Jakarta (ANTARA) - Petani di Kelurahan Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), meminta agar pemerintah segera memperbaiki sistem drainase di wilayah mereka karena saluran air yang tidak memadai membuat sawah terendam banjir hingga berbulan-bulan dan berujung pada gagal panen.
"Airnya tidak cepat buang. Kalau hujan gede, salurannya kecil, jadi tersumbat," kata salah satu petani yang bernama Sahali di Jakarta Utara, Rabu.
Dia mengungkapkan sekitar dua hektare lahan sawah yang dia kelola tidak menghasilkan panen sama sekali pada tahun ini. Tanaman padi rusak akibat terendam air dalam waktu lama, terutama saat curah hujan tinggi.
Menurut dia, genangan air yang berlangsung lama itu membuat padi membusuk dan diserang hama keong. Kondisi ini menyebabkan hasil pertanian tidak dapat dijual ke pasaran.
Baca juga: Banjir rendam belasan hektare sawah di Cilincing Jakut, petani terancam gagal panen
Hasil panen padi menurun 50 persen dari biasanya 12 ton menjadi hanya 6 ton akibat banjir yang menggenangi persawahan selama dua minggu setelah diguyur curah hujan tinggi dan aliran kali irigasi yang tidak lancar
"Padinya lodoh, hancur. Jadi, ya, gagal panen, rugi," ucap Sahali.
Selain merugikan secara produksi, banjir juga berdampak terhadap pendapatan petani. Sahali menyebutkan harga gabah anjlok jauh dari harga normal.
"Biasanya, gabah dapat dijual Rp670 ribu-Rp680 ribu per kuintal, kini hanya dihargai sekitar Rp400 ribu per kuintal," ungkap Sahali.
Dia pun berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan banjir permukiman, tetapi juga memperhatikan lahan pertanian yang masih bertahan di wilayah Jakarta Utara.
Pewarta: Siti NurhalizaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026