Banjarbaru (ANTARA) - Dua mahasiswi Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Ira Qadariah dan Ashaku Dioktara berhasil menciptakan karya ilmiah yakni memanfaatkan kulit limau kuit atau jeruk purut sebagai bahan baku inovasi nano-gum alami untuk pencegahan karies.
"Kulit limau kuit mengandung senyawa flavonoid, triterpenoid, tanin, alkaloid, dan minyak esensial yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis, dua bakteri utama penyebab karies gigi," kata Ira kepada ANTARA di Banjarbaru, Kalsel, Senin.
Melalui pendekatan green technology, ide ini tidak hanya menghadirkan solusi kesehatan mulut yang efektif dan ramah lingkungan, tetapi juga mendukung pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal secara berkelanjutan.
Baca juga: ULM terima hibah Rp2,48 miliar untuk buka Prodi di Luar Kampus Utama di HST Kalsel
Baca juga: ULM cetak 1.300 sarjana di wisuda ke-127
Baca juga: ULM konsisten terus cetak guru PAUD unggul untuk generasi hebat
Ira menyebut jeruk purut selama ini sering terbuang dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga hanya menjadi sampah.
Dia mengakui gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka penderita karies gigi yang menurut data global menyerang 60 hingga 90 persen anak-anak dan hampir 100 persen orang dewasa.
Sementara di Indonesia penderita karies gigi mencapai 82,8 persen penduduk.
Di satu sisi, keterbatasan akses pelayanan gigi di daerah pedesaan dan ketergantungan terhadap produk impor berbahan kimia menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat.
Berangkat dari persoalan tersebut, Ira dan Ashaku menggali potensi lokal Kalimantan Selatan dan akhirnya menemukan produk inovasi kulit jeruk purut sebagai bahan baku nano-gum alami untuk pencegahan karies.
