Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah seiring deflasi pada Agustus 0,05 persen (mom) atau 1,32 persen (yoy).

Rupiah ditutup melemah 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp14.573 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.563 per dolar AS.

"Pasar mengamati kerangka kebijakan baru The Federal Reserve yang terus memicu taruhan bahwa suku bunga AS akan tetap lebih rendah lebih lama daripada negara lain," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa.

Wakil Gubernur The Fed Richard Clarida saat mengkonfirmasi komentar Gubernur The Fed Jerome Powell yang menunjukkan pergeseran fokus ke inflasi rata-rata dan lapangan kerja yang lebih tinggi.

Baca juga: Harga emas naik 3,7 dolar AS setelah "greenback" jatuh

Kerangka kerja tersebut telah memicu kemunduran dari dolar, dengan The Fed sekarang diberikan lebih banyak ruang untuk menjaga suku bunga acuan lebih rendah lebih lama.

Dari domestik, ada kabar baik yaitu aktivitas manufaktur Indonesia meningkat dan sudah masuk zona ekspansi. IHS Markit melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Agustus 2020 berada di 50,8, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 46,9.

Baca juga: Anjlok Rp10.000, harga emas Antam Rp1.020.000/gramnya

"Kalau melihat data manufaktur yang positif, ada kemungkinan kontraksi PDB di kuartal ketiga akan lebih kecil di bandingkan dengan PDB kuartal kedua, sehingga walaupun terjadi resesi namun hanya bersifat sementara," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp14.535 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.535 per dolar AS hingga Rp14.613 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.615 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.554 per dolar AS.
 

Pewarta: Citro Atmoko

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2020