Bogor (Antara Megapolitan) - Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar Seminar Nasional ''Dampak Kebakaran terhadap Ekosistem Gambut 2017''. Acara digelar di IPB International Convention Center, Bogor (25/10).

Ketua Panitia Penyelenggara,  Prof. Dr. Yanto Santosa menyampaikan seminar nasional ini digelar dalam rangka menghimpun, menelaah dan menyamakan pemahaman tentang jenis dan intensitas dampak kebakaran terhadap kondisi fisik/kimia/biotik lahan, keanekaragaman/ kelimpahan tumbuhan dan populasi satwa liar khususnya di ekosistem gambut.

Selain itu, menggali hasil-hasil penelitian terkait dampak kebakaran terhadap ekosistem gambut sebagai dasar untuk merumuskan masukan bagi pengambil kebijakan dalam pengelolaan ekosistem gambut Indonesia. Ada puluhan proseding penelitian terkait dampak kebakaran hutan yang disampaikan dalam seminar nasional ini.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Ir. Musdhalifah Machmud, MT menyampaikan dampak kebakaran tahun ini sudah menurun. Hal ini, terangnya, karena adanya pendekatan kemitraan yang dilakukan kepada  masyarakat sekitar.

Ia menambahkan pencegahan yang harus dilakukan adalah sebelum terjadinya kebakaran. Kebakaran biasa terjadi ketika musim kemarau tiba. Kebiasaan buruk masyarakat Indonesia adalah membuka hutan dengan cara murah.

Kebiasaan paling murah yang seringkali dilakukan adalah membuka hutan dengan cara membakar dengan korek api, membutuhkan waktu 5-10 menit. Untuk itu pemerintah melakukan upaya di antaranya membentuk sistem kelembagaan masyarakat secara permanen, dan membentuk sistem kemitraan dalam pencegahan kebakaran.

Melalui acara ini, Ir. Muzdalifah mengakui akan sangat terbantu. ''Akan banyak yang membuat analisis dari perguruan tinggi-perguruan tinggi terkait dampak kebakaran,'' ujarnya.

Lebih lanjut disampaikannya lahan yang seringkali rawan terhadap bahaya kebakaran adalah lahan yang tidak produktif, tidak dimanfaatkan. Di Indonesia ada sekira empat juta hektar lahan tidak produktif, lahan ini  rawan terhadap kepentingan masyarakat sekitar.

Tantangan besar lainnya adalah luas lahan Indonesia yang tidak seimbang. Indonesia terdiri dari dua pertiga lautan dan satu pertiga daratan atau hanya 33 persen yang dapat dimanfaatkan di daratan.

Dari 33 persen lahan tersebut harus dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang 50 persen masyarakatnya bekerja di sektor pertanian.

''Sehingga setiap jengkal lahan harus dimanfaatkan. Harus menciptakan lapangan pekerjaan untuk sekira 200 juta lebih rakyat Indonesia. Salah satu kekuatan daya saing Indonesia adalah kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri. Hal itu yang berdampak terhadap  peningkatan kesejahteraan rakyat'' imbuhnya. (dh).

Pewarta: Humas IPB

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017