Lahan pertanian yang subur dan produktif sesungguhnya merupakan aset bernilai ekonomi tinggi.

Tanah subur bisa berasal dari sifat asal tanah tersebut dan dapat pula merupakan hasil proses panjang pengelolaan tanah yang dilakukan dari generasi ke generasi, sehingga bukan produk instan.

Lahan transmigrasi yang sekarang agak subur hingga subur, misalnya, semula merupakan lahan bukaan yang produktivitasnya rendah, yang kemudian meningkat setelah dikelola puluhan tahun melewati musim tanam berkali-kali.

Dengan demikian sawah irigasi teknis di Indonesia adalah juga warisan dari nenek moyang puluhan tahun silam. Begitu pula ladang-ladang nan subur di lahan kering.

Pola dinamika kesuburan tanah pertanian memang unik karena di setiap lokasi spesifik. Pada lahan bekas hutan yang subur umumnya tanah bukaan baru produktivitasnya tinggi, tetapi kemudian menurun jika tidak ditambahkan input pupuk organik dan anorganik dari luar.

Produktivitas lahan bukaan baru kembali meningkat setelah adanya tambahan pupuk dari luar yang diberikan pada musim-musim berikutnya.

Sebagian besar lahan bukaan baru memang sejak awal kurang subur karena lahan yang dibuka tergolong suboptimal. Lahan ini dengan budi daya yang baik, telaten dan dijaga tingkat kesuburannya, akan mempunyai produktivitas sedang hingga tinggi setelah belasan tahun pengelolaan dengan campur tangan manusia.

Percepatan peningkatan kesuburan dengan penerapan inovasi dan teknologi dapat memangkas waktu dari belasan tahun menjadi 2-3 tahun.

Pada konteks ini, hasil yang buruk di musim tanam pertama pada lahan suboptimal bukanlah sebuah kegagalan mutlak, tetapi sebuah proses mendapatkan informasi pembatas dan kendala pertumbuhan untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan demikian pembukaan lahan baru untuk food estate di Sumatera, Kalimantan, atau Nusa Tenggara, tidak bisa dipandang instan.

Dengan intervensi inovasi dan teknologi yang tidak lengkap, tidak mungkin dalam satu musim tanam atau satu tahun anggaran produktivitas lahan akan setara dengan lahan pertanian subur yang sudah stabil. Dibutuhkan waktu beberapa musim tanam hingga lahan menjadi stabil.


Lahan suboptimal

Akhir-akhir ini heboh berita tentang salah satu lokasi lahan food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang merupakan contoh lahan suboptimal yang dibuka untuk pertanian oleh pemerintah.

Tanah di lokasi tersebut tergolong tanah Spodosols, tanah didominasi pasir kuarsa, kadar sangat rendah, yang juga dikenal sebagai tanah yang kurang subur.

Ketika berupa hutan yang menghijau, tampilan vegetasi di atas Spodosols memang tampak seperti subur karena berada pada suatu ekosistem tertutup.

Tanah Spodosols yang berupa hutan sering disebut memiliki kesuburan semu. Umumnya Spodosols alami memiliki humus tipis di atas lapisan albic berwarna putih berupa pasir kuarsa yang tebal. Ketika dibuka untuk pertanian, lapisan humus segera hilang, sehingga yang tersisa hanya lapisan pasir kuarsa yang miskin hara.

Meskipun pasir memiliki porositas tinggi, tetapi pasir tersebut umumnya berada di atas lapisan batuan pasir yang keras serta menempati cekungan, sehingga ketika hujan, air tergenang pada lokasi-lokasi tertentu.

Spodosols untuk pertanian membutuhkan inovasi dan teknologi agar produktivitasnya meningkat. Kajian dari Kementerian Pertanian, lokasi itu berada pada hamparan dengan ketinggian sekitar 200 mdpl.

Bentuk wilayah, berombak sampai bergelombang dengan lereng sekitar 15 persen, jenis tanah Spodosol dengan tekstur tanah pasir. Tanah memiliki reaksi tanah agak masam dengan pH 5,5 – 6,0.

Tanah memiliki solum sedang yang berada pada curah hujan 3.991 mm/tahun yang tersebar hampir merata sepanjang tahun.

Secara umum, tanah-tanah pada lokasi tersebut sangat peka terhadap erosi. Kapasitas infiltrasi tanah sangat lambat, hanya 1 cm per jam. Dua hari setelah hujan saluran air tetap penuh.

Pada pembukaan lahan pertama, Kementerian Pertahanan menanam singkong. Pada musim tanam berikutnya Kementerian Pertahanan menggandeng Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Lima inovasi dan teknologi yang diberikan berupa penataan lahan, ameliorasi, budi daya jagung, pemupukan, dan tata air.

Penataan lahan yang dilakukan adalah penyiapan lahan dan media tanam. Ameliorasi yang dipilih adalah penambahan tanah mineral, bahan organik, dan pembenah tanah.

Penambahan tanah mineral menjadi kunci ameliorasi agar tanah setempat diperbaiki teksturnya karena adanya dominasi pasir.

Tanah yang baik idealnya memiliki proporsi pasir, debu, dan liat yang seimbang. Berikutnya pemupukan sumber N, hara NPK majemuk, hara makro sekunder, dan hara mikro dibutuhkan untuk memasok hara.

Budi daya jagung dipilih karena jagung sangat respons terhadap budi daya dengan pengelolaan hara, selain berumur pendek (110-115 HST) terhadap perubahan perbaikan lahan.

Jagung dikelola dengan sistem pengelolaan tanaman terstandar. Terakhir, dilakukan pengaturan tata air dengan irigasi hemat air dan fertigasi.

Kini, setelah inovasi dan teknologi diterapkan, lahan yang semula gersang perlahan berubah menghijau oleh jagung yang tumbuh optimal. Pertumbuhan jagung menjadi indikator kesuburan tanah meningkat.

Lahan akan terus membaik jika inovasi dan teknologi terus diterapkan dari musim ke musim. Tentu lahan yang semakin subur harus dijaga dengan konservasi tanah dan air agar investasi yang dibenamkan tidak hilang percuma akibat erosi. Tanah yang semakin subur juga jangan lagi beralih menjadi lahan nonpertanian.

Inovasi dan teknologi telah tersedia, budi daya terstandar pun telah tersedia. Lahan-lahan yang kurang subur ataupun disebut suboptimal yang ada di Bumi Indonesia lainnya disesuaikan intervensinya agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.

Tentu, diperlukan upaya, biaya, dan konsistensi dalam penerapan dan pengawalannya.


*) Dr Ir Ladiyani Retno Widowati, MSc adalah Kepala BSIP Tanah dan Pupuk, Kementan dan Dr Destika Cahyana, SP, MSc adalah Peneliti BRIN

Pewarta: Dr Ir Ladiyani Retno W, MSc dan Dr Destika C., SP,

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023