dana-penelitian-politeknik-masih-minim-Depok, 25/10 (ANTARA) - Direktur Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Prof Dr Ir Johny Wahyuadi mengungkapkan, dana penelitian untuk politeknik di Indonesia masih sangat minim.
"Dana yang kami dapatkan untuk penelitian masih jauh dari ideal," katanya usai membuka Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNP2M) tahun 2011, di Gedung PNJ, Selasa.
Menurut dia dana penelitian untuk 2011 hanya berjumlah Rp2,7 miliar, yang harus dibagi dengan 312 jumlah dosen yang ada di Polteknik Negeri Jakarta (PNJ).
Untuk itu kata dia pihaknya akan mengajukan dana tambahan pada 2012 mendatang menjadi sekitar Rp5 miliar dan pada 2015 akan naik menjadi Rp7,5 miliar.
Dikatakannya hasil penelitian yang dilakukan para peneliti politeknik sangat berguna bagi kepentingan masyarakat banyak.
Johny mengatakan, idealnya seorang peneliti mendapatkan uang penelitian minimal Rp100 juta per orang.
"Penelitian yang berkualitas tentunya berguna bagi masyarakat," kata Johny.
Dikatakannya, PNJ memiliki mesin daur ulang sampah semacam Unit Pengolahan Sampah (UPS) di Kota Depok. Mesin ini, kata dia, diberinama IDU kepanjangan dari Industri Daur Ulang Sampah.
"Kalau hasil penelitian para peneliti dari politeknik bisa dicetak masal bukan tidak mungkin banyak hal dapat diatasi di Indonesia," katanya.
Sementara itu Deputi bidang Kelembagaan Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Untung Tri Basuki pihaknya menawarkan kerjasama antara kementeriannya dengan PNJ terkait pengembangan inkubator bisnis.
"Kami ingin PNJ memberikan pelatihan wirausaha kepada para calon pengusaha," katanya.
Hal tersebut katanya telah dilakukan kerjasama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
"Masih banyak unit usaha yang harus diperhatikan dan dikembangkan. Dengan melatih para pelaku usaha baru diharapkan semakin memperkuat perekonomian Indonesia," ujarnya.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.