Sejak penerbangan pukul 09.30 pagi dari Soekarno Hatta,

sampai tiba di Don Mueang pukul 14.00 pada zona waktu yang sama dengan di Jakarta, lambung terasa kosong. Sedikit perih. Tapi rasa lapar perlu sedikit menunggu sebentar lagi.

Begitulah yang dirasakan empat pewarta LKBN ANTARA yang ditugaskan meliput SEA Games ke-33 di Thailand.

Elmo perlu gambar tentang SEA Games ke-33 di Thailand. Sekadarnya saja. Karena di bandara yang tidak besar ini, tidak terasa ada pesta olahraga Asia Tenggara sedang dihelat. Tidak ada gambar-gambar penyemangat olahraga di bandara, kecuali satu pojok tempat meja informasi relawan, dan area foto bersama maskot dan tulisan "33rd SEA GAMES, Thailand 2025".

"Oh, ini kayak Halim," kata Ramdan.

Benar juga. Bandara ini seadanya. Tidak mewah. Bahkan lebih bagus Halim Perdanakusuma.

Buru-buru kami memesan Grab yang entah, mungkin empat atau lima kali ditolak, sampai akhirnya hanya mobil van untuk 10 orang yang bersedia mengangkut kami dengan bagasi melebihi kapasitas. Di dalam tas koper Elmo saja sudah seharga satu mobil Innova peralatan yang dibawa. Belum ditambah alat milik Afghan. Kamera dan lensa yang bersiap mengabadikan calon-calon juara Indonesia.

Lagi-lagi suara perut yang minta makan harus ditahan. Perjalanan hampir satu jam, dan kami berempat harus lebih dulu menyimpan barang-barang di unit apartemen sewaan. Hingga akhirnya waktu makan benar-benar datang.

Mie babi. Nasi dengan babi panggang. Sosis babi. Duh, kami tidak bisa makan ini. Usaha berkeliling area trotoar sekitar tempat menginap berakhir sia-sia. Perut lagi-lagi masih harus lebih sabar.

Sampai akhirnya, dipilihlah salah satu restoran yang banyak menjajakan sayuran di etalase, dan banyak gambar hewan laut. Tapi ketika kami melihat menu dengan bantuan Google Translate. Babi lagi.

Bismillah. Kami pesan ikan goreng, cumi, telur dadar untuk Ramdan, dan som tam pesanan Afghan.

Satu per satu makanan datang. Dimulai dari som tam.

Tampilannya menarik. Katanya terbuat dari irisan pepaya muda, tambah tauge Bangkok yang besar-besar (karena semua buah atau sayuran yang besar sering disebut Bangkok), sedikit kacang panjang, irisan tomat merah, wortel, jeruk nipis, pecahan kacang tanah sangrai, yang disiram dengan saus berwarna oranye kecoklatan. Warnanya menggugah perut-perut kami yang kelaparan.

Keempat garpu kami langsung menyerbu som tam yang hanya satu piring tidak besar. Hmm.. rasanya segar tentu saja, asam dari jeruk, pedasnya cabai, sedikit manis, dan gurih jadi satu di mulut. Pecahan kacang tanah sangrai jadi tambahan rasa gurih dan memunculkan tekstur agar tidak membosankan.

Lumayan. Mudahnya, rasa som tam 11 12 dengan asinan sayur Bogor.

Kemudian tumis cumi didatangkan, lalu ikan goreng asam manis, dan dua telur dadar pesanan Ramdan. Tapi nasinya hanya tiga untuk kami berempat. Kami mempelajari bahasa Thailand pertama kami: khaaw. Nasi!

Tapi pramusajinya bilang mereka kehabisan nasi. Yasudah kami berbagi. Dan bagi saya, hanya tom sam yang berkesan. Sisanya, lidah kebanyakan mengecap asam.

Beberapan hari liputan SEA Games di Thailand, lidah rasanya sudah kompromi dengan rasa asam dan manis yang dominan. Katanya, makanan di Thailand enak-enak. Bahkan ayam goreng yang dijual di pinggir jalan saja sudah enak. Benarkah?

Ucapan itu saya uji sendiri. Di halaman depan kawasan komplek Otoritas Olahraga Thailand (Sports Authority of Thailand) ada bazar. Rasanya seperti berburu takjil di kawasan Benhil di Jakarta. Bedanya, sebagian besar belum saya kenal menunya. Kebanyakan halal karena penjualnya berhijab. Sedikit yang ada gambar babi lucu di spanduk meja etalase. Dan cuma satu-satunya gerai yang menjual belalang, ulat sagu, jangkrik, dan belatung goreng di sana.

Sisanya, seperti yang banyak terlihat di video YouTube tentang streetfood Thailand. Menggugah. Seperti ingin semuanya dicoba.

Tapi yang mau diuji adalah ayam goreng yang berwarna merah. Saya beli dua, satu paha dan satunya lagi sayap. Diberikan dengan tambahan saus Bangkok.

Rasanya ternyata tidak wah. Enak. Ayam goreng yang dimarinasi beberapa rempah. Saya merasakan ketumbar, lada, dan bawang putih, lalu dibalur sedikit maizena, kemudian diselimuti paprika bubuk berwarna merah supaya menggoda. Gurih selayaknya ayam goreng. Tapi tidak selezat ayam goreng kunyit serundeng Indonesia punya.

Tambahan rasa memukul lidah jika ayam goreng itu dilumuri saus Bangkok yang pedas asam, dengan sedikit nota manis di ujung lidah. Lumayan.

Lalu saya juga sempat coba tom yum udang dengan kuah krim yang sedikit kental. Udang di Thailand besar-besar. Tidak spesial rasanya. Tapi enak.

