Bogor, (Antaranews Bogor) - Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat siap mewujudkan keinginan Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi embrio guna mendukung ketersediaan bibit sapi unggul di Indonesia. "Meningkatkan produksi bisa saja dilakukan, tetapi butuh persiapan, selain lahan, indukan, juga sumber daya manusianya," kata Kepala BET Cipelang Tri Harsi disela-sela kunjungan Menteri Pertanian Amran Sulaiman ke Balai Embrio Ternak, Cipelang, Senin. Ia mengatakan, kebutuhan lahan idealnya untuk memproduksi masa bibit embrio besar-besaran dengan 1.000 ekor sapi donor yakni antar 400 hingga 500 hektar. Luas lahan ini sangat luas untuk penghijiauan dan pemeliharaan sapi-sapi donor dan indukan yang ada di balai embrio. "500 hektar itu untuk leluasa bagi pemelihara, penghijauan, laboratorium, kalau kantor tidak perlu, hanya untuk sapi produksi bibit saja," kata dia. Dikatakannya, saat ini Balai Embrio Ternak Cipelang, hanya memiliki lahan seluas 90 hektar, dengan jumlah sapi indukan sekitar 600 ekor. Lahan tersebut sudah tidak bisa dikembangkan lagi. Sementara itu, dalam setahun BET Cipelang mampu menghasilkan 600 hingga 700 embrio melalui dua metode yakni invintro dan invivo. Pada tahun 2014, BET menghasilkan 750 embrio yang disalurkan ke seluruh Indonesia. "Tahun 2015 ini target produksi 850 embrio," katanya. Menurutnya, ada banyak tantangan yang dihadapi untuk meningkatkan produksi embrio sapi bibit unggul, terutama dari metode invivo dinilai agak sulit menghasilkan embrio, karena satu dono hanya bisa empat kali produksi sapi dalam setahun. Selain itu, harga sapi donor juga cukup mahal, untuk satu ekor sapi betina dijual seharga Rp60 juta dan sapi jantan seharga Rp100 juta. "Kalau embrio ini diperuntukkan bagi program swasembawa daging, itu perlu metode invitro atau laboratorium, dan yang paling memungkinkan metode ini," katanya. Ia mengatakan, pengembangan instalasi embrio ternak di sembilan wilayah untuk meningkatkan produksi memerlukan perhitungan selain anggaran juga ketersediaan sumber daya manusia, kriteria produktivitasnya seperti apa dan kemana saja akan dipasarkan. "Total biaya Rp4,5 miliar itu baru hitungan kasar untuk bibit, belum pembangunan instalansi dan sumber daya manusianya. Misalnya alat laboratorium cukup Rp500 juta untuk mikroskop dan inkubator serta perlatan lainnya, tetapi belum yang lainnya kan," katanya. Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam kunjungannya ke Balai Embrio Ternak Cipelang mendorong agar produksi embrio ditingkatkan untuk mendukung ketersediaan bibit sapi unggul di Indonesia. Kementerian Pertanian akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp5 miliar untuk mengembangkan sembilan Balai Embrio Ternak (BET) yang ada di Indonesia, dengan harapan bisa memproduksi embrio sapi kembar.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015