikan pengakuan pada negeri ini sebagai bagian dari warisan hutan tropis dunia.

Belajar dari kasus kebakaran hutan dan lahan tahun 1997-1998, nilai kerugian ekonomi akibat bencana ekologis di dua pulau utama Indonesia terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara terbilang tinggi.

Menurut laman resmi Kerja Sama Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Bidang Lingkungan Hidup, total nilai kerugian yang diakibatkan oleh bencana asap lintas batas negara yang terjadi 18 tahun silam itu mencapai sembilan miliar dolar AS.

Kerugian itu dihitung dari total biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat yang terpapar kabut asap serta kehilangan nilai ekonomi akibat kerusakan hutan dan lahan yang terbakar serta berbagai sektor yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung bencana ekologis ini, seperti pariwisata, transportasi dan produksi pertanian.

Di tengah bencana kabut asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan 18 tahun silam itu, publik Tanah Air bahkan dikejutkan oleh kecelakaan pesawat Garuda bernomor penerbangan GA-152.

Tak seorang pun dari 234 orang yang berada di pesawat yang jatuh di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, pada 26 September 1997 selamat. Di antara mereka yang tewas dalam musibah itu adalah dua jurnalis SCTV.  

Tak hendak bencana asap lintas negara ini berulang, para menteri lingkungan hidup ASEAN pun bertemu. Pertemuan mereka pada akhir 1997 itu, seperti diungkap laman resmi ASEAN, menghasilkan Rencana Aksi Asap Kawasan yang memuat langkah-langkah pencegahan, mitigasi dan pemantauan kebakaran hutan.

Rencana aksi yang dihasilkan pertemuan tingkat menteri tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemberlakuan Perjanjian ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas. Namun kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan yang mengakibatkan polusi asap lintas batas tersebut tak kunjung dapat dihentikan Indonesia.

Akibatnya, Presiden ke-enam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, terpaksa meminta maaf kepada Malaysia dan Singapura atas dampak kabut asap yang dirasakan rakyat kedua negara tetangga itu pada 2013.

Akankah permintaan maaf yang sama kembali disampaikan Presiden Joko Widodo? Tak seorang warga negara Indonesia pun menginginkan hal itu terjadi. Karenanya, tak ada pilihan lain kecuali menghentikan bencana ekologis tahunan ini.

Harapan orang-orang kecil seperti Diah Siallagan dan Rockhudson Rumahorbo agar bencana kabut asap dapat dihentikan supaya mereka yang hidup dari arus kunjungan wisatawan dapat bernafas lega, dan Indonesia mampu berdiri dengan kepala tegak di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

   

Pewarta: Rahmad Nasution

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015