Depok (ANTARA) - Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia mengajak masyarakat untuk menata ulang relasi manusia dan alam.
“Tahun Baru adalah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) baik secara individual maupun sosial. Bencana ekologi Sumatera yang terjadi menjelang akhir tahun merupakan bahan muhasabah penting yang menuntut kita melakukan koreksi atas relasi manusia dengan alam dan lingkungan," kata Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw di Kampus UI Depok, Rabu.
UI menyelenggarakan acara Majelis Nyala Purnama #9* dengan tema: “Tahun Baru, Semangat Baru, Wajah Baru: Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam”.
Ia mengatakan pola relasi yang eksploitatif dan menjadikan alam sebagai obyek pemuas nafsu serakah telah menimbulkan bencana yang menuntut korban jiwa dan harta benda.
Lewat majelis Nyala Purnama, kami ingin menata ulang relasi alam dan manusia yang lebih harmonis dan seimbang sehingga sehingga tercipta hubungan saling menjaga antar keduanya, sebagaimana yang diajarkan para leluhur Nusantara melalui berbagai tradisi yang sarat dengan nilai-nilai yang penuh kearifan.
Dalam acara yang terdiri atas beberapa sesi seperti Orasi Budaya, Musik, Tari, Pembacaan Puisi, dan Meditasi ini hadir sejumlah narasumber dan seniman seperti Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Prof. Dr. Tito Latif Indra, Arsitek Yori Antar, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan, Musisi Dima Miranda, dan kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya.
Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra mengatakan Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi akibat kondisi geologis, geografis, dan klimatologisnya. Selama ini, penanganan kebencanaan cenderung didominasi oleh pendekatan teknokratis dan berbasis respons darurat.
Namun, pengalaman empiris menunjukkan bahwa banyak komunitas lokal di Indonesia memiliki kemampuan adaptif yang kuat terhadap bencana melalui sistem budaya dan kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun.
Pulau Sumatera dalam beberapa dekade terakhir mengalami peningkatan signifikan kejadian bencana ekologis berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Bencana-bencana tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai manifestasi dari degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS), perubahan iklim, serta paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya memperhitungkan daya dukung lingkungan”, ungkap ya.
Prof. Tito juga mengkaji peran budaya Indonesia dalam membentuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana, serta bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis kajian literatur dan studi kasus, Ia menunjukkan bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan dan mekanisme mitigasi bencana yang efektif.
Integrasi antara ilmu kebencanaan modern dan kearifan lokal menjadi kunci dalam membangun sistem kebencanaan yang berkelanjutan dan kontekstual di Indonesia.
Dinamika bencana ekologis di Sumatera menempatkan DAS sebagai unit analisis utama, serta menegaskan pentingnya penataan ulang relasi manusia dan alam melalui restorasi ekosistem dan kebijakan pembangunan yang berkeadilan ekologis.
Arsitek Yori Antar bercerita tentang kiprah dalam melestarikan arsitektur tradisional Indonesia, termasuk tentang Uma Nusantara, yaitu yayasan yang ia dirikan untuk fokus pada upaya penyelamatan dan pembangunan kembali rumah-rumah adat yang hampir punah di berbagai pelosok Indonesia.
Baca juga: UI GreenMetric dorong kampus berkelanjutan target net zero emisi
Baca juga: UI GreenMetric dan BPLH gelar workshop pengelolaan lingkungan perusahaan
