Dalam rangka memperingati Hari Kartini, diselenggarakan “Tembang Alit Kartini” sekaligus Penghargaan MURI Kartini 2026 pada Minggu, 19 April 2026 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Tembang Alit Kartini dikemas dalam format pertunjukan dramatik musikal yang menghadirkan pembacaan surat-surat Kartini dalam beberapa babak, kemudian dipadukan dengan komposisi musik dan kolaborasi tari.

"Narasi pertunjukan mengangkat fase-fase penting kehidupan Kartini, mulai dari masa pingitan hingga gagasannya tentang pendidikan perempuan. Selama pertunjukan, musik iringan setiap babak puisi dimainkan oleh pemusik piano, biola, cello, dan gamelan Jawa," ujar Aylawati Sarwono selaku Produser Eksekutif Tembang Alit Kartini, yang juga tokoh seni yang telah menggelar berbagai pertunjukan dalam keterangannya, Selasa.

Tembang Alit Kartini merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah membuka jalan emansipasi perempuan Indonesia, sekaligus apresiasi bagi perempuan perempuan inspiratif masa kini yang menggerakkan berbagai organisasi dari ragam bidang yang berbeda.

Sebagaimana disampaikan oleh Jaya Suprana, Kartini bukan sekadar perempuan, ia adalah cahaya zaman. Melalui surat-suratnya, ia membuka jendela dunia bagi kaum wanita.

Penghargaan MURI Kartini 2026 bertujuan untuk Pertama mengapresiasi perempuan Indonesia yang telah mencetak rekor dan prestasi luar biasa di bidangnya masing-masing.

Kedua memberikan inspirasi dan motivasi kepada generasi perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa.
Ketiga meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya peran strategis perempuan dalam pembangunan Nasional.
Keempat menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Kartini dalam konteks kekinian.

Konsep pertunjukan

Dalam aktivitasnya berkesenian, dapat dilihat dalam kiprahnya sebagai CoFounder Jaya Suprana School of Performing Arts dan sebagai Direktur Utama Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang masih aktif hingga saat ini.

Jaya Suprana menciptakan "Tembang Alit”, komposisi solo piano karya pertamanya yang diciptakan pada tahun 1984. Karya tersebut dipergelarkan perdana di dunia oleh Iravati M.
Sudiarso di Taman Ismail Marzuki," jelas Aylawati Sarwono.

Sutradara Wawan Sofwan meramu ratusan surat Kartini menjadi alur dramatis yang saling terhubung. Bukan lagi potongan kisah, tapi perjalanan hidup yang terasa utuh. Mulai dari masa pingitan, relasi intelektualnya, hingga perjuangannya di bidang seni dan pendidikan.

Tantangan terbesarnya adalah merajut surat-surat itu jadi satu cerita yang punya sebab- akibat menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan perempuan bisa diwujudkan lewat aksi nyata di kehidupan sehari-hari. Dan Kartini bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan.

Semangatnya bisa hidup lewat hal-hal sederhana yang kita lakukan untuk sesama,” ujar Wawan Sofwan.

Wawan Sofwan adalah sutradara teater Indonesia yang dikenal luas melalui pementasan pidato-pidato Soekarno berhasil menerima rekor MURI.

Sejumlah tokoh Perempuan Nasional turut serta dalam pembacaan surat Kartini, di antaranya:
1. Asha Smara Darra – Ketua Yayasan Umaratu
2. Ayu Heni Rosan – Ketua Yayasan Citra Kartini Indonesia
3. Diah Kusumawardani Wijayanti, S.Sos., M.Hum. – Ketua Yayasan Belantara Budaya
4. Dra. Dewi Sulastri – Founder Yayasan Swargaloka
5. Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A – Ketua Yayasan Hatta
6. Dr. Emi Wiranto – Pembina Yayasan Sekar Ayu Jiwanta
7. Evy Amir Syamsudin, B.A., S.H. – Ketua Yayasan Second Chance
8. Gendis Soeharto, B.Sc. – Ketua Yayasan Ketua Yayasan Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (YL - GNOTA)
9. Happy Farida Djarot – Ketua Yayasan Krida Kebaya Jakarta
10. Hetty Andika Perkasa, S.H., M.H. – Ketua Perempuan Laju Perkasa 11. Ike Nirwan Bakrie – Ketua Perkumpulan Rumah Pesona Kain
12. Inaya Wulandari Wahid - Jaringan Gusdurian
13. Inti Nusantari Subagio – Founder/President Director For All Nations Campus
14. Nanik Hadi Tjahjanto, S.H. – Ketua Umum KOWANI 2024–2029
15. Sendy Dede Yusuf, S.T. – Ketua Yayasan Batik Jawa Barat

"Selama ini, banyak orang mengenal R.A. Kartini lewat kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang. Tapi pementasan “Tembang Alit” menghadirkan perspektif yang lebih dalam dan cukup mengejutkan.Kartini ternyata bukan cuma penulis, tapi juga sosok impresario yang aktif mempromosikan seni ukir Jepara ke dunia internasional dan15 tokoh Perempuan Nasional yang turut memeriahkan Tembang Alit Kartini berhasil menerima MURI sebagai bentuk inspirasi, motivasi dan dedikasi kepada generasi perempuan Indonesia,"kata  Aylawati Sarwono.

Laskar Indonesia Pusaka, komunitas seni di bawah naungan Yayasan Kebudayaan dan Kemanusiaan Jaya Suprana yang berfokus mengangkat seni panggung tradisional Indonesia ke tingkat internasional.

Jaya Suprana School of Performing Arts, lembaga seni yang memiliki misi melahirkan generasi muda pelestari seni budaya bangsa berstandar internasional.

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), lembaga pencatat rekor nasional berskala dunia yang didirikan pada 27 Januari 1990 dan konsisten mendokumentasikan prestasi luar biasa bangsa Indonesia, termasuk dalam bidang seni dan budaya.

Kegiatan ini juga didukung oleh Sekar Ayu Jiwanta, Amero Jewellery, Second Chance  Foundation, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan V2 Indonesia.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026