Bogor (Antara Megapolitan) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan layanan berbasis teknologi informasi "Indonesia Biodiversity Information Facility" atau InaBIF sebagai sistem informasi keanekaragaman hayati nasional di Pusat Penelitian Biologi Cibinong Science Center Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramalia Prijono menyebutkan data menjadi penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati (kehati) dan pengambilan kebijakan dalam upaya melindungi keragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

"Yang menjadi kendala, kita tidak tahu berapa kekayaan yang kita miliki dan bagaimana memanfaatkannya. Walau begitu, dunia mengenal kita sebagai negara dengan kekayaan hayati terbesar kedua di dunia," kata Siti.

Menurut Siti, sangat penting mengumpulkan data dalam satu sistem. LIPI berkomitmen dengan kehati yang dimiliki sehingga mengumpulkan data sebanyak mungkin dari penjuru pelosok Indonesia yang kini tersimpan di Herbarium dan Zoologi yang ada di bawah LIPI.

"Kalau LIPI tidak berkomitmen, apa yang terjadi dengan koleksi kehati ini, akan hancur dan tidak terawat," katanya.

Siti menekankan InaBIF selain menjadi media informasi, pendidikaan, penyadartahuan, juga bisa menentukan bagi pengambil kebijakan dalam upaya pelestarian flora dan fauna Indonesia.

"Peluncuran ini menjadi momen Peringatan Hari Cinta Puspa tanggal 5 November 2016, diharapkan InaBIF bisa bermanfaat untuk pengelolaan sumberdaya alam Indonesia," katanya.

InaBIF diluncurkan secara resmi oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, LIPI, Enny Sudarmonowati, disaksikan Kapuslit Biologi, Witjaksono dan tamu undangaan.

Enny mengatakan, InaBIF terhubung dengan Global Biodiversity Information Facility (GBIF) dan menjadi wakil dari Indonesia dalam menghimpun data Kehati nasional.

Ia menyebutkann tujuan adanya InaBIF untuk mengembangkan dan membangun informasi ilmiah tentang Kehati kepada masyarakat luas serta menyediakan bahan-bahan untuk pembelajaran, penggunaan dan pemanfaatan Kehati Indonesia.

"InaBIF menjadi salah satu simpul yang menyediakan data Kehati Indonesia dari berbagai sumber data, baik berasal dari pusat depositori nasional, berbagai pustaka terkini, baik dari Pusat Penelitian Biologi ataupun institusi lainnya," kata dia.

Kemunculan InaBIF, lanjutnya, dilatarbelakangi dari perkembangan kekinian ilmu dan tuntutan keterbukaan informasi publik untuk kepentingan bersama, dan sesuai dengaan beberapa hal terkait Kehati yang dimandatkan dalam buku Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP), Konvensi Convention on Biological Diversity (CBD) dan lainnya.

"Kami mendorong agar InaBIF ini mudah diakses pengguna (user friendly), dan kaya dengan informasi terkini hasil peneliti Indonesia. Jangan sampai data canggih dan lengkap tapi tidak bisa diakses," katanya.

Enny menambahkan, InaBIF dapat menjadi fungsi pusat simpul, sebagai portal utama dari simpul-simpul anggota. Sistem InaBIF terhubung dengan simpul data yang ada di instansi terkait lainnya, universitas, LSM dan semua pihak yang memiliki data Kehati.

"Ini demi nasionalisme, semua bisa mengakses, dan mendambakan data yang lengkap. Tapi, data yang dimasukkan harus data lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Yang terpenting dengan adanya portal InaBIF bahwa keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia dapat dilindungi yang kemudian terangkum dalam skema CHM (clearing house mechanism), kata Enny menambahkan.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Witjaksono menambahkan, kemunculan InaBIF karena pendataan jumlah kekayaan Kehati saat ini belum terselesaikan mengingat jumlahnya yang sangat banyak dan bervariasi.

Kendati, sudah ada buku Kekinian Kehati Indonesia 2014, namun perkembangan data Kehati terus mengalami penambahan dan perlu diperbaharui.

"InaBIF menjadi solusi agar data Kehati Indonesia bisa terkumpul dan terbarukan dengan perkembangan terkini," katanya.

Puslit Biologi dan satuan kerja di kedeputian IPH telah mencoba memanfaatkan sistem ini dengan memasukkan (input) sebanyak 293.671 `record`, 255 `field`, 545 foto, 382 judul publikasi dan 24 buku berasal dari 25 node (simpul).

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016