Bekasi (Antaranews Bogor) - Badan Pusat Statistik Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat adanya peningkatan jumlah masyarakat setempat yang masih berstatus sebagai pengangguran.

"Angkanya hampir mencapai sepuluh persen, dan ini tergolong jumlah yang mengkhawatirkan," kata Kepala BPS Kota Bekasi Slamet Waluyo di Bekasi, Jumat.

Menurut dia, jumlah pengangguran tersebut merujuk pada peningkatan data yang dirilis pada 2012 dan 2013 yang mencapai 9,6 persen dari jumlah total penduduk Kota Bekasi sekitar 2,5 juta jiwa.

Adapun jumlah penggangguran di tahun 2013, kata dia, mencapai 111.669 jiwa, atau meningkat 9,6 persen dari tahun sebelumnya 2012, yang hanya 93.676 jiwa.

"Penggangguran yang ada sekarang, merupakan penggangguran terbuka, yakni mereka yang pernah bekerja namun tidak lagi bekerja, serta mereka yang belum pernah bekerja sama sekali," katanya.

Peningkatan jumlah penggangguran tersebut diperkirakan akibat adanya dampak dari kenaikan bahan bakar minyak yang berujung pada banyaknya perusahaan yang gulung tikar.

Selain itu, adanya krisis ekonomi dunia juga turut mempengaruhi jumlah pengangguran di suatu daerah.

"Karena banyak perusahaan yang orientasi ekspor dengan menggunakan bahan baku impor mengalami kesulitan. Termasuk pula dari tuntutan kenaikan upah yang cenderung menyebabkan banyak investor terjepit," katanya.

Namun faktor dominan, kata dia, berupa lapangan pekerjaan yang belum memenuhi kebutuhan yang tinggi, ditambah lagi dengan masalah sumber daya manusia yang banyak belum memenuhi kriteria dunia industri.

"Angka pengangguran yang ada sekarang juga dipicu dari dampak urbanisasi, di mana Kota Bekasi sebagai kota megapolitan tidak lepas dari tujuan pencari kerja. Banyak yang datang ke Bekasi tanpa bekal ilmu dan keterampilan," katanya.

Pewarta: Andi Firdaus

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2014