Menteri Luar Negeri Jerman melontarkan kritik keras kepada Rusia dan China atas dukungan berkelanjutan kedua negara tersebut terhadap rezim Iran di tengah gelombang unjuk rasa anti pemerintah yang meluas di negara itu.
“Kerja sama antara Iran, Rusia, dan sebagian juga China — segitiga ini bertanggung jawab atas banyak kemalangan di dunia,” kata Johann Wadephul pada Selasa (13/1) waktu setempat kepada penyiar publik ARD saat melakukan kunjungan ke Washington, DC.
Wadephul menuduh pemerintah Iran menekan demonstrasi dan menggunakan kekerasan berlebihan terhadap para pengunjuk rasa, serta menyatakan bahwa rezim tersebut telah kehilangan legitimasi untuk memerintah negara itu.
“Rezim ini harus diisolasi secara tegas,” ujar Wadephul.
Menteri Jerman itu juga menambahkan bahwa Berlin telah meningkatkan upaya diplomatik untuk mendorong sanksi yang lebih keras serta memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar sanksi anti teror Uni Eropa.
Ketika ditanya mengenai peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran dan spekulasi terkait kemungkinan intervensi militer, Wadephul mengatakan bahwa ia telah membahas perkembangan terbaru dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
“Saya tidak tahu apa keputusan akhirnya. Kami telah mendiskusikan isu ini dan saya hanya diberi tahu bahwa belum ada keputusan final. Rezim di Iran pasti telah menyadari bahwa presiden ini mampu dan juga bersedia mengambil langkah semacam itu. Kami dapat mengamati hal ini dalam beberapa pekan terakhir,” jelasnya.
Jerman sebagai sekutu utama Israel, mengambil sikap garis keras terhadap pemerintah Iran di tengah gelombang protes yang meluas di negara tersebut. Kanselir Friedrich Merz sebelumnya menyatakan bahwa rezim Teheran tengah menjalani hari-hari dan pekan-pekan terakhirnya.
Sementara itu, Duta Besar Iran juga dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Jerman pada Selasa.
“Tindakan brutal rezim Iran terhadap rakyatnya sendiri sungguh mengejutkan,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
“Kami mendesak Iran untuk menghentikan kekerasan terhadap warganya dan menghormati hak-hak mereka,” tambah pernyataan tersebut.
Iran telah diguncang gelombang protes sejak bulan lalu, yang bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran. Protes tersebut dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke sejumlah kota lain.
Pejabat pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan dan aksi terorisme.
Tidak ada angka resmi mengenai jumlah korban. Namun, Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok HAM yang berbasis di AS, memperkirakan lebih dari 2.500 orang tewas.
HRANA juga mencatat bahwa aparat keamanan dan pengunjuk rasa, serta lebih dari 1.100 orang lainnya terluka, serta 18.000 orang telah ditahan. Kendati demikian, angka-angka ini belum dapat diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lainnya.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Pemerintah Iran tegaskan aparat prioritaskan pelindungan nyawa pengunjuk rasa
Baca juga: Kedubes Iran sebut pernyataan Trump dan Netanyahu picu eskalasi kekerasan di Teheran
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026