Bogor (Antara Megapolitan) - Upaya pelestarian dan perlindungan pohon-pohon yang tersimpan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat menghadapi tantangan berat, salah satunya keberadaan rayap.

"Masalah utama yang kami hadapi di sini (Kebun Raya) adalah rayap," kata Kepala Subbagian Kerja sama dan Informasi Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor-LIPI Rosniati Apriani Risna, kepada Antara di Bogor, Rabu.

Risna menjelaskan PKT Kebun Raya Bogor-LIPI memiliki 600 spesimen yang berusia di atas 100 tahun, dan 3.000 spesimen di atas 50 tahun.

Total koleksi kebun raya tertua di Asia Tenggara tersebut hingga awal Januari tercatat sebanyak 12.531 spesimen nonanggrek yang terdiri atas 214 suku, 1.210 marga, dan 3.228 jenis tanaman. Sedangkan, koleksi anggrek Kebun Raya Bogor mencapai 9.682 spesimen, terdiri atas 589 jenis anggrek dari 106 marga.

Ia mengatakan PKT Kebun Raya Bogor-LIPI mempunyai beberapa perlakuan terhadap rayap. Ada yang menggunakan teknik pengumpan, agar rayap tidak menyerang pohon.

"Jadi rayapnya tidak lari ke pohon, tapi ke umpannya," ucapnya.

Teknik pengumpan ini dilakukan di beberapa tempat di area Kebun Raya Bogor, seperti di lokasi Astrid dinilai cukup efektif mencegah rayap menyerang pohon secara langsung.

"Jadi populasi rayap yang menyerang pohon jadi berkurang. Perlakuan ini sudah ada penelitiannya," tutur Risna.

Menurut Risna, pohon yang berayap merupakan peristiwa alami dan normal terjadi. Karena pohon memang makanan rayap, selain itu salah satu proses keseimbangan alam.

Perayapan juga terjadi di hutan, hanya saja pohon tumbang karena rayap tidak terlalu berisiko, populasi rayap terkendali oleh keseimbangan alam.

BERITA TERKAIT: Pohon Leci Tertua Kebun Raya Bogor Tumbang, Ini Penyebabnya (Video)

B
erbeda dengan Kebun Raya Bogor yang merupakan hutan buatan, berada di tengah kota, memerlukan intervensi atau campur tangan dari peneliti untuk menjaga keseimbangan alam, dan mengendalikan populasi rayap.

"Perlu ada campur tangan kita, kalau dibiarkan saja, semua pohon di sini bisa hancur karena rayap," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, intervensi yang dilakukan tidak serta merta membunuh langsung semua rayap. Karena walau peranan sebagai pengrusak, tetapi rayap juga sebagai dekomposit alami. Menjadi makanan bagi tanaman lainnya.

Campur tangan yang dilakukan dalam menjaga kesimbangan rayap di alam. Dengan umpan rayap, meracuni mereka, bukan racun sistemik. Tapi rancun yang akan menghambat pertumbuhan rayap satu siklus.

"Jadi ada siklus yang terputus, teknik meracuni ini membuat populasi rayap tidak efektif," tuturnya, mnejelaskan.

Risna menyebutkan sejak 2015 PKT Kebun Raya Bogor-LIPI telah memiliki alat untuk mengukur kesehatan pohon dari kekeroposan yang dapat terlihat dari luar. Alat tersebut bernama sonixtomografi, cara kerjanya sepertu USG.

"Penggunaannya cukup dengan memukur pohon tersebut, lalu alat akan bekerja dan menampilkan melalui layar komputer. Kita akan tahu apakah pohon sudah berlubang, berapa banyak lubangnya dan panjannya. Data ini kita teruskan kepada manajemen pohon, untuk dilakukan pemangkasan atau penebangan," paparnya.

Risna menambahkan perawatan pohon-pohon di Kebun Raya Bogor memakan biaya cukup besar, seperti untuk pemangkasan, penebangan, pemupukan, hingga pemeriksaan.

"Ada satu pohon yang posisinya miring, untuk meyanggahnya dipasang baja senilai Rp10 juta," kata Risna.

Pewarta: Laily Rahmawaty

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017