Depok, 9/3 (Antara) - Musim kemarau tahun ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan tiba lebih cepat sekitar 10 hari hingga satu bulan, dari prakiraan normal yang biasa terjadi bulan Juni, terutama di beberapa wilayah di Indonesia.

"Ada beberapa daerah yang kemaraunya lebih dulu dibandingkan kebiasaannya, diikuti dengan sifat curah hujan yang di bawah normal. Kami memperkirakan, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada April dan Mei 2013, akibat pemanasan global," kata Kepala BMKG Sri Woro.

Daerah-daerah itu mengalami kemajuan musim kemarau pertama kali dalam 30 tahun terakhir (1981-2010). Wilayah itu antara lain Gunung Kidul bagian utara dan Wonogiri bagian barat. Bila biasanya kemarau dimulai bulan Mei, tahun ini kemarau di daerah tersebut akan berawal akhir April.

Wilayah lain adalah Sukabumi bagian utara Kupang bagian utara dan Belu bagian barat akan memasuki kemarau awal Mei. Sementara, daerah Kampar bagian tenggara, Pekanbaru bagian selatan, Singingi bagian tengah dan timur, Indragiri Hulu, Palewalan bagian tengah dan barat serta Lampung Selatan bagian selatan, memasuki kemarau pada akhir Mei 2013.

Daerah Maluku Tenggara, Kota Tomohon/Minahasa utara bagian selatan, Minahasa bagian tengah dan selatan, Minahasa tenggara bagian utara dan Bolaang Mongondow bagian timur, diperkirakan mulai memasuki kemarau pada pertengahan dan akhir  Juni 2013.

Bahkan, kara Sri Woro, ada beberapa daerah di 15 zona musim yang akan mengalami kemarau lebih cepat lagi yakni mulai bulan Februari hingga Maret 2013.

"Prakiraan musim kemarau ini sangat dibutuhkan oleh Kementerian Pertanian agar ketahanan pangan tetap terjaga. Karena itu daerah-daerah ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan kalender tanamnya."

Wilayah yang tak disebutkan akan memasuki musim kemarau seperti biasanya. Hanya beberapa wilayah Indonesia timur akan mengalami keterlambatan karena penambahan curah hujan dari fenomena La Nina.      

Namun demikian, dia memperkirakan sifat hujan selama musim kemarau, akan normal sehingga usaha pertanian tidak mengalami hambatan. Prakiraan musim kemarau ini akan segera disosialisasikan kepada para petani.

BMKG, ikut meningkatkan pengetahuan dan teknologi pertanian, terutama terkait dengan perubahan cuaca dengan mengintensifkan pelaksanaan program Sekolah Lapang-Iklim bagi petani. "Melalui sekolah ini diharapkan petani lebih dapat membaca perubahan musim terhadap musim bertanamnya," ujarnya.

Selain itu, katanya, BMKG akan mempercepat penyampaian informasi dan prediksi cuaca serta pelatihan kepada petani agar mereka memahami informasi cuaca terkait dengan masa dan pola tanam.

Kepala BMKG menyebutkan, tidak berarti daerah-daerah yang perkiraan musim kemaraunya maju, periodenya lebih lama.  Masih perlu ada kajian tersendiri untuk menentukan akhir periode musim kemarau, agar data yang dihasilkan tingkat validitas cukup akurat.

Hanya saja dia mengingatkan, menghadapi masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya angin yang relatif kencang.

    
                 Langkah antisipasi

Menteri Pertanian Suswono menyebutkan, jika benar musim kemarau maju dari biasanya ini harus diantisipasi semaksimal mungkin agar para petani tidak gagal panen, dengan menyediakan pompa-pompa supaya yang sudah terlanjur menanam bisa mendapat cukup air serta bisa panen.

Dia juga mengungkapkan bahwa produksi beras selalu meningkat setiap tahun, rata-rata 3,2 persen dalam lima tahun. "Jadi pada tahun 2009 misalnya, kita sudah produksi sekitar 64 juta ton," katanya.

Sementara itu untuk mengantisipasi musimkemarau, Pemkab Katingan, Kalimantan Tengah, tahun ini akan membangun dam di sekitar jembatan Sungai Sala. Dengan adanya bendungan ini, kata Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Katingan, Hap Baperdo, meskipun kemarau panjang, Katingan tidak akan kekurangan air.

Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan dam sekitar Rp1,7 miliar berasal dari Dana Bagi Hasil dan Reboisasi (DBH-DR) dan ini diperbolehkan karena bendungan dibangun sebagai bagian konservasi alam, katanya. Setiap musim kemarau di sekitar jembatan Sunghai Sala terjadi pendangkalan lantaran tak ada bendungan sebagai penyangga keluarnya air di sungai tersebut.

Kondisi tersebut menurut dia, membuat masyarakat di sekitar jembatan itu sangat kesulitan air. "Dengan dibangunnya dam tersebut, saya yakin, ke depan  meskipun kemarau panjang tiba, masyarakat setempat tidak lagi kesulitan air seperti tahun-tahun sebelumnya."

Sementara itu di Jakarta, awal musim kemarau tahun ini diperkirakan mulai bulan April, padahal bisanya Mei. "Tetapi itu untuk wilayah Jakarta Utara dulu," kata Sri Woro. "Untuk wilayah Jakarta Selatan, Bogor dan sekitarnya musim kemarau akan datang bulan Mei."

Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian soal pangan, sehingga  urusan yang satu ini tidak perlu dikhawatirkan.

Woro juga menyebutkan, musim kemarau biasanya berlangsung selama enam bulan. Untuk  Jakarta, kemungkinan musim kemarau akan berakhir di bulan September. "Tetapi kemungkinan hujan tetap ada. Karena musim kemarau belum tentu tidak hujan. Sama seperti musim hujan, belum tentu tidak ada panas."

Namun demikian, kemarau tiba lebih awal ada hikmahnya. Warga Jakarta bisa sedikit bernapas lega karena ini berarti tak ada lagi ancaman banjir selama empat hingga enam bulan ke depan, kata Kepala Sub-Divisi Informasi Iklim Badan Meteorologi dan Geofisika Soekamto.

Di Sulawesi Selatan, jika tahun lalu musim kemarau dimulai awal hingga minggu kedua Mei, maka kali ini bisa maju 10 hingga 20 hari, kata  Kasubid Pelayanan Jasa BMKG Regional Makassar, Sujarwo.

Majunya musim kemarau, menurut dia, akibat adanya badai siklon tropis di selat Carventaria yang dikenal dengan badai Paul - berlokasi di sebelah timur Australia yang menggiring tekanan udara dari daratan Asia menuju Australia, melewati selat Makassar, laut Banda hingga laut Arafuru.

Meski demikian, ujarnya, musim kemarau hanya terjadi di wilayah Sulsel bagian barat saja yaitu Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkajene Kepulauan, Barru, Parepare, Wajo, Sidrap serta Pinrang.

Musim kemarau lebih awal ini  juga akan mempengaruhi siklus musim hujannya, padahal  kondisi curah hujan di Sulsel rata-rata di bawah normal.

Ada banyak dampak dari lebih cepatnya musim kemarau tiba, BMKG sudah menyampaikan prakiraannya, Kementerian Pertanian mestinya sudah mengambil langkah-langkah antisipasi, sehingga para petani bisa memulai musim tanamnya dengan tepat agar cadangan pangan tetap aman.

Ilustrasi: Antara/Marifka Wahyu Hidayat

 

Pewarta:

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2013