Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas II Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meminta masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan kelelawar, guna mencegah penularan virus nipah yang dapat membahayakan jiwa.

"Potensi penularan virus nipah cukup tinggi, karena kelelawar ini banyak di Indonesia," kata Kepala BKK Kelas II Pangkalpinang Agus Syah di Pangkalpinang, Jumat.

Ia mengatakan virus nipah ini ditularkan oleh kelelawar, baik bersentuhan atau kontak langsung maupun tidak. Minsalnya, virus yang cukup mematikan ini bisa ditularkan melalui gigitan, air liur, urine dan lainnya.

"Buah-buahan yang digigit kelelawar ini dan masuk ke peternakan babi dan dimakan oleh ternak tersebut dan kemudian tertular virus ini, sehingga ternak tersebut dikonsumsi oleh manusia dengan memasak tidak higienis tentu warga tersebut bisa tertular virus nipah tersebut," ujarnya.

Baca juga: Barantin perketat lalu lintas komoditas cegah virus Nipah masuk Indonesia
Baca juga: Pemprov DKI diminta tingkatkan surveilans guna antisipasi virus Nipah,

Ia menyatakan virus nipah ini juga ditularkan melalui orang ke orang lainnya baik melalui air liur, darah, berhubungan badan, lainnya dan hal ini terjadi di India.

"Saat ini virus ini sudah mewabah di India dan banyak petugas kesehatan tertular virus nipah dari pasiennya, karena proteksi petugas Kesehatan dalam menangani pasiennya kurang bagus," katanya.

Ia menambahkan gejala orang tertular virus nipah ini diawali pusing, demam, batuk dan puncak penyakit nipah ini adalah radang otak dan paru=paru, sehingga ini yang membuat tingkat fatality atau potensi kematiannya mencapai 40 hingga 75 persen.

Baca juga: Kemlu pastikan tak ada WNI di India tertular virus Nipah

"Di Indonesia sendiri belum terdeteksi apakah sudah masuk atau belum virus nipah ini. Namun demikian, kita harus tetap waspada, karena kelelawar ini banyak terdapat di daerah ini dan potensinya sangat tinggi," ujarnya.

Ia menyatakan awalnya pada 1996 hingga 1999, penyakit nipah ditemukan di peternakan babi Malaysia, artinya secara geografis Indonesia bersentuhan dengan Malaysia.

"Penyakit ini harus diwaspadai, karena sangat berbahaya dan menular sehingga diperlukan pengawasan ketat, baik pengawasan di peternakan maupun lalu lintas orang di pelabuhan maupun bandara," katanya.

Pewarta: Aprionis

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026