Mungkin saya salah tempat mencicipi makanan khas Thailand. Bagi saya, tom yum terenak masih dipegang oleh Istana Mie dan Es di Semarang. Oh, mereka juga buka cabang di Cirebon. Coba saja. Saya menjamin tak akan menyesal.

***

Pada setiap pesta olahraga multi cabang di luar negeri, pemerintah melalui Komite Olimpiade Indonesia (KOI) selalu berupaya menghadirkan yang terbaik bagi para atlet kita. Salah satunya adalah rumah singgah yang bisa dikunjungi oleh para atlet, tim ofisial, dan media.

Pada Olimpiade Paris 2024, itu diberi nama Rumah Garuda. Di Bangkok, namanya Rumah Indonesia. Fungsinya tak berbeda. Tempat bagi para atlet untuk recovery dari kerasnya kompetisi dan sesaknya merindu rumah.

Ada kamar untuk tidur siang. Fisioterapis buat pemulihan badan. Dan tentu saja, rendang dan sambel untuk obat kangen.

"Saya.... sudah tiga kali. Ini (Bangkok), di China, sama Prancis."

Ellyana merujuk pada pesta olahraga SEA Games 2025, Asian Games Hangzhou 2023, dan Olimpiade Paris 2024.

"Alhamdulillah, rejeki."

Mpok Elly, begitu panggilan akrabnya, mengulum senyum kecil untuk merendahkan hati. Tanganya terampil mengiris bawang merah porsi arisan keluarga besar.

Siapa sangka, makanan terlezat yang saya cicipi selama di Bangkok datang dari rendang bikinan Mpok Elly.
 

Menu masakan khas nusantara yang tersedia di Rumah Indonesia di Bangkok, selama SEA Games 2025. (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Pertama kali saya ke Rumah Indonesia, menu pertama yang saya cicipi adalah rendang dan dendeng balado. Dendengnya daging kering bawaan dari Indonesia, tapi sambal baladonya segar dengan cabai merah besar yang tak hancur digiling.

Rendangnya. Duh. Tidak kering sempurna dan menghitam, tapi juga tidak terlalu basah seperti kalio. Di tengah-tengahnya lebih tepat. Rasa rendangnya, mirip seperti rendang restoran padang di Bukit Tinggi, hanya saja rasa rempahnya tidak sekaya di tanah Minang. Bumbunya tertakar dengan seimbang, tidak berlebihan dalam santan dan garam yang membuat harmonisasi antara gurih, pedas, asin, sedikit aroma gosong kelapa, bercampur dengan sempurna.

"Ah, enggak. Karena berani bumbu aja," kata Mpok Elly merendah dibilang sangat jago memasak.

Ya, Mpok Elly asli betawi. Entah dari mana dia bisa memasak berbagai menu nusantara, dan semuanya enak.

"Karena udah biasa masak aja dari dulu."

Dari dulu yang entah kapan. Mpok Elly enggan menceritakan lebih dalam tentang dari mana keahlian memasak makanan nusantara itu datang.

Yang ia ceritakan hanyalah dirinya cuma sebagai OB di kantor KOI, lantai 18. Tempat Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari berkantor. Okto sendiri yang meminta langsung Mpok Elly untuk ikut ke pesta olahraga multicabang di luar negeri, untuk memberikan masakan terbaik bagi para atlet yang berjuang jauh dari rumah.

"Saya berdua sama Mas Puji, Pujianto. Sama, di lantai 18 juga."

Mpok Elly menunjuk Puji yang baru datang ke dapur membawa bahan makanan mentah.

Tidak ada menu tetap yang dimasak Mpok Elly. Ia hanya berkreasi dari apa yang disediakan di lemari es, yang semua bahan makanannya berasal dari Bangkok. Seperti kompetisi memasak Master Chef. Mpok Elly hanya tertawa dirinya disandingkan dengan Master Chef.

Setiap kali saya menyantap masakan Mpok Elly di Rumah Indonesia, tidak pernah tidak nambah. Kali kedua saya makan di Rumah Indonesia, menunya bebek goreng yang level empuk dagingnya sama seperti Bebek Kaleyo. Lalu bakwan jagung, dan tahu goreng lengkap dengan sambal. Nambah lagi tentu saja.

Ketiga kalinya, menunya nasi liwet yang seimbang antara rasa gurih santan, asin dari teri, dan secuil sentuhan pedas dari irisan cabai rawit merah. Lauknya ada tumisan paru goreng, tumis cumi asin, sayur asem, serta sambal bawang. Lagi-lagi saya nambah.

Paru yang sudah digoreng dipotong dadu, lalu ditumis bersama bawang dan cabai kering, cumi asinnya ditumis hampir sama, hanya lebih basah karena ada tambahan tomat merah. Bukan cuma saya kok yang nambah jika makan masakan Mpok Elly.

Basral Graito Hutomo, sang juara skateboard street putra SEA Games 2025 Thailand juga menikmati masakan Mpok Elly. Apalagi, Basral dan tim pelatanas skateboard Indonesia belum pulang ke Indonesia lebih dari satu bulan setelah menjalani program latihan di Australia dan Jepang, yang langsung terbang ke Thailand.

Pergi ke Thailand dan mencicipi boga mereka, semakin meyakinkan bahwa rendang itu memang benar-benar makanan terenak nomor satu di dunia.

Baca juga: Thailand tawarkan wisata kuliner jelang SEA Games
Baca juga: Mencicipi sate buaya hingga "fish therapy" di Pattaya Floating Market Thailand

Pewarta: Aditya Ramadhan

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025