distan-bogor-temukan-usus-ayam-berformalinBogor, 18/7 (ANTARA) - Dinas Perindustrian Kota Bogor, Jawa Barat menemukan belasan kilogram usus ayam mengandung formalin yang dijual di pasaran Bogor.
Penemuan 18 kilogram usus ayam berformalin tersebut terjadi dalam inspeksi mendadak yang digelar di Bogor, Selasa.
"Dari hasil sidak yang kita lakukan di Pasar Bogor, ditemukan kurang lebih 18 kilogram usus ayam berformalin yang dijual dua orang pedagang," kata Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Kota Bogor, Robert Hasibuan.
Dikatakannya, 18 kilogram usus ayam berformalin yang ditemukan diperoleh dari dua pedagang berbeda, 5 kg diperoleh dari Laela dan 13 kg dari Jumirah.
Awalnya pedagang memperoleh usus berformalin dari Laela, setelah melakukan pemeriksaan secara ketat, petugas mendapatkan 13 kg lagi dari pedagang Jumirah.
"Ternyata Laela ini menjualkan lagi usus ayam berformalin ini kepada pedagang lain yakni Jumirah. Disana kita mendapatkan 13 kg usus," katanya.
Menurut Robert, pada sidak tahun lalu, Laela juga kedapatan oleh petugas menjual usus ayam berformalin.
Dihadapan petugas PPN, Laela mengaku tidak mengetahui usus yang dijualnya mengandung formalin. Ia mengatakan, mengambil usus dari paguyuban pedagang penjual usus.
Karena sudah dua kali kedapatan melanggar aturan, Dinas Pertanian Bogor melayangkan laporan ke Polres Bogor untuk memproses Laela lebih lanjut.
Robert menyebutkan, menjelang Ramadhan Dinas Pertanian Kota Bogor menggelar sidak pedagang daging ayam dan daging sapi.
Sidak hari pertama digelar Senin (16/7) pada siang hari di dua pasar yakni Pasar Anyar dan Pasar Bogor.
Dalam sidak gabungan yang dilakukan Dinas Pertanian, bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan (BPMPP) menemukan 7 kg daging ayam busuk dan 2 kg usus ayam berformalin di Pasar Bogor.
"Hari pertama sidak kita menemukan 2 kg usus berformalin dan 7 kg daging ayam busuk yang dicampur dengan ayam segar lainnya," katanya.
Penemuan daging ayam busuk dan berformalin tersebut diketahui setelah petugas BPMPP melakukan tes laboraturium di lokasi.
Setelah dibuktikan daging tersebut tidak layak jual, petugas lalu menyita seluruh barang dagangan pedagang.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian Kota Bogor, Drh Wina menyebutkan, penggunaan formalin sangat tidak bagus untuk kesehatan bisa dikonsumsi.
Menurutnya, penggunaan formalin oleh pedagang nakal untuk mengawetkan daging jeroan yang dijual para pedagang.
"Jeroan ini bagian dari tubuh hewan yang proses pembusukannya cepat. Jadi pedagang yang bijak akan mengawetkannya dengan cara direbus. Tapi tetap tahannya tidak bisa lama. Jadi, oleh pedagang yang curang memberikan formalin agar awet dan tahan lama," katanya.
Menurut Wina, untuk membedakan daging berformalin atau tidak dapat dilihat secara kasat mata.
"Perhatikan tekstur dagingnya, daging berformalin aroma kimianya lebih kuat, warnanya putih pucat dan tidak dihinggapi lalat," katanya.
Laily R
: Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.