Dr. Zeno Leoni, pakar grand strategy Amerika Serikat (AS) dan China, menilai strategi pertahanan nasional AS tahun ini tetap sejalan dengan gagasan offshore balancing.

Offshore balancing adalah strategi kebijakan luar negeri di mana negara besar seperti AS mengurangi kehadiran militernya secara langsung di luar negeri, tetapi mendorong sekutu regional untuk menangani ancaman keamanan di kawasan masing-masing.

"Menurut saya, Strategi Pertahanan Nasional 2026 menjelaskan kepada kita bahwa Amerika Serikat tetap sejalan dengan gagasan offshore balancing," kata Zeno dalam webinar "Lingkup Pengaruh dan Pengurangan Strategis: Bagaimana Trump Membentuk Kembali Persaingan Kekuatan Besar dan Implikasinya bagi Indo-Pasifik" yang dipantau dari Jakarta, Kamis (29/1).

Zeno, pengajar Studi Pertahanan di King's College London, menjelaskan bahwa sepanjang sejarahnya, AS umumnya menerapkan strategi besar offshore balancing. Meski ada pengecualian seperti Perang Vietnam serta pendudukan di Irak dan Afghanistan, strategi ini pada dasarnya ditujukan untuk menjaga dominasi AS di Belahan Bumi Barat.

Menurut dia, negara adidaya itu berupaya mencegah munculnya kekuatan hegemonik lain di Eropa, Asia Timur, Teluk Persia, dan Indo-Pasifik dengan mengandalkan kekuatan militer, tetapi tanpa keterlibatan berskala besar seperti di Irak dan Afghanistan.

Zeno menilai strategi yang tertuang dalam dokumen keamanan nasional AS itu menegaskan kembali pentingnya Eurasia dan jaringan aliansi dalam menjaga stabilitas di perbatasan dengan Indo-Pasifik.

"Saya pikir ini tetap tidak berubah. Memang ada pembicaraan tentang pergeseran fokus ke Belahan Bumi Barat, tetapi kita masih belum memiliki kejelasan yang cukup," katanya.

Ia menambahkan bahwa meskipun Presiden Donald Trump kerap menyampaikan pernyataan serupa dan AS memindahkan sejumlah aset militer ke Belahan Bumi Barat, rencana strategis Washington di kawasan itu belum sepenuhnya jelas, termasuk terkait serangan terbaru terhadap Venezuela.

Terkait China, Zeno mengatakan telah terjadi perdebatan apakah pemerintahan Trump mengurangi fokus persaingannya dengan Beijing. Namun, ia menilai pemerintah AS saat ini lebih pragmatis serta tidak menjadikan isu nilai-nilai dan demokrasi sebagai faktor utama yang bisa memicu konflik terbuka dengan China.

Melalui strategi pertahanan nasionalnya, pemerintahan Trump cenderung mendorong sekutu regional untuk berperan lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan, alih-alih mengandalkan kekuatan militer AS secara langsung, kata Zeno.

Pemerintahan Trump juga menyatakan secara resmi bahwa Indo-Pasifik tetap menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia. Oleh karena itu, AS dinilai tidak dapat sepenuhnya menjauh dari kawasan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa meski ada peningkatan perhatian terhadap Belahan Bumi Barat, AS memiliki kebutuhan struktural untuk terus memproyeksikan kekuatannya di Indo-Pasifik, kata Zeno.

Pewarta: Katriana

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026