Taman Safari Indonesia (TSI) berharap kerja sama konservasi panda dengan China dapat diperpanjang setelah kelahiran bayi panda bernama Satrio Wiratama di kawasan wisata tersebut.
General Manager TSI Bogor, Sere Nababan di Cisarua, Senin, mengatakan kelahiran Satrio menjadi bukti keberhasilan TSI dalam merawat satwa langka sekaligus memperkuat peluang perpanjangan kerja sama dengan China.
“Sampai sejauh ini kami bersyukur baby Satrio dalam keadaan sehat dan saat ini sudah mulai belajar merangkak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi bayi panda terus dipantau secara berkala, termasuk pengukuran berat badan, tinggi badan, serta perkembangan perilaku setiap 10 hari.
Baca juga: Dubes China Wang Lutong lihat kondisi Cai Tao-Hu Chun 8 tahun tinggal di TSI Bogor
Baca juga: Nikmati sensasi kabut Gunung Gede Pangrango di Istana Panda TSI Bogor
Menurut dia, keberhasilan TSI dalam merawat sepasang panda raksasa Cai Tao dan Hu Chun hingga melahirkan keturunan diharapkan menjadi pertimbangan bagi pemerintah China untuk melanjutkan kerja sama yang dijadwalkan berakhir pada 2027.
“Kami berharap ini bisa menjadi perhatian, bagaimana kami memberikan kontribusi dalam konservasi panda. Mohon doanya,” kata Sere.
Diketahui, panda raksasa di TSI merupakan hasil kerja sama konservasi antara Indonesia dan China yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Sepasang panda, Hu Chun dan Cai Tao, didatangkan dari Chengdu, Provinsi Sichuan, China, dan tiba di Indonesia pada 28 September 2017 sebelum menjalani masa karantina di kawasan TSI Cisarua.
Baca juga: Taman Safari Bogor rayakan 7 tahun kedatangan sepasang panda raksasa
Hu Chun merupakan panda betina yang lahir pada 8 September 2010 dengan makna nama “danau di musim semi”, sedangkan Cai Tao adalah panda jantan kelahiran 4 Agustus 2010 yang namanya berarti “pemuda tampan dan karismatik”.
Saat tiba di Indonesia, Hu Chun memiliki bobot 113 kilogram, sementara Cai Tao berbobot 128 kilogram, dan keduanya dinyatakan mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim, lingkungan, serta pola perawatan di TSI.
Kerja sama pengiriman panda tersebut merupakan bagian dari hubungan diplomatik Indonesia–China yang telah terjalin lama, dimulai dari kesepakatan pada 2013 dan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman pada 2016 antara TSI dan China Wildlife Conservation Association.
Dalam skema kerja sama tersebut, panda yang dipinjamkan beserta keturunannya pada prinsipnya akan kembali ke negara asal setelah masa kontrak berakhir.
Namun demikian, TSI berharap keberhasilan pengembangbiakan panda di Indonesia dapat membuka peluang perpanjangan kerja sama, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam konservasi satwa global.
Selain aspek konservasi, keberadaan panda juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kawasan Puncak, Bogor.
Editor : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026