Bogor (Antara Megapolitan) - Pengendalian penyakit dan bakteri dalam masalah pertanian umumnya menggunakan pestisida yaitu bakterisida. Komposisi terbesar bakterisida adalah antibiotik. Sejak tahun 2015, FAO telah melarang penggunaan antibiotik di bidang pertanian baik tumbuhan maupun untuk ternak. Karena disinyalir menghasilkan residu yang dapat memicu resistensi bakteri.

Tidak hanya bakteri patogen pada tumbuhan tetapi juga pada hewan dan manusia. Implikasinya, jika dilarang maka bagaimana dengan pengendalian bakteri tersebut.

Empat orang peneliti yang terdiri dari Giyanto, Tri Asmira Damayanti, Kikin Hamzah Mutaqin, dan Syaiful Khoiri dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB mencoba menemukan bakteri yang dapat menjadi biopestisida alami.

''Bakteri patogen itu di alam memiliki musuh alami yang disebut dengan agen hayati. Mekanismenya banyak sekali, ada yang kompetisi dalam memperebutkan makanan dan ruang, ada yang antibiosis dengan menghasilkan senyawa antibiotik yang dapat membunuh. Ada juga mekanisme yang dalam penelitian saya ini dia tidak kompetisi dan tidak antibiosis tetapi dia mencegah bakteri patogen berbuat jahat,'' ujar Giyanto.

Kelompok bakteri sebagai patogen tumbuhan yang cukup penting, diantaranya adalah X. oryzae pv. oryzae, X. axonopodis pv. glycines, dan P. stewartii pv. stewartii. Ketiganya merupakan bakteri patogen kelompok Gram negatif.

Bakteri Gram negatif diketahui mengekspresikan sifat patogennya melalui sistem quorum sensing (QS) dengan menggunakan AHL sebagai molekul sinyal. Degradasi AHL dapat menyebabkan QS terhambat yaitu dengan menggunakan AHL-laktonase. AHL-laktonase diketahui dihasilkan oleh beberapa strain bakteri.

''Bakteri patogen kalau mau menyerang tanaman itu pakai signal, dia masuk ke dalam tanaman sendirian itu sifat patogennya belum muncul. Ketika populasinya sudah penuh baru menyerang tanaman. Yang mengkomandoi yaitu signal yang namanya asiletithomoserinlakton. Senyawa ini selalu diproduksi saat sendirian atau bersama-sama. Begitu signal tersebut penuh maka dia masuk lagi ke dalam sel bakteri memberi komando ekspresi gen patogen. Bakteri pesaingnya dapat memanfaatkan signal itu sebagai makanannya, sehingga kalau bakteri patogen menghasilkan signal maka akan didegradasi oleh bakteri baik tersebut. Signalnya namanya AHL, bakteri baik ini memiliki enzim pemecahnya yaitu enzim laktonase,'' ungkap Giyanto.

Dari hasil penelitian yang dilakukan tim ini, diperoleh Empat isolat bakteri penghasil AHL-laktonase teridentifikasi sebagai Brevibacillus brevis (B37), Bacillus cereus (GG3 dan GG6), dan Bacillus thuringiensis (BT2). Isolat B37, GG3, dan BT2 mempunyai kemampuan kitinolitik.

Gen penyandi AHL-laktonase dari keempat isolat tersebut diketahui sebagai gen aiiA. Gen aiiA dari keempat isolat tersebut berhasil diisolasi, diklon dan disub-kloning pada E. coli. Isolasi gen aiiA penyandi AHL-laktonase berhasil dilakukan.

Ia menambahkan, laktonase tersebut dapat digunakan untuk mengganggu signal bakteri patogen, sehingga meskipun bakteri patogen ada di dalam tanaman tapi tidak bisa mengekspresikan sifat patogennya. Tidak bisa berkomunikasi karena komunikasinya dirusak oleh bakteri di sampingnya.

''Inilah yang kita jadikan alternatif mengendalikan penyakit tanaman, sehingga walaupun bakteri patogen tadi ada di lapangan tetapi tidak akan menimbulkan penyakit,'' tandasnya.(IR/Zul)

Pewarta: Humas IPB/Giyanto dan Tim

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017