Cisarua, Bogor (Antara Megapolitan) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo telah berkomitmen untuk membangun kembali dua kebun binatang.

"Yakni, Kebun Binatang Surakarta di Jawa Tengah, dan Kebun Binatang Bukit Tinggi di Sumatera Barat, yang dilakukan bekerja sama dengan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI)," katanya di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Dalam sambutan pada pembukaan konferensi tahunan Asosiasi Kebun Binatang se-Asia Tenggara (SEAZA) ke-24 tahun 2016, ia menegaskan bahwa komitmen Kepala Negara bagi pembangunan kembali dua kebun binatang itu adalah sebagai percontohan untuk mengelola lembaga konservasi satwa liar dengan standar yang benar.

"Kita berharap bahwa program revitalisasi terhadap dua kebun binatang itu dapat menjawab permasalahan dimaksud," katanya dalam sambutan yang dibacakan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK Bambang Dahono Adji.

Kegiatan bertema "Memperkaya Kehidupan, Memelihara Perilaku, Membentuk Masa Depan Kebun Binatang Kita" yang berlangsung empat hari (1-4/11) itu dihadiri wakil-wakil 21 negara, baik Asia Tenggara dan utusan negara lain seperti AS, Eropa, serta Taiwan dan Hong Kong.

Siti Nurbaya mengemukakan lembaga konservasi memainkan peran penting dalam memperkaya kehidupan -- tidak hanya satwa yang ada di dalamnya -- namun, juga jutaan pengunjung yang datang setiap tahun.

Di Indonesia, katanya, sekitar 20 juta orang mengunjungi lembaga konservasi per tahun.

Selain menyediakan sarana pendidikan dan pengalaman bagi pengunjung, menurut dia, kebun binatang, taman safari dan akuarium juga memberikan inspirasi dengan interaksi langsung bersama alam melalui satwa liar.

"Dengan kondisi saat ini, di mana kita semakin jauh dari alam, lembaga konservasi memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali dengan dengan alam," tuturnya.

Ia menambahkan lembaga konservasi di Indonesia memainkan peran sangat penting, di mana dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya, yakni 8.157 spesies vertebrata telah didistribusikan di 17.000 pulau yang membentuk kepulauan di Nusantara.

Karena itu, lembaga konservasi seperti kebun binatang, taman safari dan akuarium sangat penting dalam konservasi satwa liar "ex-situ" (di luar habitat alami) dna mendukung "in-situ" (di habitat alami).

Dalam kaitan itu, KLHK, PKBSI, Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Dunia (WAZA), Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Eropa (EAZA), Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium (AZA) dan Zoo and Aquarium Association (ZAA) telah mencanangkan program "global species management planning" (GSMP) untuk beberapa satwa yakni babirusa, anoa, banteng dan harimau sumatera.

Sementara itu, Ketua Umum PKBSI Rachmat Shah menyatakan salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati diupayakan melalui konservasi "ex-situ" juga merupakan benteng terakhir kepunahan satwa, selain juga sebagai tempat pembelajaran, rekreasi sehat, layak, mendidik dan terjangkau.

Di samping itu, juga sebagai ousat penelitian, serta peran dan fungsi lain yang bermanfaat untuk semua, terutama demi citra bangsa dan negara.

Saat ini, ada 53 kebun binatang di Indonesia yang telah menjadi anggota PKBSI, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Bahkan, saat ini kebun binatang yang telah memiliki izin/register di KLHK berjumlah 71 unit, yang kelak akan bergabung menjadi anggota PKBSI sehingga akan menjadi 124 anggota.

Pesatnya pertumbuhkan kebun binatang di Indonesia, kata dia, menunjukkan semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan sarana rekreasi yang sehat, mendidik, sekaligus dapat menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap flora dan fauna yang ada di dunia.

Namun, pada saat bersamaan pengelola diharapkan terus meningkatkan pemahaman mengenai perlakukan/pengelolaan terhadap satwa yang menjadi tanggung jawab bersama, demikian Rachmat Shah.

Pewarta: Andi Jauhari

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016