Pada Maret 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) merilis laporan terbaru terkait perubahan iklim yang menyebutkan bahwa temperatur global telah mencapai 1,1 derajat Celcius lebih tinggi dari tingkat pra-industri.

Hal ini mengakibatkan kondisi cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Gelombang panas yang lebih intens dan curah hujan yang lebih tinggi dapat mengakibatkan bencana dan mengancam ketersediaan pangan dan air yang dibutuhkan manusia. Akhirnya, kesehatan manusia dan ekosistem di Bumi pun terganggu.

Untuk menjaga temperatur global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, emisi gas rumah kaca perlu dikurangi secara masif, cepat, dan berkelanjutan di semua sektor.

Indonesia menargetkan pengurangan emisi karbon dioksida sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan 43,20 persen dengan bantuan internasional pada 2030 agar dapat mencapai target emisi nol karbon pada 2060.

Pembiayaan sebagai investasi untuk menjaga iklim Bumi perlu terus ditingkatkan. Di Indonesia, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah bersinergi untuk mendorong peningkatan penyaluran pembiayaan hijau.

Sinergi tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pendanaan untuk mencapai target pengurangan emisi karbon yang diperkirakan mencapai 281 miliar Dolar AS pada 2030. Hanya 34 persen dari pendanaan tersebut yang bisa dipenuhi oleh dana yang berasal dari publik atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bank Indonesia juga turut mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar menjadi UMKM hijau di tengah permintaan terhadap produk ramah lingkungan yang meningkat.

Menyambut berbagai relaksasi dari Bank Indonesia, dalam rangka menjaga keberlanjutan lingkungan, perbankan di Tanah Air juga telah mendorong penyaluran pembiayaan hijau.

Salah satunya PT Bank Mandiri Tbk yang per Maret 2023 telah menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor yang menerapkan prinsip keberlanjutan lingkungan, keseimbangan sosial dan tata kelola usaha yang baik (ESG) hingga Rp232 triliun atau tumbuh 11 persen secara tahunan.

Pembiayaan tersebut, antara lain disalurkan kepada UMKM, sektor pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, dan transportasi bersih, dan setara 25 persen dari portofolio perusahaan secara bank only.

OJK mencatat kredit dengan total senilai Rp728,9 triliun juga telah disalurkan sebagai pembiayaan hijau per April 2023 dimana senilai Rp1,28 triliun disalurkan sebagai pembiayaan kendaraan listrik dan Rp28,9 triliun disalurkan untuk membiayai proyek terkait energi baru dan terbarukan (EBT).

Ke depan, dengan dukungan dari Pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK yang semakin masif, penyaluran pembiayaan kepada sektor-sektor berkelanjutan diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini diharapkan dapat membuat Indonesia mencapai target Emisi Nol Karbon lebih cepat dari 2060.
 

Pewarta: Sanya Dinda Susanti

Editor : Budi Setiawanto


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023